Bahagia Bisa Berikhtiar Seperlunya, Berdoa Selebihnya

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3945
Senin, 18 Syawal 1447

Bahagia Berikhtiar Semampunya, 
Berdoa Selebihnya
Saudaraku, jika pada muhasabah sebelumnya kita belajar menjadi lebih qana’ah, merasa cukup, menerima dengan lapang, dan tidak diperbudak oleh keinginan, maka kini kita menyempurnakannya dengan satu keseimbangan penting yakni berikhtiar semampunya, dan berdoa selebihnya. Karena qana’ah tanpa ikhtiar bisa menjadi kelemahan, dan ikhtiar tanpa doa bisa menjadi kesombongan.

Ikhtiar itu kewajiban dan tanggung jawab manusia. Allah menciptakan hidup ini dengan hukum sebab-akibat. Kita diperintahkan untuk berusaha, bergerak, dan berikhtiar. “Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39) inilah mengapa ikhtiar adalah bukti kesungguhan. Ia adalah bentuk tanggung jawab kita sebagai hamba. Namun di titik tertentu, kita akan sadar: usaha kita ada batasnya.

Adapun doa adalah pengakuan atas keterbatasan diri. Di sinilah doa mengambil peran. Doa bukan sekadar permintaan, tetapi pengakuan bahwa kita lemah, dan Allah Maha Kuasa. Allah berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan untukmu.” (QS. Ghafir: 60) Dan Rasulullah saw bersabda “Doa adalah ibadah.” (HR. Tirmidzi)

Ketika ikhtiar sudah maksimal, maka doa menjadi penyempurna. Inilah keseimbangan yang menenangkan. Berikhtiar semampunya membuat kita tidak malas. Berdoa selebihnya membuat kita tidak sombong. Dengan keseimbangan ini: kita bekerja tanpa putus asa, ita berharap tanpa berlebihan, kita menerima tanpa kecewa. Karena kita sadar: hasil bukan sepenuhnya milik kita, tetapi milik Allah.

Qana’ah membuat hati merasa cukup. Namun tawakkal membuat hati berserah sepenuhnya. Rasulullah saw bersabda: “Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki; ia pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi). Perhatikan: burung tetap terbang (ikhtiar), tetapi tidak pernah cemas (tawakkal).

Ketika hasil tidak sesuai harapan, di sinilah ujian sebenarnya. Kita sudah berusaha, sudah berdoa, tetapi hasilnya tidak sesuai keinginan. Maka ingatlah “Boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu…” (QS. Al-Baqarah: 216). Dan di sinilah qana’ah kembali menguatkan: menerima dengan lapang apa yang Allah tetapkan.

Dalam kehidupan kita sebaiknya. Pertama, bekerja dengan sungguh-sungguh.
Lakukan yang terbaik sesuai kemampuan. Kedua, tidak menunda usaha. Karena usaha adalah bagian dari ibadah. Ketiga, memperbanyak doa sebelum dan sesudah usaha. Memohon kemudahan dan keberkahan. Keempat, tidak terlalu cemas terhadap hasil. Karena hasil bukan sepenuhnya di tangan kita. Kelima, menerima hasil dengan lapang dada. Apa pun hasilnya, yakin itu yang terbaik.

Bahagia dalam keseimbangan, katena hidup ini bukan tentang mengendalikan segalanya,
tetapi tentang menjalani peran kita dengan sebaik-baiknya. Kita berikhtiar… karena itu tugas kita. Kita berdoa… karena itu kebutuhan kita. Kita bertawakkal… karena itu ketenangan kita.

Bahagia bukan ketika semua sesuai rencana,
tetapi ketika hati mampu berkata: “Aku sudah berusaha semampuku, dan aku serahkan sisanya kepada Allah.”

Jika qana’ah adalah rasa cukup, maka tawakkal adalah rasa percaya. Dan ketika keduanya bersatu, lahirlah ketenangan yang dalam: tidak lelah oleh usaha, tidak gelisah oleh hasil.

Bahagia bukan karena kita menguasai hasil, tetapi karena kita mempercayakan hasil kepada Allah. Ya Allah, ajarkan kami untuk berikhtiar dengan sungguh-sungguh, berdoa dengan penuh harap, dan bertawakkal dengan sepenuh hati.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama