Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3950
Rabu, 20 Syawal 1447
Bahagia Memeluk Hidayah
Saudaraku, jika pada muhasabah sebelumnya kita belajar untuk berikhtiar semampunya, berdoa selebihnya dan berserah diri sepenuhnya pada Allah, maka pada titik ini kita sampai pada satu kesadaran yang lebih dalam: bahwa di balik setiap ikhtiar, doa dan tawakal, ada satu anugerah terbesar yang menentukan segalanya yakni hidayah dari Allah. Karena tidak semua yang berusaha bisa mendapatkan, tidak semua yang berdoa mampu merasakan, dan tidak semua yang tahu kebenaran mampu menjalaninya.
Ya hidayah adalah cahaya yang dipeluk oleh hati yang dipilih. Ia anugerah yang tak ternilai. Allah berfirman: “Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada siapa yang engkau cintai, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki…” (QS. Al-Qashash: 56). Ayat ini menggetarkan jiwa: bahwa hidayah bukan semata hasil usaha, tetapi karunia Ilahi. Maka ketika kita masih bisa shalat, masih mau berdoa, masih rindu kepada kebaikan, itu bukan karena kita hebat, tetapi karena Allah masih berkenan memberi hidayah.
Nah ikhtiar adalah langkah kita, doa adalah harapan kita, dan tawakkal adalah penyerahan kita, namun hidayah adalah jawaban Allah. Ketika kita berikhtiar semampunya, berdoa sepenuh hati, dan bertawakkal dengan tulus
maka Allah membuka jalan yang sebelumnya tak terlihat. "Barang siapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Dia akan mencukupkan (keperluannya).” (QS. At-Talaq: 3). Dan kecukupan terbesar adalah petunjuk jalan yang benar.
Banyak orang tahu kebenaran, tetapi tidak menjalaninya. Banyak yang mengerti, tetapi tidak berubah. Inilah pentingnya hidayah. Karena hidayah bukan hanya tentang pengetahuan, tetapi tentang ketergerakan hati. Memeluk hidayah berarti mau berubah meski berat, mau meninggalkan yang salah meski sudah terbiasa, mau berjalan di jalan benar meski tidak populer
Maka hidayah yang harus xijaga, hidayah bukan hanya untuk diraih, tetapi juga untuk dipertahankan. Inilah mengapa Rasulullah saw sering berdoa: Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi). Bukankah hati itu mudah berubah; hari ini dekat, besok bisa jauh. Maka memeluk hidayah berarti menjaganya setiap saat.
Tanda-tanda orang yang memeluk hidayah, hatinya lembut terhadap kebenaran, mudah tersentuh oleh nasihat, tidak nyaman dalam kemaksiatan, selalu ingin memperbaiki diri, merasa kurang dalam amal, bukan bangga Allah berfirman: “Barang siapa yang Allah kehendaki untuk diberi petunjuk, niscaya Dia lapangkan dadanya untuk (menerima) Islam…”
(QS. Al-An’am: 125)
Dan termasuk lapangnya dada adalah tanda hidayah yang hidup. Maka kita seyogyanya pertama, menjaga ibadah wajib dengan sungguh-sungguh. Karena itu fondasi hidayah. Kedua, terus belajar dan mendekat kepada Al-Qur’an. Karena Al-Qur’an adalah sumber petunjuk. Ketiga, menjauhi lingkungan yang menjauhkan dari Allah. Karena hidayah bisa melemah karena lingkungan. Keempat, memperbanyak doa memohon hidayah.
Tidak ada yang lebih penting dari ini. Kelima, segera bertaubat saat tergelincir. Karena menjaga hidayah berarti cepat kembali.
Tidak ada kebahagiaan yang lebih besar daripada ketika hati menemukan jalannya. Dunia boleh berubah, keadaan boleh naik turun, tetapi selama hidayah masih dalam genggaman kita tidak akan tersesat. Bahagia bukan karena hidup tanpa masalah,
tetapi karena kita tahu ke mana harus kembali.
Jika sebelumnya kita belajar qana’ah (merasa cukup), dan tawakkal (berserah penuh), maka hidayah adalah arah yang menuntun semuanya. Dan ketika kita mampu memeluk hidayah, bukan hanya mengetahuinya, tetapi menjaganya, maka kita sedang berjalan menuju kebahagiaan yang hakiki: bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak tersesat. Ya Allah, jangan Engkau palingkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk. Jadikan kami hamba yang mampu memeluk dan menjaga hidayah-Mu hingga akhir hayat. Aamiin
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3950