Bahagia Ketika Mata pun Terjaga

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3957
Rabu, 27 Syawal 1447

Bahagia Ketika Mata pun Terjaga
Saudaraku, diceritakan saat Nabi Muhammad saw menasihati Ali bin Abi Talib tentang menahan pandangan. Beliau bersabda: “Wahai Ali, janganlah engkau mengikuti satu pandangan dengan pandangan berikutnya. Bagimu yang pertama, tetapi tidak untuk yang kedua.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi). Nasihat ini begitu santun dan dalam. Pandangan pertama bisa jadi tak disengaja, tetapi pandangan berikutnya adalah pilihan dan di situlah self control diuji.

Sebagaimana muhasabah sebelumnya, Bahagia Punya Self Control melalui Air Wudhu, kita telah belajar bahwa wudhu bukan hanya membersihkan, tetapi juga menenangkan dan mengendalikan diri. Maka hari ini, kita melihat buah dari menjaga air wudhu yakni mata pun terjaga.

Secara batin, orang yang menjaga wudhunya, hatinya lebih tenang. Dari ketenangan ini memvasilitasi lahirnya kehati-hatian. Dari kehati-hatian itu, mata tidak lagi liar, tidak jelalatan melihat apa saja, tetapi mulai memilih apa yang layak dipandang dan mana yang tidak.

Mata yang terjaga hanya digunakan untuk melihat yang baik-baik. Ia tidak digunakan untuk mencari-cari yang haram, tidak untuk menikmati hal-hal yang melalaikan, dan tidak larut dalam hal-hal yang menjauhkan dirinya dari Allah. Ia sadar, bahwa setiap pandangan menengaruhi dan meninggalkan jejak di hati. Dan mata yang tidak terjaga bisa mengeruhkan hati. Namun sebaliknya mata yang terjaga akan meneranginya.

Mata yang terjaga juga bukan sekadar menahan diri dari yang buruk, tetapi aktif mencari yang baik: memperhatikan ayat-ayat Allah yang tertulis dalam Al-Qur’an, membaca tanda-tanda kebesaran-Nya di alam semesta, memperhatikan kehidupan dengan penuh hikmah.

Dikisahkan pula dari Utsman bin Affan, bahwa beliau pernah berkata: “Tidaklah seseorang menyembunyikan sesuatu dalam hatinya, melainkan Allah akan menampakkannya pada raut wajah dan lirikan matanya.” ini menunjukkan bahwa mata adalah cermin hati. Jika hati bersih, pandangan pun bersih. Jika hati keruh, mata pun mudah tergelincir.

Para ulama juga mengingatkan bahwa menjaga pandangan adalah pintu awal menjaga hati. Apa yang masuk melalui mata, akan menetap dalam pikiran, lalu turun ke hati, dan akhirnya mempengaruhi tindakan. Maka menjaga mata sejatinya adalah menjaga diri secara keseluruhan.

Hari ini, mari kita bertanya dalam diri: Apa saja yang telah kita lihat selama ini? Apakah ia mendekatkan kita kepada Allah, atau justru menjauhkan? Sudahkah mata kita memvasilitasi bahagia. Karena di antara asbab bahagia itu hadir ketika mata terjaga. Karena dari mata yang terjaga, lahir hati yang bersih. Dari hati yang bersih, lahir hidup yang tenang membahagia. Dan ketika setiap pandangan telah dipilih dengan kesadaran, maka dunia tidak lagi menjadi godaan, tetapi menjadi ayat-ayat yang mengantarkan kita semakin dekat kepada-Nya.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama