Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3921
Jumat, 24 Ramadhan 1447
Mendidik Jiwa Berkorban
Saudaraku, Ramadhan adalah bulan pengorbanan. Sejak fajar hingga terbenam matahari, seorang mukmin rela meninggalkan hal-hal yang sebenarnya halal baginya seperti makan, minum, dan berbagai kenikmatan dunia, semata-mata karena ketaatan kepada Allah. Inilah pelajaran besar yang tersembunyi dalam ibadah puasa: mendidik jiwa agar mampu berkorban demi sesuatu yang lebih mulia.
Puasa mengajarkan bahwa hidup tidak selalu tentang menerima, tetapi juga tentang memberi. Tidak selalu tentang menikmati, tetapi juga tentang menahan diri. Dengan demikian, Ramadhan membentuk jiwa yang kuat, ikhlas, dan siap berkorban demi kebaikan. Allah berfirman: “Kamu sekali-kali tidak akan mencapai kebajikan yang sempurna sebelum kamu menafkahkan sebagian dari apa yang kamu cintai.” (QS. Ali ‘Imran: 92). Ayat ini menegaskan bahwa puncak kebajikan tidak lahir dari apa yang tersisa, tetapi dari apa yang kita cintai lalu kita relakan di jalan Allah. Pengorbanan yang bernilai adalah pengorbanan yang dilakukan dengan hati yang tulus.
Dalam ayat lain Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.” (QS. At-Taubah: 111). Ayat ini menggambarkan hubungan antara Allah dan hamba-Nya sebagai sebuah perjanjian suci: seorang mukmin rela mengorbankan dirinya, waktunya, hartanya, dan tenaganya demi ketaatan kepada Allah, dan sebagai balasannya Allah menjanjikan surga.
Rasulullah saw juga memberikan teladan agung dalam hal pengorbanan. Beliau hidup sederhana, sering kali menahan lapar, tetapi hatinya selalu penuh dengan kepedulian kepada umat. Dalam sebuah hadits disebutkan: “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini mengajarkan bahwa kemuliaan seorang mukmin terletak pada kesediaannya memberi dan berkorban, bukan pada keinginannya untuk selalu menerima.
Ramadhan adalah bulan yang menumbuhkan semangat berkorban itu. Ketika seseorang merasakan lapar, ia mulai memahami penderitaan orang miskin. Ketika ia menahan keinginan, ia belajar mengendalikan diri. Ketika ia berbagi makanan berbuka, ia merasakan kebahagiaan memberi. Di sinilah Ramadhan mendidik manusia menjadi pribadi yang memiliki jiwa pengorbanan.
Dalam sejarah Islam, pengorbanan selalu menjadi jalan menuju kemuliaan. Para sahabat Nabi adalah contoh nyata dari jiwa-jiwa yang rela berkorban demi kebenaran. Mereka mengorbankan harta, kenyamanan hidup, bahkan nyawa mereka demi mempertahankan iman.
Namun pengorbanan tidak selalu harus dalam bentuk yang besar dan dramatis. Dalam kehidupan sehari-hari, pengorbanan sering kali hadir dalam bentuk yang sederhana tetapi bermakna. Seseorang yang rela mengurangi kenyamanan dirinya untuk membantu orang lain, sesungguhnya telah menapaki jalan pengorbanan. Allah berfirman: “Dan mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri, meskipun mereka juga membutuhkan. (QS. Al-Hasyr: 9) Ayat ini menggambarkan keindahan jiwa orang beriman: mereka tidak hanya memberi ketika berlebihan, tetapi bahkan ketika mereka sendiri membutuhkan.
Ramadhan memberikan banyak kesempatan untuk melatih jiwa berkorban dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, berkorban waktu untuk ibadah. Memanfaatkan waktu untuk shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an, dan menghadiri majelis ilmu meskipun kesibukan dunia sangat banyak.
Kedua, berkorban kenyamanan sesaat demi kebaikan. Bangun lebih awal untuk sahur, bangun malam untuk qiyamuramadhan, dan mengurangi waktu tidur demi ibadah.
Ketiga, berkorban harta untuk berbagi.Memberikan makanan berbuka kepada orang lain, bersedekah kepada fakir miskin, atau membantu mereka yang sedang kesulitan. Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut sedikit pun.” (HR. Tirmidzi)
Keempat, berkorban ego demi menjaga persaudaraan. Memaafkan orang lain, menahan amarah, dan menjaga lisan agar tidak menyakiti hati orang lain.
Kelima, berkorban tenaga untuk membantu sesama. Turut aktif dalam kegiatan sosial di masjid, membantu tetangga, atau melayani keluarga dengan penuh keikhlasan.
Ramadhan sebenarnya sedang mendidik kita untuk menjadi manusia yang lebih mulia, manusia yang tidak hidup hanya untuk dirinya sendiri. Maka ketika seseorang mampu berkorban demi kebaikan, hatinya akan menjadi luas, jiwanya menjadi kuat, dan hidupnya menjadi bermakna. Hidup berahagia adalah ketika di bulan suci ini mampu melahirkan jiwa-jiwa yang siap memberi, siap berbagi, dan siap berkorban demi kebaikan. Karena pada akhirnya, kemuliaan seorang mukmin bukan diukur dari apa yang ia miliki, tetapi dari apa yang ia relakan di jalan Ilahi.
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3921