Bahagia Berserah Diri

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3946
Selasa, 19 Syawal 1447

Bahagia Berserah Diri 
Saudaraku, setelah ikhtiar ditunaikan dengan segenap daya, dan doa dilangitkan dengan penuh asa, tibalah kita pada satu titik yang paling penting dalam beragama, yakni berserah diri sepenuhnya, bertawakal pada Allah. 

Tentu, tawakal atau berserah diri ini bukan berarti lemah, tetapi justru puncak kekuatan seorang hamba. Sebab tidak semua orang mampu melepaskan genggaman atas apa yang ia cinta, tidak semua hati sanggup menerima bahwa ada kuasa yang lebih besar dari segala rencana.

Seringkali kita gelisah bukan karena kurang usaha, tetapi karena terlalu ingin memastikan hasil. Memang kita ini siapa? Kita ingin semua berjalan sesuai kehendak kita. Kita ingin takdir tunduk pada rencana. Padahal hidup bukan tentang memaksa kenyataan, melainkan memahami bahwa ada kehendak yang jauh lebih bijaksana dari sekadar keinginan.

Di titik berserah diri, biasanya hati mulai belajar mengerti dalam diam. Bukan diam tanpa makna, tetapi diam yang penuh percaya. Percaya bahwa setiap yang terjadi adalah bagian dari skenario terbaik, meski tidak selalu terasa demikian di awal. Bukankah sering kita menyadari, bahwa apa yang dulu kita tolak dengan tangis, justru kemudian kita syukuri dengan senyuman? Dan apa yang dulu kita kejar mati-matian, ternyata tidak seindah yang kita bayangkan?

Berserah diri sepenuhnya adalah seni merelakan tanpa kehilangan harapan. Ia bukan tentang berhenti berdoa, tetapi justru memperdalam doa dengan keyakinan: “Ya Allah, jika ini baik bagiku, dekatkanlah. Jika tidak, maka palingkanlah dan cukupkan hatiku dengan ketetapan-Mu.” Dan di sanalah bahagia menemukan jalannya. Bahagia bukan lagi bergantung pada tercapainya keinginan, tetapi pada ketenangan menerima keputusan. Hati tidak lagi berisik oleh “seandainya”, tidak lagi lelah oleh “mengapa harus begini”. Yang tersisa hanyalah ketundukan yang damai.

Sungguh, hidup menjadi ringan ketika kita berhenti menjadi pengatur segalanya. Ketika kita sadar, tugas kita hanyalah berusaha dan berdoa sementara hasil adalah wilayah Ilahi yang penuh rahasia. Maka hari ini, mari kita belajar satu hal yang sederhana namun tidak mudah: melepaskan dengan ikhlas, menerima dengan lapang, dan percaya dengan sepenuh jiwa. Karena pada akhirnya, bukan apa yang kita genggam yang menentukan bahagia, tetapi apa yang kita relakan dengan ridha. Dan di situlah, kebahagiaan yang sejati diam, dalam, dan menenangkan bersemayam.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama