Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3924
Senin, 27 Ramadhan 1447
Bahagia Mendidik Melintasi Waktu
Saudaraku, Ramadhan adalah perjalanan ruhani yang melampaui batas-batas waktu. Ia tidak hanya menyentuh masa kini, tetapi juga menjangkau masa lalu dan masa depan manusia. Inilah salah satu keindahan spiritual Ramadhan: ia menghubungkan kehidupan manusia dalam satu rangkaian makna yang utuh.
Ketika seorang mukmin berpuasa dengan iman dan keikhlasan, maka masa lalunya yang penuh kekhilafan dan dosa dapat dibersihkan oleh rahmat Allah. Masa kini dipenuhi dengan ketenangan dan kebahagiaan dalam ibadah. Dan masa depan disinari oleh harapan akan perjumpaan dengan Allah dalam keadaan yang mulia. Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Haits ini menunjukkan bahwa Ramadhan memiliki kekuatan spiritual untuk menyentuh masa lalu manusia. Kesalahan, dosa, dan kekhilafan yang pernah terjadi tidak harus menjadi beban yang membebani kehidupan sehingga berat dalam melangkah. Allah membuka pintu ampunan melalui ibadah Ramadhan.
Allah juga berfirman: “Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.” (QS. Az-Zumar: 53). Ayat ini adalah panggilan kasih sayang Allah kepada manusia yang pernah jatuh dalam kesalahan. Ramadhan menjadi momentum untuk bangkit dari masa lalu dan memulai kehidupan yang lebih bersih.
Ramadhan juga menghadirkan kebahagiaan di masa kini. Puasa mungkin terasa berat bagi tubuh, tetapi bagi hati yang beriman ia menghadirkan ketenangan yang luar biasa. Ketika seseorang shalat dengan khusyuk, membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan berdoa, hatinya merasakan kedekatan dengan Allah yang tidak mudah ditemukan dalam kesibukan dunia. Allah berfirman: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Ketenangan ini adalah kebahagiaan yang sejati. Bukan kebahagiaan yang bergantung pada harta atau kesenangan dunia, tetapi kebahagiaan yang lahir dari kedekatan dengan Allah. Rasulullah saw juga bersabda: Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Tuhannya. (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini menunjukkan bahwa Ramadhan memberikan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Ramadhan juga mengarahkan pandangan manusia kepada masa depan yang lebih besar: pertemuan dengan Allah. Segala ibadah yang dilakukan selama Ramadhan sesungguhnya adalah investasi akhirat. Ia adalah bekal menuju kehidupan yang kekal. Allah berfirman: “Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat balasannya.” (QS. Az-Zalzalah: 7). Ayat ini memberikan harapan bahwa tidak ada satu pun amal kebaikan yang sia-sia. Semua tercatat dan akan dibalas oleh Allah.
Bagi seorang mukmin, puncak kebahagiaan bukanlah keberhasilan dunia, tetapi bertemu dengan Allah dalam keadaan diridhai-Nya dan masuk ke dalam psurga-Nya. Agar Ramadhan benar-benar menjadi perjalanan yang melintasi batas waktu—masa lalu, masa kini, dan masa depan—beberapa langkah praktis dapat dilakukan.
Pertama, membersihkan masa lalu dengan taubat.Memohon ampun kepada Allah atas dosa-dosa yang pernah dilakukan dan bertekad tidak mengulanginya. Kedua, menghidupkan masa kini dengan ibadah. Memperbanyak shalat, membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan berdoa selama Ramadhan. Ketiga, memperbaiki hubungan dengan sesama.Meminta maaf kepada orang yang pernah disakiti dan mempererat silaturahmi.
Keempat, menanam amal untuk masa depan.
Bersedekah, membantu orang lain, dan melakukan kebaikan yang pahalanya terus mengalir. Kelima, menumbuhkan harapan kepada Allah. Berdoa agar Allah menerima semua amal dan mempertemukan kita dengan-Nya dalam keadaan yang diridhai.
Ramadhan adalah perjalanan yang melampaui batas waktu. Ia membersihkan masa lalu, menenangkan masa kini, dan menerangi masa depan. Bahagia Ramadhan adalah ketika bulan suci ini menjadikan hidup kita penuh makna: dosa masa lalu diampuni, hati masa kini dipenuhi ketenangan, dan masa depan dipenuhi harapan akan perjumpaan dengan Allah. Karena pada akhirnya, kehidupan manusia bukan hanya tentang perjalanan di dunia, tetapi perjalanan menuju Allah dan surga-Nya yang abadi.
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3924