Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3959
Jumat, 29 Syawal 1447
Bahagia Ketika Telinga pun Terjaga
Saudaraku, ada cerita dari Umar bin Khattab, seorang pemimpin yang dikenal tegas namun sangat peka hatinya, bahwa ada suatu masa, beliau pernah dikoreksi oleh seorang perempuan tentang kebijakan mahar. Alih-alih marah, Umar justru berhenti, mendengarkan dengan sungguh-sungguh, lalu berkata dengan rendah hati: “Perempuan itu benar, dan Umar yang keliru.” inilah teladan besar: kemuliaan seorang pemimpin bukan hanya pada apa yang ia ucapkan, tetapi pada apa yang ia dengarkan.
Sebagaimana muhasabah sebelumnya, Bahagia Punya Self Control melalui Air Wudhu, kita telah belajar bahwa wudhu menenangkan diri dan melatih pengendalian. Maka pada muhasabah hari ini, kita melihat salah satu buahnya yakni telinga yang terjaga. Karena saat wudhu kita selalu membasuhnya.
Orang yang senantiasa dalam keadaan suci punya air wudhu, hatinya lebih teduh. Dari keteduhan itu lahir kesabaran. Dari kesabaran itu, telinga tidak lagi sembrono menerima semua suara, tetapi mulai memilih apa yang layak dan patut didengar saja.
Telinga yang terjaga hanya akan mendengarkan yang baik-baik saja. Ia tidak tertarik pada bisikan keburukan, tidak menikmati ghibah apalagi fitnah dan hasutan adu domba, tidak larut dalam kabar lain yang berpotensi merusak hati.
Telinga yang terjaga juga menjadi sarana empati. Ia mau mendengar keluh kesah sesama, membuka ruang bagi aspirasi orang lain, terlebih bagi mereka yang berada di bawah tanggung jawab kepemimpinannya.
Mendengar bukan sekadar menangkap suara, tetapi menghadirkan hati. Telinga yang terjaga tidak suka menguping yang tidak perlu. Ia menjaga kehormatan orang lain dengan tidak mencari-cari apa yang seharusnya tidak didengar. Dan sebaliknya, ia mendekat kepada yang bernilai: mendengarkan ayat-ayat Allah yang dibacakan, menyimak nasihat yang menyejukkan, bahkan menangkap “suara semesta”, angin yang berhembus, hujan yang turun sebagai tanda kebesaran-Nya.
Dikisahkan juga dari Imam Malik, bahwa beliau dikenal lebih banyak mendengar daripada berbicara. Dalam majelisnya, beliau tidak tergesa menjawab, tetapi menyimak dengan penuh perhatian. Karena bagi beliau, mendengar dengan baik adalah bagian dari ilmu dan adab. Ini lah bentuk self control yang santun, menahan diri untuk tidak selalu berbicara, tetapi memberi ruang untuk mendengar.
Hari ini, seyogianya kita bertanya dalam hati: apa yang paling sering kita dengarkan? Apakah ia menenangkan hati, atau justru mengeruhkannya? Mendekatkan pada Ilahi atau justru melalaikanNya. Sudahkah kita menjadi pendengar yang baik bagi orang lain, atau hanya ingin didengar saja?
Mengapa pertanyaan ini penting? Ya, di antaranya bahagia itu hadir ketika telinga terjaga. Karena dari telinga yang terjaga, lahir hati yang lembut. Dari hati yang lembut, lahir sikap yang bijak. Dan ketika kita mampu memilih apa yang kita dengar, maka hidup tidak lagi dipenuhi kebisingan yang melelahkan, tetapi dipenuhi suara-suara kebaikan yang menenangkan jiwa.
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3859