Bahagia Ketika Tangan pun Terjaga

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3955
Senin, 25 Syawal 1447

Bahagia Ketika Tangan pun Terjaga
Saudaraku, dalam sebuah riwayat dikisahkan dari Abu Bakar Ash-Shiddiq, bahwa beliau pernah memiliki seorang pembantu yang biasa memberinya makanan. Suatu hari, setelah memakan hidangan itu, Abu Bakar bertanya dari mana asalnya. Pembantunya menjawab bahwa makanan itu berasal dari hasil yang dahulu ia peroleh dengan cara yang tidak benar di masa jahiliyah. Seketika itu juga, Abu Bakar memasukkan tangannya ke dalam mulutnya dan memuntahkan seluruh makanan tersebut.

Abu Bakar memiliki seorang pembantu yang biasa memberikan hasil usahanya. Suatu hari ia membawa makanan, lalu Abu Bakar memakannya. Pembantu itu berkata: “Tahukah engkau dari mana ini? Dahulu aku pernah meramal untuk seseorang di masa jahiliyah, dan aku bukanlah peramal yang baik, hanya saja aku menipunya. Dari situlah aku mendapatkan ini.” Maka Abu Bakar segera memasukkan tangannya ke dalam mulutnya dan memuntahkan seluruh yang ada di perutnya. (HR. Bukhari)

Beliau berkata dengan penuh keteguhan: “Seandainya makanan ini tidak keluar kecuali bersama nyawaku, niscaya aku akan tetap mengeluarkannya.”

Kisah ini bukan sekadar tentang makanan, tetapi tentang bagaimana tangan terjaga, tidak sembarangan mengambil, tidak ringan menerima apalagi yang tidak jelas, dan sangat hati-hati terhadap yang halal dan haram.

Sebagaimana muhasabah sebelumnya, Bahagia Punya Self Control melalui Air Wudhu, kita telah belajar bahwa wudhu bukan hanya membersihkan fisik, tetapi juga menjadi sarana pengendalian diri. Maka pada muhasabah hari ini, kita melihat buah nyatanya yakni anggota tubuh yang terjaga, dan salah satu yang paling menentukan adalah tangan.

Dengan terus menjaga wudhu, tangan yang sudah dibasuh dengan air wudhu tidak lagi bebas tanpa kendali. Ia menjadi lebih sadar, lebih berhati-hati, lebih terikat pada nilai. Tangan yang terjaga dengan air wudhu hanya akan mengambil yang halal dan yang menjadi haknya. Ia tidak akan tergoda untuk meraih yang bukan miliknya, tidak pula ringan menyentuh sesuatu yang dilarang.

Tangan yang terjaga dengan air wudhu hanya akan digunakan untuk menolong, bukan menyakiti. Ia tidak akan mencubit, menampar, atau melukai sesama, karena ia sadar bahwa setiap gerakan akan dimintai pertanggungjawaban. Tangan yang terjaga dengan air wudhu lebih senang berada di atas, memberi, berbagi, meringankan beban bukan yang di bawah untuk meminta-minta, kecuali hanya kepada Allah Rabbuna, tempat bergantung segala doa.

Dan di zaman ini, tangan juga menjelma dalam bentuk lain: menulis, mengetik, dan menyebarkan berita. Maka tangan yang terjaga dengan air wudhu  tidak akan menuliskan keburukan, tidak akan menyebarkan kesia-siaan, apalagi ujaran kebencian yang melukai hati sesama. Tangan yang dibasuh air wudhu hanya memilih kata yang baik, membuat status dan menyebarkan pesan yang menenangkan. Ia menjadi perpanjangan dari hati yang bersih.

Betapa banyak kerusakan di dunia ini bermula dari tangan yang tidak terjaga. Dan betapa banyak kebaikan yang lahir dari tangan yang sederhana, namun penuh kesadaran. Maka hari ini, mari kita bertanya dalam hati: sudahkah tangan kita lebih banyak memberi daripada mengambil? Sudahkah ia lebih sering menolong daripada menyakiti? Sudahkah ia lebih banyak menulis kebaikan daripada menyebarkan keburukan?

Bahagia itu hadir ketika kita mampu menjaga diri bahkan pada hal yang paling dekat dengan kita: tangan kita sendiri.Karena tangan yang terjaga bukan hanya menyelamatkan orang lain, tetapi juga menyelamatkan diri kita di hadapan Allah. Dan ketika tangan telah bersih dalam perbuatan, ringan dalam memberi, dan hati-hati dalam bertindak di situlah hidup menjadi lebih tenang, lebih bermakna, dan lebih dekat dengan ridha-Nya.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama