Bahagia Sadar Amanah Agar Tahu Menjaganya

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3970
Selasa, 10 Dzulkaidah 1447

Bahagia Sadar Amanah agar Tahu Menjaganya
Saudaraku, dikisahkan dari Nabi Muhammad saw tentang seorang laki-laki dari Bani Israil yang meminjam seribu dinar kepada orang lain. Pemberi pinjaman meminta saksi dan penjamin, namun ia berkata: "Cukuplah Allah sebagai saksi dan penjamin.”

Lalu si peminjam berjanji akan mengembalikannya pada waktu tertentu. Ketika tiba masa pengembalian, ia tidak menemukan perahu untuk menyeberang. Namun karena takut mengkhianati amanah, ia mengambil sepotong kayu, melubanginya, memasukkan uang tersebut ke dalamnya, lalu melemparkannya ke laut seraya berdoa agar Allah menyampaikannya. Dengan izin Allah, kayu itu sampai kepada alamat yang dikehendakinya. Ketika orang yang berutang akhirnya datang sendiri membawa uang pengganti, ternyata hutangnya telah sampai lebih dahulu.

Kisah ini diriwayatkan dalam hadis sahih (HR. Bukhari), dan menjadi pelajaran mulia tentang kesadaran menjaga amanah, bahkan ketika tidak ada manusia yang melihat. Sebagaimana muhasabah sebelumnya tentang kepemimpinan yang harus siap dipimpin maka hari ini kita masuk pada inti dari semua itu: amanah. 

Apalagi hidup ini sejatinya adalah rangkaian amanah. Ya amanah waktu, amanah ilmu, amanah harta, amanah keluarga, amanah jabatan, bahkan amanah terhadap diri sendiri. Namun seringkali manusia lupa. Ia memegang, tetapi tidak menjaganya, memiliki tapi tidak merasa itu titipan yang harus dijaga. Di sinilah pentingnya kesadaran bahwa setiap yang kita miliki bukan sepenuhnya milik kita, tetapi titipan yang akan dimintai pertanggungjawaban. 

Nah, menjadi orang yang sadar akan amanah, akan hidup berbeda. Ia tidak ceroboh dalam bertindak, tiidak ringan dalam berbicara, tidak sembarangan dalam mengambil keputusan. Karena ia tahu, setiap amanah akan ditanya. Ia menjaga bukan karena diawasi manusia, tetapi karena merasa diawasi oleh Allah. Ia jujur bukan karena takut pada hukum, tetapi karena takut mengkhianati kepercayaan.

Dan dikisahkan dari Umar bin Khattab, bahwa beliau pernah berkata: :Tidak ada Islam bagi orang yang tidak amanah.” Ini menunjukkan bahwa amanah bukan sekadar sifat tambahan, tetapi inti dari keimanan.

Oleh kerena itu, berbahagia sadar amanah agar kita tahu menjaganya membawa hikmah setidaknya Pertama, melahirkan rasa tanggung jawab yang tinggi. Setiap yang dipegang akan dijaga dengan sungguh-sungguh. Kedua, menumbuhkan kejujuran dalam segala keadaan. Baik terlihat maupun tidak, tetap konsisten dalam kebenaran. Ketiga, menjaga diri dari pengkhianatan. Karena sadar bahwa amanah adalah kepercayaan, bukan sekadar kesempatan. Keempat, meningkatkan kualitas diri dan kepemimpinan. Orang yang amanah akan dipercaya, dan kepercayaan adalah modal utama dalam kehidupan. Kelima, mendekatkan diri kepada Allah. Karena menjaga amanah adalah bentuk ketaatan yang sangat tinggi. Keenam, menghadirkan ketenangan batin. Hidup terasa ringan karena tidak dibebani oleh pengkhianatan.

Pada akhirnya, bahagia itu hadir ketika kita sadar bahwa kita sedang memegang amanah,
bukan sekadar menikmati titipan. Maka kita jaga, kita rawat, kita tunaikan dengan sebaik-baiknya. Karena sejatinya, yang akan kita bawa pulang bukan apa yang kita miliki tetapi bagaimana kita menjaga apa yang dititipkan. Semoga sadar amanah. Aamiin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama