Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3954
Ahad, 24 Syawal 1447
Bahagia Punya Self Control melalui Air Wudhu
Saudaraku dalam sebuah riwayat yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Muhammad saw bersabda: “Apabila seseorang di antara kalian marah dalam keadaan berdiri, maka hendaklah ia duduk. Jika belum hilang juga, maka hendaklah ia berbaring.” Dan dalam riwayat lain, beliau menuntun agar kemarahan itu dipadamkan dengan berwudhu, karena marah berasal dari api, sementara air memadamkan api. Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi saw bersabda:
“Sesungguhnya marah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api. Sesungguhnya api hanya dapat dipadamkan dengan air. Maka apabila salah seorang di antara kalian marah, hendaklah ia berwudhu.” (HR. Abu Dawud)
Saya rasa riwayat tersebut mengusung pelajaran yang yang maha dahsyat meski terasa halus namun, bahwa pengendalian diri (self control) bukan hanya soal kekuatan mental yang membaja saja, tetapi juga latihan spiritual yang nyata salah satunya melalui air wudhu.
Sebagaimana muhasabah sebelumnya, Bahagia Eling lan Waspada, kita telah diajak untuk selalu ingat dan berhati-hati dalam hidup. Maka pada muhasabah hari ini, kesadaran akan kehati-hatian dan kewaspadaan itu diwujudkan dalam bentuk yang lebih konkret yakni menjaga diri melalui air wudhu. Ya, seyogyanya kita dalam kondisi memiliki air wudhu, syukur-syukur dalam mayoritas waktu keseharian kita.
Dalam Islam, wudhu bukan sekadar syarat sah shalat saja, tetapi juga penjaga diri (selfcontrol). Air suci mensucikan yang dialirkan atau mengalir di tangan, wajah, kepala dan kaki, bukan hanya membersihkan debu kotoran lahiriyah, tetapi juga menyejukkan pikiran dan hati. Air yang menyentuh tangan, kepala dan kaki bukan hanya menghilangkan kotoran, tetapi juga mengingatkan agar tangan tidak berbuat dosa, agar kepala tidak berpikir yang negatif. Air yang membasuh kaki bukan sekadar ritual, tetapi penegasan agar langkah tidak salah arah, agar tidak menyepak atau menginjak sesamanya.
Di situlah air wudhu menjadi sarana self control. Orang-orang yang menjaga wudhunya, sejatinya sedang menjaga dirinya. Ia memvasilitasi kesejukan, membiasakan berhati-hati dalam lisan dan kata, karena lisannya telah “dibasuh” oleh kesadaran. Ia lebih tenang dalam menghadapi masalah, karena jiwanya selalu dalam keadaan tersambung dengan Allah.
Dalam kehidupan yang serba cepat dan penuh tekanan, manusia mudah terpancing emosi, amarah, ambisi, bahkan keputusasaan. Namun seorang hamba yang selalu menjaga wudhu, memiliki “rem” dalam dirinya. Ia tidak mudah meledak, tidak mudah tergelincir. Di sini wudhu menjadi perisai, wudhu menjadi penyejuk, wudhu menjadi penenang dan wudhu menjadi pengingat.
Hari ini, mari kita bertanya pada diri: Sudahkah kita menjadikan air wudhu sebagai bagian dari pengendalian diri, atau hanya sekadar rutinitas sebelum shalat? Beda antara orang-orang cerdas dan yang lalai bisa tercermin pada menjaga kebiasaan ini. Saat keluar dari kamar kecil, orang-orang cerdas akan mengakhiri aktivitas di kamar kecil atau kamar mandi dengan berwudhu, sedang yang lalai akan tetap tidak menghiraukannya. Orang-orang cerdas akan meninggalkan kamar kecil atau kamar mandi bersih seperti semula atau bahkan lebih bersih karenanya, sedangkan orang lalai akan membiarkan kotoran dan bau semakin terasa.
Nah, bahagia itu sederhana bukan, dengan meninggalkan jejak keshalihan di sana. Dan justru karena kita mampu mengendalikan diri, maka rasa bahagia menjadi nyata. Dan lebih indah lagi, ketika pengendalian itu lahir dari ibadah yang sederhana dengan air wudhu yang menetes, namun menenangkan jiwa. Karena pada akhirnya, bukan seberapa besar masalah yang kita hadapi, tetapi seberapa tenang kita menghadapinya. Dan air wudhu, dengan segala kesederhanaannya, adalah jalan murah dan mudah menuju ketenangan (kebahagiaan) itu.
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3955