Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3923
Ahad, 26 Ramadhan 1447
Bahagia Mendidik Kemuliaan
Saudaraku, Ramadhan dengan seluruh vasilitas pemberdayaannya merupakan bulan yang mendidik manusia yang merengkuhnya meraih kemuliaan hidup. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi sebuah perjalanan ruhani untuk mengangkat derajat orang-orang beriman dari sekadar makhluk biologis menjadi makhluk yang mulia di sisi Allah.
Tujuan utama puasa telah ditegaskan secara sangat jelas dalam Al-Qur’an. Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.(QS. Al-Baqarah: 183). Ayat ini menegaskan bahwa inti dari puasa adalah mendidik ketakwaan. Lapar dan dahaga bukan tujuan akhir, melainkan jalan menuju terbentuknya jiwa yang bertakwa. Dan ketakwaan itulah yang menjadi ukuran kemuliaan manusia di sisi Allah.
Allah berfirman: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kamu. (QS. Al-Hujurat: 13). Ayat ini mengubah cara pandang manusia tentang kemuliaan. Dalam pandangan dunia, kemuliaan sering diukur dengan harta, jabatan, kekuasaan, atau keturunan. Namun dalam pandangan Allah, kemuliaan tidak ditentukan oleh semua itu.
Seorang yang sederhana bisa menjadi sangat mulia di sisi Allah jika hatinya dipenuhi ketakwaan. Dengan takwa yang sederhana saja mulia, apalagi para ilmuwan, para pejabat, para hartawan. Sebaliknya, seseorang yang memiliki gelar panjang, kekayaan melimpah dan kekuasaan empuh nan luas, tidak akan menjadi mulia di sisi Allah jika hidupnya jauh dari nilai-nilai ketakwaan.
Di sinilah Ramadhan berperan sebagai madrasah kemuliaan. Puasa mendidik manusia agar mampu mengendalikan dirinya, menjaga lisannya, membersihkan hatinya, dan memperbaiki akhlaknya. Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari). Hadits ini mengingatkan bahwa puasa bukan hanya ibadah fisik, tetapi ibadah moral. Puasa yang benar akan melahirkan kemuliaan akhlak.
Ketakwaan adalah keadaan hati yang selalu merasa diawasi oleh Allah. Orang yang bertakwa akan berhati-hati dalam setiap perkataan dan perbuatannya. Ia tidak berbuat baik karena ingin dipuji manusia, tetapi karena ingin mendapatkan ridha Allah. Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim). Hadits ini mengajarkan bahwa kemuliaan manusia bukan pada penampilan luar, tetapi pada kebersihan hati dan kebaikan amal.
Ramadhan membantu manusia membersihkan hati itu. Ketika seseorang berpuasa, ia belajar jujur kepada Allah. Ia bisa saja makan atau minum secara sembunyi-sembunyi, tetapi ia tidak melakukannya karena ia sadar Allah selalu melihatnya. Kesadaran inilah yang menumbuhkan ketakwaan, dan dari ketakwaan itulah lahir kemuliaan.
Dan Ramadhan memberikan banyak kesempatan untuk melatih kemuliaan akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, menjaga lisan. Tidak berkata kasar, tidak terlibat dalam ujaran kebencian, yidak bergosip, tidak menyebarkan fitnah, dan tidak menyakiti orang lain dengan ucapan. Rasulullah saw bersabda “Jika salah seorang di antara kalian berpuasa, maka jangan berkata kotor dan jangan berbuat bodoh.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kedua, memperbanyak sedekah. Berbagi makanan berbuka, membantu fakir miskin, dan meringankan beban orang lain. Ketiga, memperbaiki akhlak dalam keluarga.
Bersikap lembut kepada pasangan, sabar terhadap anak-anak, dan menghormati orang tua. Keempat, menjaga kejujuran dalam pekerjaan. Tetap bekerja dengan jujur dan amanah meskipun sedang berpuasa. Kelima, memperbanyak ibadah. Shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan memohon ampunan kepada Allah.
Semua itu adalah jalan menuju kemuliaan yang sejati. Ramadhan sebenarnya sedang mengangkat derajat manusia. Ia membersihkan hati, menenangkan jiwa, dan menuntun manusia menuju kemuliaan yang hakiki. Kemuliaan itu bukan kemuliaan yang terlihat oleh manusia, tetapi kemuliaan yang dikenal oleh Allah. Bahagia Ramadhan adalah ketika bulan suci ini melahirkan pribadi yang lebih bertakwa, lebih lembut akhlaknya, dan lebih dekat kepada Allah. Karena pada akhirnya, manusia yang paling mulia bukanlah yang paling kaya atau paling terkenal, tetapi yang paling bertakwa di sisi Allah.
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3923