Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3961
Ahad, 1 Dzulkaidah 1447
Bahagia Saat Sadar Hidup, Tapi juga Ingat Mati
Saudaraku, kisah ini tentang diri Nabi Muhammad, ketika beliau duduk di dekat sebuah kubur yang baru saja ditutup. Beliau memandangnya dengan penuh penghayatan, lalu menundukkan kepala hingga para sahabat pun ikut larut dalam suasana haru. Air mata beliau menetes, dan beliau bersabda Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan: kematian.” (HR. Tirmidzi). Dalam riwayat lain, beliau juga mengajarkan agar seorang hamba “hidup di dunia seakan-akan sebagai orang asing atau seorang musafir.” yang tahu bahwa ia tidak akan lama tinggal.
Kisah ini, tentu bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk menyadarkan. Sebagaimana rangkaian muhasabah bulan sebelumnya, tentang self control melalui air wudhu, menjaga tangan, lisan, mata, telinga, hingga langkah kaki, semuanya bermuara pada satu titik yakni kesadaran. Dan kesadaran yang paling mendasar adalah kesadaran bahwa kita hidup, tetapi suatu saat pasti mati.
Seringkali kita menjalani hidup seolah-olah ia panjang tanpa batas. Kita menunda kebaikan, menumpuk banyak angan-angan dan rencana, mengejar dunia tanpa jeda. Kita merasa waktu selalu ada, kesempatan selalu menunggu. Ppadahal, setiap detik yang berlalu sejatinya adalah langkah mendekat, bukan menjauh dari kematian.
Ya, mengingat mati tentu bukan berarti kehilangan semangat hidup. Justru sebaliknya, ia menghadirkan makna dalam hidup. Orang yang sadar akan kematian tidak mudah menunda kebaikan, tidak ringan berbuat dosa, tidak larut dalam hal yang sia-sia. Ia sadar, setiap kata akan dipertanggungjawabkan. Setiap langkah akan dihitung. Setiap detik akan bernilai.
Kesadaran ini melahirkan ketenangan yang unik. Hidup tidak lagi dikejar dengan gelisah, tetapi dijalani dengan arah. Dunia tidak lagi menjadi tujuan akhir, tetapi menjadi jalan menuju kehidupan yang lebih kekal. Ada hikkmah sebagai pelajaran penting: “cukuplah kematian sebagai penasihat.” Kalimat ini sederhana, namun dalam. Karena siapa yang benar-benar mengingat mati, hidupnya akan terarah dengan sendirinya.
Hari ini, kita bermuhasabah bertanya dalam diam: Jika hari ini adalah hari terakhir kita, apa yang akan kita sesali? Dan apa yang seharusnya kita lakukan sejak sekarang? Ini penting untuk melahirkan rasa bahagia. Karena bahagia itu hadir ketika kita sadar. Sadar bahwa hidup ini bukan selamanya. Sadar bahwa waktu ini amanah. Sadar bahwa kita sedang berjalan menuju sebuah perjumpaan.
Dan ketika kesadaran itu benar-benar hidup dalam hati, maka setiap detik menjadi berharga, setiap amal menjadi bermakna, dan setiap langkah menjadi lebih dekat kepada-Nya. Karena sejatinya, bukan kematian yang menakutkan tetapi hidup tanpa kesadaran akan kematian.
Kesadaran akan kematian bukan untuk melemahkan langkah, tetapi untuk meluruskan arah hidup. Ia seperti kompas batin—yang membuat kita tidak tersesat dalam hiruk-pikuk dunia.
Ada beberapa hikmah mendalam yang bisa dipetik dari kesadaran bahwa kita hidup, tapi juga ingat mati: Pertama, melahirkan kesungguhan dalam beramal. Orang yang ingat mati tidak mudah menunda kebaikan. Ia sadar bahwa kesempatan tidak selalu datang dua kali. Maka setiap waktu menjadi berharga, setiap peluang menjadi ladang pahala.
Kedua, menumbuhkan keikhlasan. Ketika sadar bahwa semua akan ditinggalkan, maka pujian manusia menjadi kecil. Yang dicari bukan lagi pengakuan, tetapi keridhaan Allah. Amal tidak lagi untuk dilihat, tetapi untuk dipersembahkan.
Ketiga, menjadikan hati lebih tenang. Banyak kegelisahan lahir karena merasa dunia adalah segalanya. Namun ketika kematian diingat, dunia kembali pada posisinya: sementara. Maka kehilangan tidak lagi terlalu menyakitkan, dan kegagalan tidak lagi menghancurkan.
Keempat, mendorong sesegera mungkin untuk taubat yang tulus. Orang yang sadar akan kematian tidak akan nyaman berlama lama dalam dosa. Ia segera kembali, memperbaiki, dan memohon ampun karena ia tahu waktunya terbatas.
Kelima, melahirkan sikap bijak dalam menjalani hidup. Ia tidak mudah marah, tidak mudah iri, tidak mudah sombong. Karena ia tahu, semua manusia sedang berjalan menuju akhir yang sama.
Keenam, menghidupkan rasa rindu kepada perjumpaan dengan Allah. Kematian tidak lagi dilihat sebagai akhir yang menakutkan, tetapi sebagai gerbang menuju pertemuan dengan Sang Pencipta.
Dan pada akhirnya, mengingat mati bukan membuat hidup menjadi suram, tetapi justru membuat hidup menjadi lebih terang. Ia membersihkan niat, menenangkan hati, dan memuliakan langkah. Maka bahagia itu hadir ketika kita sadar, kkita memang hidup hari ini,
tetapi kita tidak akan selamanya di sini. Dan dengan kesadaran itu, kita memilih untuk hidup lebih benar, lebih tulus, dan lebih bermakna sebelum tiba saat kembali. Aamiin
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3961