Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Tahun Ke-12 Harian Ke-3916
Ahad, 19 Ramadhan 1447
Bahagia Mendidik Keseimbangan
Saudaraku, Ramadhan adalah madrasah kehidupan, dan hidup mesti seimbang. Maka Ramadhan di antaranya juga mengajarkan keseimbangan. Ia tidak hanya mengajarkan bagaimana seorang hamba mendekat kepada Allah, tetapi juga bagaimana ia tetap hidup secara harmonis dengan dirinya sendiri, keluarganya, dan masyarakat.
Islam sejak awal adalah agama keseimbangan tidak berlebih-lebihan dan tidak pula mengabaikan. Dalam bahasa Al-Qur’an, umat Islam disebut sebagai ummatan wasathan, umat yang moderat dan seimbang. Allah berfirman: Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu umat yang wasath (umat pertengahan), agar kamu menjadi saksi atas manusia dan agar Rasul menjadi saksi atas kamu.” (QS. Al-Baqarah: 143). Kata wasath dalam ayat ini mengandung makna tengah, adil, seimbang, dan proporsional. Seorang mukmin tidak hidup dalam ekstremitas. Ia menempatkan segala sesuatu pada tempatnya.
Nah, Ramadhan melatih keseimbangan itu secara nyata. Kita diajarkan menahan diri pada siang hari, tetapi juga menikmati rezeki Allah ketika berbuka. Kita diperintahkan memperbanyak ibadah kepada Allah, tetapi tidak melupakan tanggung jawab kehidupan kepada sesama.
Rasulullah saw uga memberikan teladan tentang pentingnya keseimbangan. Diriwayatkan bahwa suatu ketika beberapa sahabat ingin beribadah secara berlebihan: ada yang ingin shalat malam terus tanpa tidur, ada yang ingin berpuasa setiap hari tanpa berbuka, dan ada yang ingin menjauhi pernikahan. Ketika hal itu sampai kepada Rasulullah saw beliau bersabda: Sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling bertakwa kepada-Nya di antara kalian. Namun aku berpuasa dan juga berbuka, aku shalat malam dan juga tidur, dan aku juga menikah. Barang siapa tidak menyukai sunnahku, maka ia bukan termasuk golonganku.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini menunjukkan bahwa Islam tidak mengajarkan kehidupan yang ekstrem. Bahkan dalam ibadah sekalipun, keseimbangan tetap dijaga.
Ramadhan mendidik kita agar mampu menyeimbangkan berbagai dimensi kehidupan: antara ruh dan jasad, antara ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah, antara hubungan dengan Allah dan hubungan dengan manusia.
Pertama, keseimbangan antara ruhani dan jasmani. Puasa mengajarkan kita menjaga ruhani melalui ibadah, tetapi juga menjaga jasmani dengan pola makan yang baik. Allah berfirman: “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”
(QS. Al-A’raf: 31) Dan Islam juga tidak melarang unguk mereguk kenikmatan dunia, tetapi mengajarkan untuk menikmatinya secara bijak dengan tidak melupakan berburu kenikmatan akhirat kelak.
Kedua, keseimbangan antara ibadah mahdhah dan ibadah sosial memikul tanggung jawab kehidupan. Ramadhan bukan alasan untuk meninggalkan pekerjaan, tanggung jawab keluarga, atau kewajiban sosial. Justru dalam kondisi berpuasa, kita diajarkan untuk tetap produktif dan bermanfaat. Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atasmu, matamu memiliki hak atasmu, dan keluargamu memiliki hak atasmu.” (HR. Bukhari). Hadits ini mengingatkan bahwa kehidupan seorang mukmin harus seimbang antara berbagai hak yang ada.
Ketiga, keseimbangan antara hubungan dengan Allah dan sesama. Ramadhan mengajarkan kita memperbanyak ibadah, tetapi juga memperbanyak kepedulian kepada sesama. Shalat, tilawah, dan dzikir adalah bentuk hubungan dengan Allah, sedekah, silaturahim, dan membantu orang lain adalah bentuk hubungan dengan manusia. Keduanya harus berjalan bersama.
Dalam kehidupan sehari-hari, keseimbangan itu dapat diwujudkan melalui langkah-langkah sederhana. Pertama, mengatur waktu antara ibadah mahdhah dan pekerjaan rutinitas. Menjadikan Ramadhan sebagai momentum meningkatkan kualitas ibadah tanpa mengabaikan tanggung jawab pekerjaan. Kedua, menjaga pola makan yang sehat saat sahur dan berbuka. Tiidak berlebihan, tetapi cukup untuk menjaga kesehatan tubuh. Ketiga, menyeimbangkan ibadah pribadi dan kepedulian sosial. Selain shalat dan tilawah, juga aktif berbagi dan membantu sesama. Keempat, menjaga keseimbangan emosi.
Puasa melatih kesabaran agar kita tidak mudah marah atau tersulut emosi. Keelima, menyeimbangkan aktivitas dunia dan persiapan akhirat. Bekerja dengan baik untuk kehidupan dunia, sekaligus memperbanyak amal untuk kehidupan akhirat.
Barangkali ada manusia yang jatuh dalam dua ekstrem: terlalu tenggelam dalam urusan dunia hingga melupakan akhirat, atau terlalu sibuk dengan ritual hingga mengabaikan tanggung jawab kehidupan. Nah, Ramadhan datang untuk mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati terletak pada keseimbangan hidup. Hati yang terhubung dengan Allah, tetapi tangan tetap bekerja untuk kehidupan. Jiwa yang khusyuk dalam ibadah, tetapi kaki tetap berjalan membantu sesama. Jadi bahagia itu bukan ketika kita hidup secara berlebihan, tetapi ketika kita mampu hidup secara seimbang. Semoga Ramadhan ini mendidik kita menjadi pribadi yang seimbang khusyuk dalam spiritualitas, bijak dalam kehidupan, dan bermanfaat bagi sesama. Karena keseimbangan adalah jalan menuju ketenangan, dan ketenangan adalah pintu menuju kebahagiaan yang hakiki.
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3916