Bahagia Merawat Hidayah

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3890
Selasa, 22 Sya'ban 1447

Bahagia Merawat Hidayah
Saudaraku, setelah kita sampai pada kesadaran bahagia memperoleh hidayah, muhasabah ini mengajak kita melangkah lebih jauh, yakni bahagia ketika kita merawat hidayah. Sebab, hidayah bukan hanya anugerah untuk disyukuri, tetapi amanah untuk dirawat. Ia ibarat cahaya; ketika dijaga, ia menerangi jalan, namun ketika diabaikan, ia bisa meredup bahkan padam tanpa disadari.

Meneladani Rasulullah saw di bulan Sya‘ban, kita belajar bahwa hidayah dirawat dengan kesungguhan (jihad, ijtihad dan mujahadah) yang istikamah, bukan dengan semangat yang mekedak-ledak namun sesaat saja. Nabi Muhammad saw bukan hanya orang yang paling mendapatkan hidayah, tetapi juga yang paling serius iatikamah merawatnya. Bahkan beliau sering berdoa: ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi)

Doa ini mengajarkan bahwa merawat hidayah dimulai dari kesadaran akan kelemahan diri kita. Tidak merasa aman dengan hati yang tidak bersandar pada Ilahi, sehingga memiliki kewaspadaan diri.

Secara praktis, menjaga hidayah dimulai dengan menjaga hubungan dengan Allah. Shalat yang terpelihara, bukan hanya dikerjakan asal-asalan; Al-Qur’an yang dibaca ditadaburi, bukan sekadar dimiliki; dan doa yang senantiasa dipanjatkan, bukan hanya dihafal. Inilah mengapa di bulan Sya‘ban seperti ini, Nabi Muhammad saw memperbanyak amal ibadah sebagai cara mempersiapkan hati agar tetap berada dalam lintasan hidayah menjelang Ramadhan.

Cara merawat hidayah selanjutnya adalah dengan merawat konsistensi amal ibadah, meski kecil. Rasulullah saw bersabda: “Amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling terus-menerus meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hidayah sering kali terpelihara bukan oleh amal besar yang jarang, tetapi oleh kebaikan kecil yang istikamah. Dua rakaat shalat sunnah yang rutin, satu halaman Al-Qur’an yang dibaca setiap hari, satu sedekah yang terus mengalir, semua itu menjadi pagar yang handal penjaga cahaya hidayah.

Di sanping itu kita juga harus menjauhi maksiat, dosa dan kelalaian, sekecil apa pun. Dosa tidak selalu langsung memadamkan hidayah, tetapi ia mengaburkan cahaya sedikit demi sedikit. Dalam bulan Sya‘ban, kita diajak membersihkan hati, agar dosa-dosa yang mengeras bisa lebur sehingga tidak menjadi penghalang cahaya saat Ramadhan datang.

Cara praktis lainnya dalam merawat hidayah adslah berikhtiar selalu berada dalam lingkungan yang baik. Hidayah tumbuh subur dalam suasana salih: majelis ilmu, sahabat yang mengingatkan, dan percakapan yang menenangkan. Nabi membangun komunitas iman agar hidayah tidak dipikul sendirian, tetapi dijaga bersama-sama; salingat ingat mengingatkan dalam takwa dan kesabaran.

Untuk itu kita juga harus , memperbanyak istighfar dan muhasabah. Sya‘ban adalah bulan transisi, bulan jeda untuk bercermin: sudah sejauh mana hidayah itu kita jaga? Istighfar membersihkan karat hati, sementara muhasabah menata ulang arah langkah.

Saudaraku, bahagia menjaga hidayah adalah bahagia yang dewasa. Ia tidak merasa cukup hanya dengan “sudah mendapat petunjuk”, tetapi terus memohon agar petunjuk itu tetap hidup dalam diri. Di bulan Sya‘ban ini, marilah kita meneladani Nabi dengan menjaga hidayah melalui doa, amal yang istikamah, penjagaan diri dari dosa, lingkungan yang baik, dan muhasabah yang jujur. Sebab hidayah yang terjaga adalah bekal terindah untuk memasuki Ramadhan, bukan sekadar kuat beramal, tetapi juga lurus dalam niat dan arah. Semoga

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama