Bahagia Ketika Kepala pun Terjaga

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3958
Kamis, 28 Syawal 1447

Bahagia Ketika Kepala pun Terjaga
Saudaraku,  Nabi Muhammad saw adalah figur teladan hidup bagi kehidupan yang bermartabat. Beliau sangat dalam saat berpikir dan merenung. Dalam banyak riwayat, ketika turun ayat tentang penciptaan langit dan bumi, beliau membacanya dengan penuh kekhusyukan, lalu merenung hingga meneteskan air mata. Beliau mengingatkan bahwa ayat-ayat itu bukan sekadar untuk dibaca, tetapi untuk dipikirkan: seperti saat turun ayat yang artinya “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi… terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali ‘Imran: 190), Nabi menangis saat merenungi maknanya, dan membayangkan bagaimana umatnya nanti. Inilah keteladanan Nabi: kepala yang terjaga, pikiran yang tajam, terarah selalu kembali kepada Allah.

Sebagaimana muhasabah sebelumnya, Bahagia Punya Self Control melalui Air Wudhu, kita telah belajar bahwa wudhu bukan hanya membersihkan anggota tubuh, tetapi juga menenangkan jiwa. Dari ketenangan itu lahir kendali diri. Dan hari ini, kita masuk ke ruang yang lebih dalam yakni menjaga kepala dan isi pikiran, karena saat wudhu kita juga membasuh kepala.

Orang yang wudhu dan senantiasa menjaganya, hatinya lebih jernih. Dari kejernihan hati lahir pikiran yang bersih. Ia tidak mudah dipenuhi prasangka, tidak mudah dikuasai oleh pikiran negatif, tidak larut dalam kecemasan yang berlebihan.

Kepala yang terjaga hanya akan memikirkan yang baik. Ia menolak pikiran yang merusak, yang menjauhkan dari kebenaran, yang menumbuhkan kebencian atau keputusasaan. Sebaliknya, ia sibuk dengan aktivitas yang bermakna: merenungi ayat-ayat Allah yang tertulis dalam Al-Qur’an, memikirkan tanda-tanda kebesaran-Nya yang terbentang di alam semesta, mpenggali hikmah dari setia peristiwa kehidupan  Dari sini, lahirlah kebijaksanaan. Dari sana, tumbuh kelembutan. Dari sana, terpancar rahmat untuk semesta.

Dikisahkan pula dari Hasan al-Basri, beliau berkata: “Seorang mukmin adalah penjaga pikirannya. Ia tidak membiarkan hatinya dipenuhi kecuali dengan yang bermanfaat baginya.” Ini adalah bentuk self control yang paling dalam bukan hanya menahan ucapan atau perbuatan, tetapi menjaga apa yang hadir dalam pikiran. Karena pikiran adalah awal dari segalanya. Apa yang kita pikirkan, akan kita rasakan. Apa yang kita rasakan, akan kita lakukan. Maka menjaga kepala berarti menjaga arah hidup.

Hari ini kita layak bertanya dalam muhasabah diri, apa yang paling sering memenuhi pikiran kita? Apakah ia mendekatkan kita kepada Allah, atau justru menjauhkan? Karena bahagia itu hadir ketika kepala terjaga. Ketika pikiran tidak liar, tetapi terarah. Ketika akal tidak dipenuhi kegelisahan, tetapi dipenuhi hikmah.

Dan ketika setiap renungan mengantarkan kita kepada kebesaran Allah, maka hidup tidak lagi sekadar dijalani, tetapi dipahami, disyukuri, dan dimaknai. Di sinilah kepala yang terjaga menjadi cahaya yang menerangi hati, menuntun langkah, dan menghadirkan rahmat bagi diri, keluarga, sesama dan semesta.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama