Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3967
Sabtu, 7 Dzulkaidah 1447
Bahagia SadarTahu, Tapi Terbatas
Saudaraku, dikisahkan dari kehidupan Imam Malik, seorang imam mazhab yang menjadi rujukan umat Islam dalam ilmu dan fikih. Suatu hari, seorang penanya datang dari jauh dan mengajukan puluhan pertanyaan. Orang-orang berharap beliau menjawab semuanya, mengingat keluasan ilmunya. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Karena untuk sebagian besar pertanyaan yang diajukan, beliau menjawab dengan tenang "saya tidak tahu.”
Murid-muridnya heran. Bukankah beliau seorang imam besar? Mengapa tidak menjawab semuanya? Beliau menjawab dengan penuh kebijaksanaan dengan mengatakan bahwa ‘tidak tahu’ itu adalah bagian dari ilmu.” Inilah pelajaran yang sangat dalam, bahwa ilmu bukan hanya tentang apa yang kita ketahui, tetapi juga tentang kesadaran akan apa yang tidak kita ketahui.
Ya kita benar-benar mengetahui (baca menyadari) justru terlampau banyak yang tidak kita ketahui. Coba kita celupkan jari kelingking ke air di damudra nan luas, lalu angkatlah jari itu. Bukankah hanya sedikit sekali air yang menempel di jari itu. Itula perumpaan apa yang kita ketahui dengan samudra luas pengetahuan yang tak kita ketahui. Lalu, apa masih tersisa kesombongan di hati? Na'udzubillah!
Sebagaimana muhasabah sebelumnya, Bahagia Sadar Berencana, namun Allah Penentunya, kita telah belajar bahwa manusia terbatas dalam menentukan hasil. Maka hari ini kita diajak menyadari keterbatasan yang lain yakni keterbatasan dalam mengetahui.
Mengapa hal ini perlu diingat kembali? Ya, karena dalam realita kehidupan ini, seringkali manusia merasa tahu. Sedikit pengalaman membuatnya yakin. Sedikit bacaan membuatnya percaya diri. Sedikit pemahaman membuatnya merasa cukup. Padahal, apa yang kita ketahui hanyalah air yang melekat di jari setelah kita celupkan dari samudera yang amat luas.
Orang yang tidak sadar batas ilmunya, mudah tergelincir: merasa paling benar sulit menerima nasihat dan cepat menghakimi. Namun orang yang sadar bahwa ilmunya terbatas, akan berbeda. Ia lebih hati-hati dalam berbicara, lebih terbuka dalam mendengar, lebih rendah hati dalam bersikap, tidak tergesa menyimpulkan, tidak mudah menyalahkan dan tidak ringan memutuskan tanpa dasar. Karena ia tahu, di balik apa yang ia pahami, masih banyak yang belum ia mengerti.
Dikisahkan pula dari Imam Syafi'i, bahwa beliau pernah berkata: "Pendapatku benar, tetapi mungkin salah. Pendapat orang lain salah, tetapi mungkin benar.” Ini bukan keraguan, tetapi kedewasaan dalam ilmu—menyadari bahwa kebenaran itu luas, dan manusia hanya menangkap sebagian darinya.
Adapun hikmah sadar tahu, tapi ada batasnya Pertama, melahirkan kerendahan hati dalam ilmu. Tidak merasa paling tahu, tidak merasa paling benar. Kedua, mendorong semangat belajar sepanjang hayat. Karena sadar bahwa ilmu tidak pernah selesai. Ketiga, menjaga lisan dari kesalahan Tidak mudah berbicara tanpa dasar yang kuat. Keempat, membuka ruang dialog dan saling menghargai Karena memahami bahwa perbedaan bisa lahir dari keterbatasan manusia.. Kelima, menghindarkan dari kesombongan intelektual. Ilmu tidak menjadi alat untuk meninggikan diri, tetapi untuk mendekat kepada Allah. Keenam, menghadirkan ketenangan dalam berpikir. Tidak gelisah untuk selalu benar, tetapi tenang untuk terus belajar.
Pada akhirnya, bahagia itu hadir ketika kita sadar: bahwa kita tahu, tetapi hanya sedikit saja tidak semuanya, bahwa kita memahami,
tetapi tidak sepenuhnya. Dan dengan kesadaran ini, kita memilih untuk terus belajar, terus memperbaiki, dan tetap rendah hati di hadapan ilmu yang tak berbatas. Karena sejatinya, semakin seseorang berilmu, semakin ia sadar betapa luasnya yang belum ia ketahui.
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3967