Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3922
Sabtu, 25 Ramadhan 1447
Bahagia Mendidik Keberanian
Saudaraku, karena Ramadhan bulan ketangguhan, maka ia juga mendidik keberanian. Ya, ketangguhan itu melahirkan keberanian. Keberanian yang didasari iman, termasuk keberanian mempertahan iman, Islam dan martabat juga harga diri. Keberanian yang lahir dari Ramadhan bukanlah keberanian yang konyol atau penuh amarah, tetapi keberanian yang bersumber dari keyakinan kepada Allah.
Tentu, yang utama puasa melatih manusia berani menaklukkan dirinya sendiri. Ia berani melawan hawa nafsu, berani menahan godaan, berani menegakkan kebenaran meskipun tidak selalu mudah, berani menahan lapar, berani menahan amarah, berani meninggalkan kebiasaan buruk dan berani memperbaiki diri. Inilah keberanian sejati yang dibentuk oleh Ramadhan.
Allah berfirman: “(Yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan tidak merasa takut kepada siapa pun selain kepada Allah.” (QS. Al-Ahzab 39). Ayat ini mengajarkan bahwa keberanian seorang mukmin lahir dari ketakutannya hanya kepada Allah. Ketika hati hanya bergantung kepada Allah, maka rasa takut kepada manusia menjadi kecil.
Dalam ayat lain Allah menegaskan: Janganlah kamu merasa lemah dan jangan bersedih hati, padahal kamulah yang paling tinggi derajatnya jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali ‘Imran: 139). Ayat ini adalah mensuport kekuatan bagi jiwa seorang mukmin. Islam tidak mendidik umatnya menjadi orang yang lemah dan pasif, tetapi menjadi orang yang tegar, optimis, dan berani menghadapi kehidupan. Rasulullah saw juga menegaskan pentingnya keberanian dalam membela kebenaran. Beliau bersabda: “Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kata-kata yang benar di hadapan penguasa yang zalim.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi) Hadits ini menunjukkan bahwa keberanian dalam Islam tidak selalu berbentuk kekuatan fisik, tetapi sering kali berupa keberanian moral keberanian mengatakan yang benar ketika orang lain memilih diam.
Semua itu adalah bentuk keberanian spiritual yang sering kali lebih sulit daripada keberanian fisik. Rasulullah saw bersabda: “Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” ?HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini menunjukkan bahwa kekuatan dan keberanian sejati terletak pada pengendalian diri.
Ramadhan memberikan banyak kesempatan bagi kita untuk melatih keberanian dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, berani meninggalkan dosa. Berani menghentikan kebiasaan buruk seperti ghibah, dusta, merokok atau perilaku yang merugikan orang lain. Kedua, berani berkata jujur. Menjaga kejujuran dalam hidudupan keluarga, dalam pekerjaan, perdagangan, perjanjian maupun dalam hubungan sosial. Ketiga, berani membela kebenaran. Tidak ikut menyebarkan fitnah atau berita hoak, tidak mendukung kezaliman, dan berani menyampaikan kebenaran dengan cara yang bijak.
Keempat, berani memperbaiki diri. Mengakui kesalahan, meminta maaf, dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Kelima, berani berbuat baik. Membantu orang lain, berbagi rezeki, dan menolong mereka yang membutuhkan meskipun tidak selalu mendapat pujian.
Nah, Ramadhan sejatinya sedang membentuk kita menjadi orang yang berani, bukan berani karena memiliki kekuatan fisik semata, tetapi berani karena memiliki kekuatan iman. Katena ketika hati dipenuhi keyakinan kepada Allah, maka manusia tidak mudah takut menghadapi kehidupan. Ia berani melangkah di jalan kebaikan, berani menolak kezaliman, dan berani mempertahankan nilai-nilai kebenaran.
Bahagia Ramadhan adalah ketika bulan suci ini melahirkan jiwa-jiwa yang teguh, jujur, dan berani menegakkan kebenaran. Karena pada akhirnya, keberanian seorang mukmin bukanlah keberanian untuk menaklukkan dunia, tetapi keberanian untuk tetap berada di jalan Allah dalam keadaan apa pun.
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3922