Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3934
Kamis, 7 Syawal 1447
Bahagia Bisa Mengantisipasi Musim Gugur
Saudaraku, bila Ramadhan telah memvasilitasi lahirnya ketakwaan, maka Syawal menjadi musim semi yang menumbuhkembangkan sehingga pohon ketakwaan yang menghasilkan. Bukan hanya rindang daunnya yang bisa menaungi, tetapi juga buah yang manis lezat bisa menghidupi. Demikianlah tamsilannya, bahwa perjalanan ruhani tidak berhenti dalam fase pertumbuhan, tetapi sampai fase mendatangkan manfaat bagi kehidupan. Dan inilah yang harus terus dijaga. Karena pohon takwa bisa saja rontok buahnya sebelum tua, daunnya bisa berguguran karena kurang disirami, ranting, dahan dan pohonnya bisa mengering karena kurang perawatan.
Coba bayangkan ketika musim gugur ketakwaan itu terjadi, maka puasa tidak lagi, shalat berjamaah mulai bolong-bolong, shalat sunat shalat malam tidak lagi, tilawah al-Qur'an sudah sangat jarang, berbagi tidak lagi, semangat ibadah melemah, dan hati perlahan menjauh dari Allah. Semuanya ditelan oleh rutinitas duniawiyah. Inilah ujian setelah Ramadhan; inilah ujian di bulan Syawal dan bulan-bulan berikutnya.
Padahal Allah sudah mewanti-wanti melalui firmanNya, “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai-berai kembali…” (QS. An-Nahl: 92). Ayat ini menjadi peringatan yang sangat halus namun dalam: jangan sampai apa yang telah kita bangun dengan susah payah di bulan Ramadhan, justru kita runtuhkan sendiri setelahnya.
Bila tanda-tanda berikut ini terjadi, berarti kita sedang mecerabuti benang demi benang atas kain ketaatan yang sudah kita tenun selama Ramadhan. Itu artinya kita sedang merusak atau merobohkan bangunan indah yang sudah kita dirikan. Dan inilah musim gugur ketakwaan yang sering tanpa disadari.
1. Shalat berjamaah mulai ditinggalkan.
2. Kalaupun shalat dikerjakan tergopoh-gopoh, dan selesai langsung beranjak pergi tanpa doa, tanpa dzikir
3. Shalat lail dan shalat sunat tidak lagi dikerjakan
4. Tilawah Al-Qur’an mulai jarang.
5. Berbagi terasa amat berat.
6. Hati kembali lalai.
7. Dosa-dosa kecil mulai dianggap biasa.
Begitulah saat-saat ketika daun-daun ketakwaan mulai gugur satu per satu. Allah berfirman: “Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 205). Dan kelalaian adalah pintu awal dari kemunduran spiritual.
Maka agar ketaatan tidak berguguran, Islam mengajarkan bahwa iman harus dijaga, dirawat dan diperbaharui. Apalagi iman bisa naik dan turun. Maka seorang mukmin yang sadar akan selalu berusaha menjaga agar penurunan itu tidak menjadi kejatuhan. Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya iman itu bisa usang di dalam hati sebagaimana pakaian menjadi usang, maka mohonlah kepada Allah agar memperbarui iman di dalam hatimu.” (HR. Al-Hakim). Hadits ini mengajarkan bahwa iman harus terus dirawat, dijaga, dan diperbarui.
Contoh praktis agar ketakwaan tetap hidup dan tidak gugur, beberapa langkah praktis dapat dilakukan: Pertama, menjaga ibadah wajib dengan sungguh-sungguh. Shalat berjamaah dan atautepat waktu adalah fondasi utama yang tidak boleh goyah. Kedua, mempertahankan amalan kecil secara konsisten, walaupun sedikit, tetapi terus dilakukan. Ketiga, menjaga hubungan dengan Al-Qur’an dengan istikamah membaca, memahami, dan merenungkan ayat-ayatnya.Keempat, memilih lingkungan yang baik, berkumpul dengan orang-orang yang mengingatkan kepada Allah. Kelima, segera bertaubat ketika melakukan kesalahan, tidak menunda-nunda kembali kepada Allah. Keenam, memperbanyak doa agar diberi keistiqamahan. Memohon kepada Allah agar hati tetap teguh dalam iman.
Ketakwaan yang terjaga ketakwaan itu seperti pohon. Ia harus disiram, dirawat, dan dijaga. Jika dibiarkan, ia akan layu. Jika diabaikan, ia akan gugur. Jadi bahagia bukan hanya ketika kita mampu menumbuhkan ketakwaan, tetapi ketika kita mampu menjaganya agar lestari tetap hidup. Karena yang paling berat bukan memulai kebaikan, tetapi mempertahankannya.
Jika setelah Ramadhan kita mampu menjaga ibadah, menjaga hati, dan menjaga hubungan dengan Allah, maka sesungguhnya kita telah berhasil melewati ujian setelah Ramadhan. Dan itulah kebahagiaan sejati: bukan hanya merasakan musim semi iman, tetapi mampu mencegah datangnya musim gugur ketakwaan. Semoga Allah menjaga hati kita tetap hidup dalam iman, hingga kelak kita kembali kepada-Nya dalam keadaan penuh ketakwaan. Aamiin
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3934