Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Tahun Ke-12 Harian Ke-3920
Kamis, 23 Ramadhan 1447
Merengkuh I’tikaf
Saudaraku, di antara keindahan yang paling mendalam di sepuluh terakhir Ramadhan adalah ajaran i’tikaf. Ya, kita berdiam diri di masjid bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Maka i’tikaf sejatinya bukan sekadar tinggal berdiam diri di masjid, tetapi sebagai perjalanan ruhani: perjalanan hati meninggalkan hiruk-pikuk duniawiyah yang menyita untuk kembali kepada sumber ketenangan, yaitu Allah.
Di dalam i’tikaf, orang-orang beriman belajar berhenti sejenak dari kesibukan dunia. Ia memutuskan sejenak hubungan dengan keramaian kehidupan, agar dapat menyambung kembali hubungan yang lebih dekat dengan Rabbnya. Allah berfirman: “Dan janganlah kamu mencampuri mereka (istri-istrimu) ketika kamu sedang beri’tikaf di masjid. Itulah batas-batas Allah, maka janganlah kamu mendekatinya.” (QS. Al-Baqarah: 187) Ayat ini menunjukkan bahwa i’tikaf adalah ibadah yang sangat mulia sehingga Allah menyebutnya secara khusus dalam Al-Qur’an. I’tikaf mengandung makna menetap berdiam diri dan menenangkan diri di rumah Allah, menjadikan masjid sebagai ruang perenungan dan penghambaan.
Rasulullah saw sendiri memberikan teladan yang sangat kuat dalam i'tikaf ini. Setiap Ramadhan, terutama pada sepuluh malam terakhir, beliau selalu beri’tikaf. Dalam sebuah hadits disebutkan: “Rasulullah saw beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan hingga beliau wafat.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hal ini menunjukkan bahwa i’tikaf bukan sekadar ibadah tambahan, tetapi bagian dari tradisi spiritual yang sangat dicintai oleh Nabi.
Mengapa Nabi begitu tekun dalam i’tikaf? Ya, di antaranya karena pada saat itulah hati manusia memiliki kesempatan untuk benar-benar berdialog dengan dirinya sendiri dan dengan Allah Rabbnya. Di tengah dunia yang penuh kebisingan, i’tikaf menghadirkan keheningan yang menenangkan. Di dalam masjid, waktu seakan melambat. Hati menjadi lebih peka. Pikiran menjadi lebih jernih. Jiwa menjadi lebih dekat dengan Allah.
Bagi seorang mukmin, masjid bukan hanya tempat shalat, tetapi rumah bagi hati. Hati yang selalu terikat dengan masjid adalah tanda keimanan yang hidup. Rasulullah saw bersabda: “Tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya… salah satunya adalah seseorang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid. (HR. Bukhari dan Muslim) Hadits ini menggambarkan bahwa kedekatan dengan masjid bukan hanya aktivitas fisik, tetapi juga ikatan batin. Walaupun seseorang berada di luar masjid, hatinya selalu rindu untuk kembali ke sana.
I’tikaf adalah latihan untuk menumbuhkan keterikatan itu. Ketika seseorang menghabiskan waktu berhari-hari di masjid, ia akan merasakan bahwa masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi tempat pulang bagi jiwa. Maka i’tikaf benar-benar ikhtiar untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Saat i’tikaf, seorang mukmin menghidupkan waktunya dengan shalat, baik shalat wajib maupun shalat sunnah; dengan doa-doa, memohon ampunan dan rahmat Allah, dengan dzikir, mengingat Allah dengan hati yang tenang, dengan tilawah Al-Qur’an, menyelami pesan-pesan Ilahi. Kajian dan tadabbur, memperdalam pemahaman agama.
Istirahat secukupnya, agar tubuh tetap kuat dalam beribadah. Semua aktivitas ibadah ini membentuk sebuah lingkaran spiritual yang menenangkan hati. Allah berfirman: Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28). Ayat ini adalah inti dari i’tikaf: ketenangan hati.
I’tikaf adalah kesempatan langka untuk lebih banyak bersama Allah di tengah dunia yang ramai. Saat ketika seorang hamba melepaskan beban dunia, menenangkan hati, dan memperbarui hubungan dengan Rabbnya. Ketika seseorang keluar dari i’tikaf dengan hati yang lebih bersih, lebih tenang, dan lebih dekat kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah merasakan kebahagiaan Ramadhan yang sejati. Bahagia Ramadhan adalah ketika bulan suci ini mendidik kita untuk mencintai masjid, merindukan keheningannya, dan menjadikan hati kita selalu terpaut dengannya. Karena pada akhirnya, masjid bukan hanya bangunan tempat shalat, tetapi tempat di mana jiwa menemukan kedamaian dan hati menemukan jalan pulang kepada Allah.
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3920