Bahagia Ketika Lisan pun Terjaga

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3956
Selasa, 26 Syawal 1447

Bahagia Ketika Lisan pun Terjaga
Saudaraku, Nabi Muhammad saw pernah bersabda dengan penuh kelembutan: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini amat populis membawa pelajaran yang sangat agung, tidak menakut-nakuti, tetapi menuntun; tidak mengancam, tetapi mengarahkan. Nabi mengajarkan bahwa menjaga lisan adalah jalan menuju ketenangan. Bukan sekadar kewajiban yang membebani, tetapi menjadi kebutuhan ruhani, bahkan kelazatan iman.

Sebagaimana muhasabah sebelumnya, Bahagia Ketika Tangan Terjaga dengan air wudhu, kita telah belajar menjaga amal yang tampak. Maka hari ini, kita masuk ke wilayah yang lebih halus: menjaga lisan, yang seringkali tak disadari, namun dampaknya sangat luas.

Dan sebagaimana kita belajar menjaga diri melalui wudhu, maka wudhu sejatinya juga  menenangkan hati. Hati yang tenang melahirkan ucapan yang tenang dan benar. Dari sinilah lisan menjadi lebih terarah dan terjaga. Lisan yang terjaga hanya akan berkata yang baik. Jika tidak ada kebaikan dalam berkata-kata, maka sebaiknya memilih diam. Dan diam di sini bukan kekurangan kata, tetapi bentuk kebijaksanaan yang terpantul dari bersihnya hati.

Dalam atsar sahabat Abdullah bin Mas'ud berkata: “Tidak ada sesuatu yang lebih membutuhkan penjagaan yang lama daripada lisan.” Beliau memahami bahwa lisan sangat mudah tergelincir, namun sulit untuk ditarik kembali. Sekali kata terucap, ia bisa menetap di hati orang lain dalam waktu yang lama.

Dikisahkan pula dari Imam Malik, bahwa beliau dikenal sangat berhati-hati dalam berbicara. Ketika ditanya puluhan pertanyaan, seringkali beliau hanya menjawab sebagian kecil, dan untuk sisanya beliau mengatakan: “Saya tidak tahu.” Bagi beliau, mengatakan “tidak tahu” lebih ringan daripada berbicara tanpa ilmu. Ini adalah pelajaran besar: menjaga lisan bukan hanya dari keburukan, tetapi juga dari berbicara tanpa kepastian kebenarannya.

Demikian pula Imam Syafi'i pernah berpesan: “Jika engkau ingin berbicara, maka pikirkanlah. Jika jelas kebaikannya, ucapkanlah. Jika tidak, maka diamlah.” Inilah bentuk self control yang lahir dari kesadaran yang secara lahiriyah dimanifestasikan dalam kondisi suci, memiliki air wudhu 

Hari ini, kita bisa bertanya dalam hati: Dengan mengambil air wudhu dan menjaganya, apakah lisan atau mulut yang terus kita bersihkan dengan siwak dan kumur-kumur  lebih banyak membawa manfaat, atau sebaliknya? Apakah lisan kita menenangkan, atau justru menambah beban orang lain?

Ya, Islam memvasilitasi bahagia itu mudah yakni ketika lisan kita terjaga. Maka berwudhu dan menjaganya menjadi penting. Karena dengan punya wudhu, lisan seharusnya menjadi bersih, baik, menjaga hubungan sehingga menjadi hangat, hati menjadi lembut, dan hidup terasa damai membahagia.

Dan ketika lisan telah terlatih untuk berkata baik atau memilih diam, maka setiap kata menjadi cahaya, dan setiap diam menjadi kebijaksanaan yang menenangkan jiwa. Lisan yang terjaga hanya akan bertutur yang baik, terjaga dari kata-kata yang menyakiti, menahan diri dari ucapan sia-sia yang tidak bernilai. Lisan yang terjaga tidak menjadi sumber fitnah. Ia tidak menebar kabar yang belum pasti, tidak memperuncing perbedaan, tidak menyalakan api permusuhan. Lisan yang terjaga menjadi jembatan kebaikan mengajak kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, menenangkan hati yang gelisah, menguatkan jiwa yang lemah.

Dengan demikian di antara hikmah dari artikel ini bahwa orang-orang cerdas adalah orang yang dengan lisannya menjadikan ia dan sesamanya semakin dekat dengan Allah, sedangkan orang bodoh itu sebaliknya dengan lisannya menyebabkan ia dan sesamanya justru menjauh dari Nya.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama