Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Tahun Ke-12 Harian Ke-3913
Kamis, 16 Ramadhan 1447
Bahagia Mendidik Kebijaksanaan
Saudara, Ramadhan dengan segenap pemberdayaannya di siang hari siyamu ramadhan dan di malam hari qiyamu ramadhan, juga merupakan madrasah hikmah, mengajarkan kearifan, mendidik kebijaksanaan. Ia melatih kita untuk tidak hanya mengetahui kebenaran, tetapi juga menempatkannya secara tepat dengan hati yang jernih, akal yang sehat, dan sikap yang shalih.
Kebijaksanaan adalah kemampuan menimbang-nimbang dan mentukan sikap. Misalnya kapan harus lembut, kapan harus tegas; kapan harus diam, kapan harus berbicara; kapan harus memberi, kapan harus menahan dan seterusnya. Ia bukan sekadar ilmu, tetapi perpaduan antara ilmu, iman, dan pengalaman batin yang sudah teruji.
Allah berfirman: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang lebih baik…” (QS. An-Nahl: 125) Ayat ini menegaskan bahwa dakwah, interaksi sosial bahkan respon terhadap perbedaan harus dilandasi hikmah, kebijaksanaan. Bukan sekadar benar, tetapi juga tepat dalam cara. Rasulullah saw juga bersabda, “Barang siapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Dia akan memahamkannya dalam agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Pemahaman yang benar akan melahirkan kebijaksanaan dalam bersikap. Karena tidak semua yang benar harus disampaikan dengan cara yang keras, dan tidak semua yang salah harus dihadapi dengan emosi. Namun, kebijaksanaan bukan berarti lemah atau kompromi terhadap kebatilan. Dalam Islam, ada saatnya seorang mukmin harus tegas—bukan karena kebencian, tetapi karena menjaga kebenaran, kehormatan, dan kemaslahatan. Ketegasan itu diarahkan kepada tindakan kezaliman dan penghinaan terhadap nilai-nilai suci, bukan kepada kebencian membabi buta terhadap individu atau kelompok. Allah mengingatkan “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan karena Allah…” (QS. An-Nisa: 135)
Keadilan membutuhkan kebijaksanaan. Tanpa kebijaksanaan, ketegasan bisa berubah menjadi kekasaran. Tanpa ketegasan, kelembutan bisa berubah menjadi kelemahan. Ramadhan mengajarkan keseimbangan itu.
Saat berpuasa, d tengah lapar dan dahaga, kita dilatih menahan emosi. Ketika ada yang memancing amarah, Rasulullah saw mengajarkan: “Jika salah seorang di antara kalian berpuasa, maka jangan berkata kotor dan jangan berbuat bodoh. Jika ada yang mencacinya atau mengajaknya bertengkar, hendaklah ia berkata: sesungguhnya aku sedang berpuasa.” (HR. Bukhari dan Muslim) Inilah kebijaksanaan dalam praktik: menahan diri ketika mampu membalas, memilih diam ketika bisa melukai, dan tetap tenang ketika diuji. Tetapi ketika prinsip kita diinjak, kita pun bertindak. Inilah sikap bijak.
Dalam kehidupan sehari-hari di bulan Ramadhan, sikap bijaksana dapat diwujudkan secara nyata: pertama, bijak dalam berbicara. Tidak semua yang kita tahu harus diucapkan. Todak semua informadi dapat kita bagikan. Kita harus memilah juga memilih menyampaikan kebenaran dengan cara yang menenangkan, bukan menyulut konflik.
Kedua, bijak dalam bermedia sosial. Kita tidak mudah menyebarkan informasi yang belum jelas, tidak ikut memperkeruh suasana dengan narasi yang memecah belah atau menghasut. Kita memanfaatkan media sosial hanya untuk kebaikan.
Ketiga, bijak dalam menyikapi perbedaan.
Kita mengembangkan sikap tasamuh, toleransi dan saling menghargai segala perbedaan yang ada, tidak mudah menghakimi, dan tetap menjaga ukhuwah.
Keempat, bijak dalam menegur. Andai ada yang salah, kita menegur dengan adab, memilih waktu dan cara yang tepat, agar nasihat menjadi cahaya, bukan luka.
Kelima, bijak dalam bersikap tegas. Ketika ada kezaliman, penghinaan terhadap nilai agama, atau pelanggaran yang nyata, maka sikap tegas diperlukan namun tetap dalam koridor keadilan, tidak melampaui batas, dan tidak didorong oleh hawa nafsu.
Keenam, bijak dalam mengelola emosi.
Lapar bukan alasan untuk marah, lelah bukan alasan untuk kasar.
Saudaraku, dalam suasana Ramadhan terlebih jika kita sedang berada dalam fase pemulihan dari berbagai ujian kehidupan kebijaksanaan menjadi kebutuhan yang sangat mendesak. Karena tanpa kebijaksanaan, luka akan semakin dalam, dan konflik akan semakin melebar. Bijaksana itu menyejukkan. Bijaksana itu menenteramkan.
Bahagia itu ketika kita mampu menempatkan diri secara tepat: lembut pada tempatnya, tegas pada saatnya, dan selalu berpijak pada nilai-nilai ilahiah. Ramadhan mengajarkan kita bahwa orang kuat bukanlah yang menang dalam pertengkaran, tetapi yang mampu menahan diri. Orang mulia bukanlah yang selalu benar dalam kata, tetapi yang benar dalam sikap.
Semoga Ramadhan ini benar-benar mendidik kita menjadi pribadi yang bijaksana yang tidak hanya berpikir benar, tetapi juga bersikap benar; yang tidak hanya membela kebenaran, tetapi juga menghadirkannya dengan cara yang penuh hikmah. Karena pada akhirnya, kebijaksanaan adalah cahaya dan Ramadhan adalah waktu terbaik untuk menyalakannya dalam diri kita.
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3913