Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3952
Jumat, 22 Syawal 1447
Bahagia Hidup dalam Ibadah
Saudaraku, diceritakan tentang Imam Ahmad bin Hanbal, seorang ulama yang hidupnya penuh ujian, namun juga penuh makna ibadah. Dalam satu riwayat, beliau tetap berusaha bekerja dan mencari nafkah dengan tangannya sendiri, meskipun kedudukannya sangat tinggi dalam ilmu. Ketika ditanya mengapa beliau masih bersusah payah, padahal banyak yang siap membantu, beliau menjawab dengan penuh keteguhan: “Aku ingin setiap yang masuk ke dalam tubuhku berasal dari usaha yang halal, agar ibadahku menjadi lebih bernilai di sisi Allah.”
Dalam kisah itu, kita belajar bahwa ibadah bukan hanya tentang apa yang dilakukan di sajadah, tetapi juga tentang bagaimana setiap gerak hidup yang diniatkan diarahkan kepada Allah.
Sebagaimana muhasabah sebelumnya, Bahagia Punya Skala Prioritas, kita telah menyadari bahwa Allah harus menjadi yang utama dalam hidup. Maka pada muhasabah hari ini, kesadaran itu diturunkan lebih dalam yakni hanya menempatkan Allah di puncak prioritas, dengan cara menjadikan seluruh aktivitas sebagai jalan menuju-Nya. Inilah hakikat hidup dalam ibadah.
Ibadah tidak lagi terbatas pada shalat, puasa, haji atau tilawah semata. Ia menjelma dalam setiap langkah: ketika belajar, saat mencari nafkah, bekerja dengan jujur, ketika menafkahi keluarga dengan niat yang lurus, ketika tersenyum kepada sesama, bahkan ketika menyingkirkan duri dari jalan. Semua ini menjadi ibadah jika hati menghadirkan Allah di dalamnya.
Betapa luasnya rahmat Allah. Ia tidak hanya menilai hasil besar, tetapi juga menghargai langkah kecil. Bahkan amal yang tampak sepele di mata manusia, bisa menjadi besar di sisi-Nya ketika dilakukan dengan niat yang tulus.
Seringkali kita menunda kebaikan karena merasa itu terlalu kecil. Kita menunggu waktu luang untuk beribadah, menunggu suasana khusyuk untuk berdzikir, menunggu kesempatan besar untuk berbuat baik. Padahal, hidup tidak menunggu. Yang kecil, jika terus dilakukan, akan menjadi besar. Yang sederhana, jika ikhlas, akan menjadi mulia. Maka, kita lakukan apa saja sekecil apapun asal ia bernilai ibadah.
Kita niatkan setiap aktivitas sebagai pengabdian. Mengubah rutinitas menjadi ladang pahala. Menjadikan lelah sebagai saksi kesungguhan cinta kepada Allah. Saat seperti inilah hidup terasa berbeda. Tidak ada lagi waktu yang sia-sia. Tidak ada lagi aktivitas yang kosong makna. Bahkan diam pun bisa bernilai ibadah, ketika ia dijaga dari h al yang tidak diridhai-Nya.
Dan di situlah letak kebahagiaan yang hakiki: ketika hidup tidak terpecah antara dunia dan akhirat, tetapi menyatu dalam satu tujuan mengabdi kepada Allah dalam setiap detik yang diberikan. Maka hari ini, kita melangkah dengan kesadaran baru: bahwa setiap yang kita lakukan adalah kesempatan untuk mendekat, setiap yang kita jalani adalah jalan menuju-Nya. Karena sesungguhnya, hidup yang paling bahagia bukanlah yang paling banyak memiliki, tetapi yang paling banyak bernilai ibadah. Dan ketika seluruh hidup telah menjadi ibadah, maka kita tidak hanya menjalani kehidupan, tetapi kita sedang menapaki jalan pulang dengan penuh kebahagiaan.
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3952