Bahagia Bisa Qanaah

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3944
Ahad, 17 Syawal 1447

Bahagia Bisa Qana’ah
Saudaraku, jika pada muhasabah sebelumnya kita belajar menjadi lebih tahu diri, belajar menyadari keterbatasan, termasuk menerima fase kehidupan, dan menempatkan diri secara bijak, maka langkah berikutnya adalah buah dari kesadaran itu, yakni menjadi lebih qana’ah. Karena orang yang tahu dan sadar diri akan berhenti memaksa diri, dan orang yang berhenti memaksa diri akan mulai menerima dengan lapang hati. Di siniah qana’ah tumbuh.

Qana’ah bukan berarti tidak punya keinginan,
tetapi tidak diperbudak oleh keinginan. Qana’ah bukan berarti berhenti berusaha, tetapi tetap berusaha tanpa kehilangan rasa cukup. Rasulullah saw bersabda:“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kaya hati.” (HR. Bukhari dan Muslim). Maka qana’ah adalah kekayaan batin yang tidak bisa diukur dengan dunia.

Ketika banyak di antara kita menyadari bahwa: usia tidak lagi muda, tenaga tidak lagi sekuat dulu, dunia tidak selalu bisa kita genggam, maka perlahan hati berkata: Apa yang ada sudah memadai…” . Tentu, ini bukan karena menyerah, tetapi karena memahami bahwa yang terbaik adalah yang Allah berikan. Allah berfirman: “Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa batas.” (QS. Al-Baqarah: 212). Yang sedikit menurut kita, bisa jadi banyak menurut Allah. Yang kurang menurut kita, bisa jadi cukup menurut-Nya.

Ketika hati tidak lagi haus dunia, maka ketenangan hadir. Tidak lagi gelisah melihat milik orang lain. Tidak lagi resah mengejar yang belum tentu menjadi bagian kita. Rasulullah saw bersabda: “Beruntunglah orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya qana’ah dengan apa yang diberikan kepadanya.”(HR. Muslim). Inilah kebahagiaan yang sejati: cukup, tenang, dan penuh syukur.

Tanpa qana’ah, manusia akan terus merasa kurang: Sudah punya, ingin lebih. Sudah cukup, merasa kurang. Sudah berhasil, tetap gelisah. Padahal Rasulullah saw mengingatkan: Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, niscaya ia ingin memiliki dua lembah…” (HR. Bukhari dan Muslim). Inilah mengapa keinginan tanpa batas hanya akan melahirkan kelelahan tanpa akhir. Maka sebaiknya qanaah.

Qana’ah bukan berarti berhenti berusaha.
Justru qana’ah membuat usaha kita lebih tenang dan bersih dari keinginan berlebihan. Kita tetap bekerja, tetapi tidak serakah. Kita tetap berusaha, tetapi tidak gelisah. Kita tetap berikhtiar, tetapi tetap berserah. Maka pertama, kita haus mensyukuri apa yang dimiliki. Fokus pada nikmat, bukan kekurangan. Kedua, mengurangi perbandingan dengan orang lain. Karena setiap orang memiliki jalan hidupnya sendiri. Ketiga, hidup sederhana meski mampu lebih. Kesederhanaan adalah penjaga ketenangan. Keempat, memperbanyak sedekah. Karena memberi melatih hati untuk merasa cukup. Kelima, menerima hasil setelah berusaha. Tidak semua harus sesuai harapan kita.

Qana’ah adalah puncak dari perjalanan hati: dari keinginan menuju penerimaan, dari gelisah menuju ketenangan, dari merasa kurang menuju merasa cukup. Kita tidak lagi sibuk mengejar dunia, tetapi sibuk memperbaiki diri. Kita tidak lagi iri dengan apa yang tidak kita miliki, tetapi bersyukur atas apa yang sudah ada. Dan di situlah kebahagiaan sejati ditemukan: bukan pada banyaknya yang dimiliki, tetapi pada lapangnya hati dalam menerima.

Jika tahu diri adalah kesadaran, maka qana’ah adalah ketenangan. Dan bahagia bukan karena kita memiliki segalanya, tetapi karena kita merasa cukup dengan apa yang Allah berikan. Ya Allah, jadikanlah kami hamba yang qana’ah yang tidak silau oleh dunia dan selalu bersyukur atas setiap pemberian-Mu.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama