Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Tahun Ke-12 Harian Ke-3915
Sabtu, 18 Ramadhan 1447
Bahagia Mendidik Keshalihan
Saudataku, di samping madrasah hikmah, Ramadhan juga madrasah keshalihan. Ia bukan hanya mengajarkan ibadah yang bersifat ritual, tetapi juga membentuk pribadi yang sempurna paripurna, pribadi yang shalih secara vertikal dalam hubungannya dengan Allah dan shalih horisontal dalam hubungannya dengan sesama manusia.
Dengan demikian, keshalihan sejati selalu memiliki dua dimensi: keshalihan pribadi dan keshalihan sosial. Keshalihan pribadi membentuk kedekatan seorang hamba dengan Allah Rabbuna, sedangkan keshalihan sosial menjadikan kehadirannya membawa manfaat bagi sesama. Ramadhan mendidik kedua dimensi ini secara bersamaan. Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, mereka itulah sebaik-baik makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 7)
Ayat yang mirip seperti ini tersebar di banyak tempat dalam al-Qur'an, ia menunjukkan bahwa keimanan harus melahirkan amal shalih. Iman yang hanya tersimpan di dalam hati tanpa terwujud dalam perbuatan belum mencapai kesempurnaannya. Puasa Ramadhan adalah latihan ruhani agar iman itu menjelma menjadi amal.Allah juga berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Tujuan puasa adalah membentuk ketakwaan, dan ketakwaan itulah inti dari keshalihan. Dan seorang yang bertakwa tidak hanya rajin beribadah kepada Allah, tetapi juga menghadirkan kebaikan bagi manusia. Rasulullah saw bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad). Hadits ini menegaskan bahwa ukuran keshalihan bukan hanya banyaknya ibadah pribadi, tetapi juga manfaat yang diberikan kepada orang lain. Karena itu, Ramadhan menjadi momentum untuk memperbaiki dua sisi kehidupan sekaligus, baik keshalihan pribadi maupun sosial.
Dalam konteks keshalihan pribadi, karena Ramadhan melatih kita untuk memperkuat hubungan dengan Allah, yang indikasinya terlihat pada ketekunan dalam ibadah dan kesungguhan menjaga hati. Seperti bisa menjaga shalat dengan khusyuk dan tepat waktu. memperindah shalatnya, memperpanjang sujud, memperbanyak doa, dan merasakan kedekatan dengan Allah, memperbanyak tilawah Al-Qur’an, menjadikan Al-Qur’an sebagai teman harian yang menenangkan jiwa, memperbanyak dzikir dan istighfar, menjaga keikhlasan dalam ibadah, dan menjaga diri dari dosa, menahan lisan dari ghibah, menahan pandangan dari hal yang haram, serta menahan hati dari iri dan dengki.Keshalihan pribadi ini menjadikan hati tenang, jiwa lembut, ilmu mencakrawaa dan iman semakin mantap.
Dalam konteks keshalihan sosial, Ramadhan juga mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak boleh hidup hanya untuk dirinya sendiri. Maka keshalihan individu harus menjelma menjadi kebaikan sosial. Allah berfirman: “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, tetapi kebajikan itu ialah beriman kepada Allah… serta memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, dan orang yang meminta-minta.”
(QS. Al-Baqarah: 177). Ayat ini menunjukkan bahwa ibadah harus melahirkan kepedulian sosial.
Dalam bulan Ramadhan, keshalihan sosial dapat dipraktikkan dalam banyak cara. Pertama, memberi makan orang yang berbuka puasa. Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa memberi makan orang yang berpuasa untuk berbuka, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi pahala orang tersebut sedikit pun.” (HR. Tirmidzi). Memberi takjil, berbagi makanan, atau membantu mereka yang membutuhkan adalah bentuk keshalihan sosial yang sangat dianjurkan.
Kedua, memperbanyak sedekah. Ramadhan adalah bulan kedermawanan. Rasulullah dikenal paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan.
Ketiga, menjaga ukhuwah dan persaudaraan. Menghindari pertengkaran, memperbaiki hubungan yang renggang, serta memaafkan kesalahan orang lain.
Keempat, membantu pekerjaan orang lain. Meringankan beban keluarga, membantu tetangga, atau terlibat dalam kegiatan sosial di masjid dan masyarakat.
Kelima, menjaga kedamaian lingkungan. Menjadi pribadi yang menenangkan, bukan memicu konflik.
Saudaraku, Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dari fajar hingga maghrib. Ia adalah perjalanan ruhani untuk membentuk manusia yang shalih dalam dirinya dan bermanfaat bagi sekitarnya. Jadi keshalihan pribadi menjadikan kita dekat dengan Allah, sedangkan keshalihan sosial menjadikan kita dicintai manusia. Keduanya bertemu dalam diri seorang mukmin, maka lahirlah pribadi yang menghadirkan cahaya kebaikan di tengah kehidupan.
Bahagialah mereka yang menjadikan Ramadhan sebagai sekolah keshalihan tempat hati dibersihkan, amal diperbaiki, dan kepedulian kepada sesama ditumbuhkan. Semoga Ramadhan ini benar-benar mendidik kita menjadi pribadi yang shalih dalam ibadah dan mulia dalam pergaulan, sehingga keberadaan kita membawa rahmat bagi lingkungan di mana kita hidup.
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3915