Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3953
Sabtu, 23 Syawal 1447
Bahagia Eling lan Waspada
Saudaraku, dalam Hilyat al-Auliya’ karya Abu Nu'aym al-Isfahan menceritakan kehidupan Umar bin Khattab, seorang pemimpin besar yang dikenal tegas namun sangat takut kepada Allah. Pada suatu malam, beliau berjalan menyusuri kota Madinah, memastikan keadaan rakyatnya. Dalam keheningan itu, Umar berkata kepada dirinya sendiri, “Seandainya ada seekor keledai yang terperosok di Irak, aku khawatir Allah akan menanyakannya kepadaku, mengapa aku tidak meratakan jalan untuknya.”
Kalimat itu bukan sekadar ungkapan biasa, ia adalah cermin dari hati yang eling lan waspada, yang selalu ingat kepada Allah, dan selalu waspada terhadap amanah serta dosa, sekecil apapun ia. Sebagaimana muhasabah sebelumnya, Bahagia Hidup dalam Ibadah, kita telah sampai pada kesadaran bahwa seluruh aktivitas hidup kita bisa bernilai ibadah. Maka muhasabah hari ini melangkah lebih dalam lagi yakni bagaimana menjaga agar ibadah itu tetap hidup, tetap lurus, dan tidak tergelincir? Ya, jawabannya adalah eling lan waspada.
Eling itu ingat, ingat kepada Allah dalam setiap nafas kehidupan. Ingat bahwa kita selalu berada dalam pengawasan-Nya. Ingat bahwa hidup ini tidak pernah lepas dari catatan-Nya. Ingat bahwa suatu saat, perbuatan kita pasti akan diminta pertanggungjawabannya.
Adapun waspada adalah hati-hati. Hati-hati dalam niat, dalam ucapan, dalam keputusan, dalam langkah dan tindakan. Waspada terhadap riya’ yang halus, terhadap dosa yang tersembunyi, terhadap kelalaian yang perlahan menggerogoti keikhlasan.
Dslam masyarakat muslim, petuah eling lan waspodo itu sangat populis dan sangat dalam maknanya. Ia bukan sekadar nasihat budaya, tetapi mutiara hikmah yang selaras dengan ajaran Islam: hidup dalam kesadaran penuh akan Allah (muraqabah), dan kehati-hatian dalam menjalani kehidupan (muhasabah).
Seringkali kita sudah beribadah, tetapi lupa menjaga hati. Kita sudah berbuat baik, tetapi lalai dari niat tulus. Kita sibuk melakukan kebaikan besar, namun lengah terhadap kesalahan kecil yang terus berulang. Di sinilah pentingnya eling lan waspada. Ia menjaga ibadah agar tetap bernilai. Ia menjaga amal agar tetap ikhlas. Ia menjaga hati agar tetap hidup. Maka orang yang eling, tidak mudah lalai. Orang yang waspada, tidak mudah tergelincir.
Dan ketika keduanya menyatu, lahirlah ketenangan yang dalam. Hidup tidak lagi dijalani dengan gegabah, tetapi dengan kesadaran. Setiap langkah terasa bermakna, setiap keputusan terasa terarah. Maka hari ini, sudah semestinya kita bertanya dalam diam:
Sudahkah kita benar-benar ingat kepada Allah dalam setiap aktivitas kita? Sudahkah kita waspada terhadap hal-hal kecil yang bisa merusak amal kita?
Bahagia itu bukan hanya ketika kita banyak beribadah saja, tetapi ketika kita mampu menjaga ibadah itu tetap hidup dalam keikhlasan dan kehati-hatian. Karena pada akhirnya, bukan hanya amal yang akan dipertanyakan, tetapi juga niat di baliknya. Dan dalam sunyi yang paling dalam, eling lan waspada akan menjadi cahaya yang menuntun kita tetap berada di jalan-Nya, hingga langkah terakhir kehidupan.
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3953