Bahagia Merawat Iman

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3891
Rabu, 23 Sya'ban 1447

Bahagia Merawat Iman
Saudaraku, setelah kita melakukan muhasabah tentang rasa bahagia memperoleh hidayah dan merawatnya, kini kita melangkah lebih dalam lagi, yakni bahagia dalam merawat iman. Sebab hidayah adalah pintu, sedangkan iman adalah kehidupan di dalamnya. Hidayah menunjukkan jalan, imanlah yang membuat kita mampu berjalan dengan teguh istikamah.

Meneladani Rasulullah saw di bulan Sya‘ban melalui kesadaran bahwa iman tidak pernah dibiarkan berjalan sendiri. Iman harus senantiasa diperbaharui, dirawat, disirami, dan dijaga kualitasnya. Bahkan iman para sahabat pun bisa naik dan turun, apalagi kita. Karena itu, merawat iman bukan tanda kelemahan diri, melainkan justru tanda kesadaran dan kedewasaan ruhani. Rasulullah saw bersabda: “Iman itu bisa bertambah dan bisa berkurang.” (HR. al-Baihaqi)

Maka, bahagia merawat iman berarti bahagia turut aktif dalam proses penumbuhan dan pembaruan iman itu sendiri, terutama di bulan Sya‘ban, bulan persiapan batin menyongsong Ramadhan.

Secara praktis, merawat iman dimulai dengan pertama, memperkuat hubungan dengan Allah. Shalat dijaga bukan hanya waktunya, tetapi keindahan dan kehadiran hatinya. Al-Qur’an dibaca bukan sekadar melafalkan huruf, tetapi membuka ruang dialog dengan firman-Nya. Di bulan Sya‘ban, Nabi  memperbanyak ibadah sunah sebagai cara menjaga spirit atau api iman agar tetap hangat dan siap menyambut Ramadhan.

Kedua, memperbanyak dzikir dan istighfar. Dzikir adalah napas iman; istighfar adalah pembersihnya. Hati yang jarang berdzikir mudah kering, dan iman yang jarang diistighfari mudah tertutup noda. Tidak harus panjang dan berat, yang penting ringan di lisan dan hidup di kesadaran: saat berjalan, bekerja, duduk, dan beristirahat.

Ketiga, menjaga konsistensi amal, meski kecil. Amal yang berkelanjutan adalah nutrisi iman. Nabi mencontohkan bahwa ibadah yang terus-menerus, walau sederhana, lebih menenangkan jiwa dan lebih kuat menjaga iman daripada lonjakan amal sesaat yang cepat padam.

Keempat, menjauhi dosa dan kelalaian, karena dosa adalah penyakit iman. Dosa tidak selalu mematikan iman seketika, tetapi melemahkannya perlahan. Sya‘ban menjadi momen membersihkan diri, agar iman tidak memasuki Ramadhan dalam keadaan letih dan berdebu.

Kelima, hidup dan bergaul dengan lingkungan yang menumbuhkan iman. Iman tumbuh subur di tanah yang baik, seperti majelis ilmu, persahabatan yang saling menasihati, dan suasana yang mengingatkan pada Allah. Rasulullah saw membangun iman umatnya bukan hanya dengan nasihat, tetapi dengan kebersamaan dalam kebaikan.

Kenam, memperbanyak doa agar iman diteguhkan. Nabi sendiri sering berdoa agar hatinya diteguhkan, menunjukkan bahwa iman bukan sekadar hasil usaha, tetapi juga karunia yang harus terus dimohonkan.

Saudaraku, bahagia merawat iman adalah bahagia yang sadar bahwa iman bukan warisan mati tak bergerak tak bisa berubah, melainkan amanah hidup. Ia harus dijaga setiap hari, terutama di bulan Sya‘ban. bulan latihan, bulan penyelarasan, bulan menguatkan fondasi batin.

Iman yang dirawat dengan ilmu, dzikir, amal, doa, dan penjagaan diri akan tumbuh tenang dan kokoh. Dan iman yang terawat itulah yang mengantarkan kita memasuki Ramadhan bukan sekadar sebagai tamu, tetapi sebagai hamba yang siap mensucikan hati dan lebih mendekatkan diri kepada Allah. Aamiin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama