Bahagia Mendidik Cinta

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Tahun Ke-12 Harian Ke-3914
Jumat, 17 Ramadhan 1447

Bahagia Mendidik Cinta
Saudaraku, Ramadhan pada hakikatnya merupakan madrasah cinta. Ia bukan sekadar wahana menahan lapar dan dahaga, tetapi wahana dimana hati dididik untuk lebih mencintai, mencintai Allah, mencintai Rasul-Nya, mencintai al-Qur’an, dan mencintai sesama manusia.

Puasa mengajarkan bahwa ibadah bukan hanya kewajiban semata, melainkan ungkapan cinta seorang hamba kepada Rabbnya, sehingga seorang hamba merasakan manisnya iman. Seorang mukmin berpuasa bukan sekadar karena perintah, tetapi karena kerinduan untuk mendekat kepada Allah; kecintaan untuk bersamaNya. Allah berfirman: “Dan di antara manusia ada orang-orang yang menjadikan tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah. (QS. Al-Baqarah: 165). Ayat ini menegaskan bahwa ciri utama orang beriman adalah cinta yang mendalam kepada Allah. Ramadhan menjadi momentum untuk menyuburkan cinta itu dari berbagai keterikatan dunia yang berlebihan.

Ketika seseorang rela meninggalkan makan, minum, dan berbagai kenikmatan yang halal demi ketaatan kepada Allah, itu sesungguhnya adalah bentuk cinta yang paling nyata. Ia berkata dengan amalnya: “Ya Allah, Engkaulah yang paling aku cintai.” Rasulullah saw juga bersabda: “Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai aku lebih ia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Cinta kepada Rasulullah tercermin dari kesungguhan kita meneladani akhlaknya. Dan Ramadhan adalah waktu yang paling indah untuk menghidupkan teladan itu dalam ibadah, dalam kesabaran, kelembutan, kedermawanan, dan kepedulian.

Puasa juga mendidik kita mencintai Al-Qur’an. Tidaklah kebetulan jika Ramadhan disebut sebagai bulan Al-Qur’an. Allah berfirman: “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda antara yang benar dan yang batil.”(QS. Al-Baqarah: 185). Karena itu, cinta kepada al-Qur’an tidak cukup hanya dengan menghias rak-rak rumah, tetapi dengan membaca, memahami, dan mengamalkannya lalu mengajarkannya.

Namun demikian, tentu Ramadhan tidak hanya mendidik cinta vertikal kepada Allah, tetapi juga menumbuhkan cinta horisontal kepada sesama manusia. Rasulullah saw bersabda: “Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. (HR. Bukhari dan Muslim). Lapar dan dahaga yang kita rasakan selama berpuasa menumbuhkan empati. Kita belajar memahami perasaan mereka yang setiap hari hidup dalam kekurangan. Dari sinilah lahir kepedulian sosial yang tulus.

Dalam kehidupan sehari-hari di bulan Ramadhan, pendidikan cinta itu dapat dipraktikkan secara nyata. Pertama, mencintai Allah dengan memoerkuat iman, ilmu dan amal shalih. Yang paling kentara dengan memperbanyak ibadah.
Menjaga shalat tepat waktu, memperbanyak doa, dzikir, dan munajat di waktu sahur serta saat berbuka.

Kedua, mencintai Al-Qur’an dengan membacanya setiap hari. Menjadikan tilawah sebagai kebutuhan ruhani, bukan sekadar target khatam. Lalu memahami al-Qur'an, mengambil mutiara hikmahnya, mengamalkannya dan mendidikkannya.

Ketiga, mencintai keluarga dengan menghadirkan kebersamaan. Berbuka bersama, shalat berjamaah di rumah, serta saling mengingatkan dalam kebaikan.

Keempat, mencintai sesama dengan berbagi, baik berbagai hal-hal yang bersifat materi dan immateri. Kita saling memberi makanan berbuka, bersedekah kepada fakir miskin, atau membantu tetangga yang membutuhkan. Di samping itu juga berbagi kebaikan, ilmu, saran masukan dan doa kebaikan. Kita juga mencintai sesama dengan menjaga persaudaraan. Menghindari permusuhan, memperbaiki hubungan yang retak, dan menahan diri dari ucapan yang melukai.

Kelima, mencintai lingkungan dengan menjaga kebersihan, keindahan dan kelestariannya. Masjid yang bersih, halaman yang rapi, dan suasana ibadah yang nyaman adalah bagian dari wujud cinta kepada rumah Allah.

Saudaraku, dunia hari ini sering mengajarkan cinta yang sempit cinta yang hanya berpusat pada diri sendiri dan kepentingan pribadi. Namun Ramadhan mengajarkan cinta yang luas: cinta yang melampaui ego, cinta yang menenangkan, cinta yang mempersatukan.

Bahagia itu bukan sekadar ketika kita dicintai, tetapi ketika hati kita mampu mencintai dengan tulus. Ramadhan mendidik kita untuk mencintai dengan cara yang suci: mencintai Allah sebagai tujuan, mencintai Rasulullah sebagai teladan, mencintai Al-Qur’an sebagai petunjuk, dan mencintai sesama manusia sebagai saudara dalam kemanusiaan.

Jika cinta itu tumbuh dalam hati, maka Ramadhan tidak hanya menjadi bulan ibadah, tetapi juga bulan yang melembutkan jiwa dan memuliakan kemanusiaan. Semoga Ramadhan ini benar-benar mendidik hati kita menjadi hati yang penuh cinta—cinta yang membawa kita semakin dekat kepada Allah, dan semakin lembut kepada sesama.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama