Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3962
Sebin, 2 Dzulkaidah 1447
Bahagia Sadar Muda, tapi Akan Tua
Saudaraku dikisahkan dari Abdullah bin Abbas, bahwa Nabi Muhammad saw pernah menasihatinya di masa muda dengan penuh kasih sayang. Dalam salah satu hadis yang sangat masyhur, beliau bersabda: Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum fakirmu,waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.” (HR. al-Hakim, al-Baihaqi). Nasihat ini amat menggugah. Ia mengingatkan bahwa masa muda bukanlah kondisi yang abadi, tetapi fase yang akan berlalu.
Dan kisah dari Abdullah bin Mas'ud, bahwa beliau pernah berkata dengan penuh kesadaran: “Aku tidak pernah menyesali sesuatu seperti penyesalanku terhadap satu hari yang mataharinya telah terbenam, usiaku berkurang, tetapi amalku tidak bertambah.”
Kalimat ini lahir dari hati seorang sahabat yang sangat memahami hakikat waktu. Setiap hari bukan sekadar pergantian siang dan malam, tetapi berkurangnya umur mendekatkan manusia pada masa tua, bahkan pada akhir kehidupan.
Sebagaimana muhasabah sebelumnya Bahagia Sadar Hidup, tapi Ingat Mati, kita telah diajak menyadari bahwa hidup di dunia ini terbatas. Maka pada muhasabah hari ini, kesadaran itu dipersempit pada satu fase penting, masa muda yang suatu saat akan berubah menjadi tua.
Seringkali masa muda dipenuhi rasa kuat, penuh energi, dan seolah waktu masih panjang. Kita merasa bisa menunda, merasa masih sempat, merasa hidup masih jauh. Padahal, tanpa terasa, waktu berjalan diam-diam amat cepat. Perhatikanlah bagaimana yang dulu berlari, kini mulai melambat; yang dulu kuat, perlahan melemah; yang dulu penuh kesempatan, kini mulai terbatas. Yang dulu muda kini sudah menua.
Oleh karenanya menyadari bahwa kondisi muda akan menjadi tua. Ini tentu bukan untuk menyesali usia, tetapi untuk menghargai waktu. Karena hanya orang yang sadar akan hal ini saja tidak akan menyia-nyiakan masa mudanya, betusaha menggunakan energinya untuk kebaikan, mengisi waktunya dengan amal shalih.
Orang yang sadar akan hal ini tidak menunggu tua untuk berubah; tidak menunggu ubanan baru taubat, tidak menunggu lemah untuk mendekat kepada Allah. Karena ia tahu, yang ditanam saat muda, akan dipanen saat tua dan disempurnakan hasilnya di akhirat.
Lihatlah Abdullah bin Abbas, beliau sejak muda telah dikenal sebagai pencari ilmu yang tekun, mendatangi para sahabat senior, duduk di depan pintu mereka berjam-jam demi mendapatkan satu ilmu. Kesungguhannya di masa muda itulah yang menjadikannya lautan ilmu di masa tua.
Inilah pelajaran: masa muda yang disadari akan melahirkan masa tua yang penuh cahaya. Ya percikan lainnya pertama, kita akan lebih menghargai waktu sebelum terlambat. Kesadaran ini membuat kita tidak menunda kebaikan. Karena yang berlalu tidak akan kembali.
Kedua, kita dapat mengarahkan energi pada hal yang bernilai. Masa muda adalah puncak kekuatan. Jika digunakan untuk kebaikan, hasilnya akan panjang hingga masa tua.
Ketiga, kita menanam amal jangka panjang. Apa yang dibiasakan saat muda akan menjadi karakter saat tua. Jika sejak muda dekat dengan Allah, maka di usia lanjut akan terasa ringan dalam ibadah.
Keempat, kita terhindar dari penyesalan di masa tua. Banyak orang menyesal bukan karena kurang harta, tetapi karena menyia-nyiakan masa mudanya.
Kelima, dapat menumbuhkan kesadaran untuk bersiap. Menua bukan sekadar perubahan fisik, tetapi perjalanan menuju akhir kehidupan. Maka masa muda adalah waktu terbaik untuk mempersiapkan diri.
Mengapa semua ini penting. Ya, di antaranya untuk meraih bahagia. Karena bahagia itu hadir ketika kita sadar: kita memang sedang muda, tetapi kita sedang berjalan menuju tua. Atau kita sadar bahwa kita pernah muda kini sudah menua.
Dan dengan kesadaran itu, kita tidak lagi bermain-main dengan waktu, tetapi mengisinya dengan makna agar ketika tua atau smakin tua nanti datang, kita tidak hanya bertambah usia, tetapi juga bertambah kedekatan dengan Allah ta'ala. Aamiin
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3962