Bahagia Sadar Kaya Karena Bisa Miskin

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3965
Kamis, 5 Dzulkaidah 1447

Bahagia Sadar Kaya Karena Bisa Miskin 
Saudaraku, dikisahkan bahwa suatu hari datang kafilah dagang milik Abdurrahman bin Auf ke Madinah. Kafilah itu sangat besar, dalam sebagian riwayat disebutkan terdiri dari 700 unta yang membawa berbagai barang dagangan. Suara gemuruhnya terdengar hingga ke rumah Aisyah. Beliau bertanya, “Apa ini?” Dijawab bahwa itu adalah kafilah milik Abdurrahman bin Auf. Lalu Aisyah berkata bahwa ia pernah mendengar Nabi Muhammad bersabda tentang Abdurrahman: “Aku melihat Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan merangkak.”
Ketika kabar ini sampai kepada Abdurrahman bin Auf, ia sangat tersentak. Ia memahami bahwa banyaknya harta bisa membuat hisab menjadi panjang. Maka ia berkata (dalam makna riwayat): “Aku ingin masuk surga dengan berjalan, bukan merangkak.” Sebagai bentuk kesadaran itu, ia pun menginfakkan kafilah tersebut di jalan Allah dengan segala yang dibawanya. 

Begitu di antara cerita dalam Musnad Ahmad karya Imam Ahmad bin Hanbal. Cerita ini merupakan gambaran seorang hamba yang sadar akan makna kekayaan: memiliki, tetapi tidak dimiliki. Sebagaimana muhasabah sebelumnya tentang waktu luang yang bisa tersia-sia, maka hari ini kita diajak menyadari dimensi lain kehidupan: kaya yang bisa menjadi miskin, atau sebaliknya miskin yang bisa berubah menjadi cukup bahkan berlebih.

Dalam hukum alam, kaya dan miskin bukan keadaan tetap. Ia datang tapi bisa pergi dan berganti. Hari ini seseorang memiliki, esok bisa kehilangan. Hari ini lapang, esok bisa sempit. Banyak yang merasa aman ketika memiliki harta, seolah ia adalah jaminan masa depan. Padahal, harta hanyalah titipan yang berputar, bisa hanya singgah saja.

Dan yang lebih halus lagi, ada dua ujian dalam satu waktu: Saat kaya kita diuji dengan kesyukuran dan kedermawanan.  Dan saat miskin, kita juga diuji dengan kesabaran dan keteguhan. Orang yang sadar akan kemungkinan menjadi kaya lalu miskin atau srkarang lalu menjadi kaya, tidak akan terperdaya oleh apapun keadaannya, baik saat kaya maupun miskin.

Ketika kaya, menjadi orang-orang yang tidak sombong, tidak menumpuk-numpuk harta tanpa peduli bagaimana cara mencarinya dan dari mana datangnya. Ia tahu bahwa harta bukan miliknya sepenuhnya, tapi ada hak orang lain di dalamnya. Maka ia akan menjaga kekayaannya bukan hanya dengan cara mengumpulkannya, tetapi dengan membelanjakannya ke jalan yang benar. Sebaliknya, ketika dalam keterbatasan hal harta, ia tidak putus asa dan tidak merasa hina. Karena ia tahu, keadaan bisa berubah. Dan nilai kesejatian dirinya tidak ditentukan oleh jumlah harta yang dimiliki, tetapi hatinya, takwanya.

Dikisahkan pula dari Umar bin Abdul Aziz, bahwa ketika beliau menjadi khalifah, ia justru mengembalikan banyak harta yang bukan haknya ke Baitul Mal. Hidupnya sederhana, padahal ia mampu hidup mewah. Kisah ini menunjukkan bahwa kekayaan sejati bukan pada banyaknya harta, tetapi pada kemampuan mengendalikannya.

Hari ini, kita layak bermuhasabah bertanya-tanya dalam diam. Apakah harta yang kini kita miliki sudah memvasilitasi kedekatan kita kepada Allah, atau justru melalaikan sebagai biang keladi yang meninabobokkan? Dan seandainya harta itu diambil olehNya - termasuk melalui zakat dan qurban -, apakah kita tetap tenang dan ridha atasnya? Jawaban atas pertanyaan ini hanya diri kita sendiri yang tahu, meski idealnya harta harus bisa memvadilitasi kita dalam meraih surga.

Ya, jadi hikmah kita merasa bahagia menyadari kaya sebelum jatuh miskin atau sebaliknya adalah pertama, melahirkan sikap syukur saat memiliki segalanya. Kekayaan tidak dianggap hasil semata, tetapi karunia yang harus dizyukuri, dijaga dan disalurkan.

Kedua, mendorong kedermawanan. Karena sadar harta bisa hilang percuma, maka sebaiknya ia digunakan sebelum kesempatan itu berlalu. Ya berbagi dan berbagi.

Ketiga, menumbuhkan kerendahan hati. Tidak merasa lebih tinggi dari yang lain, karena sadar keadaan bisa berubah kapan saja. Kita hanya benar-benar dipercaya sebagai tempat persinggahannya saja.

Keempat, melatih ketenangan saat kehilangan. Karena sejak awal telah sadar bahwa harta hanyalah titipan. Legowo bila diambil oleh pemiliknya.

Kelima, menjaga keseimbangan antara usaha dan ketergantungan kepada Allah. Berusaha secara maksimal, namun tidak bergantung pada harta, tetapi pada Zat yang  maha kaya, Allah ta'ala.

Keenam, memahami bahwa nilai manusia bukan pada apa yang dimilik. Tetapi pada bagaimana ia menggunakan apa yang ada padanya. Bila dititipi harta atau juga tahta, maka hanya di"belanjakan" pada jalan yang baik saja.

Pada akhirnya, bahagia itu hadir ketika kita sadar bahwa kaya bukan jaminan, bahwa miskin bukan akhir, dan bahwa keduanya adalah ujian. Maka yang terpenting bukan berada di mana kita hari ini, tetapi bagaimana kita bersikap dalam keadaan itu. Karena ketika hati tidak terikat pada harta maka dalam kaya kita bersyukur, dalam sempit kita bersabar, dan dalam segala keadaan, kita tetap tenang. Semoga

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama