Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3895
Ahad, 27 Sya'ban 1447
Bahagia Memperindah Sarana Ibadah
Saudaraku, setelah kita bermuhasabah tentang merawat iman, ilmu, amal shalih, dan kesehatan, kini kita melangkah pada satu sisi yang sering tampak sederhana namun sangat agung nilainya: bahagia merawat kebersihan dan menjaga keindahannya, terutama di rumah-rumah Allah, ya masjid, mushalla, langgar, surau, rumah, tempat tinggal kita dan lingkungan sekitarnya.
Islam adalah agama yang mencintai kebersihan. Rasulullah saw menanamkan bahwa kebersihan adalah bagian dari iman. Maka menjaga kebersihan bukan sekadar budaya, tetapi wujud ketakwaan. Keindahan pun demikian, Allah itu indah dan mencintai keindahan.
Meneladani Nabi di bulan Sya‘ban, kita belajar tentang persiapan. Sya‘ban adalah bulan persiapan menyambut Ramadhan. Jika hati kita dibersihkan dengan taubat, ilmu diberdayakan dengan belajar, amal diperkuat dengan pengamalan yang istikamah, dan kesehatan dijaga dengan disiplin, maka tempat dan lingkungan ibadah pun layak dipersiapkan dengan kebersihan dan keindahannya.
Gotong royong membersihkan dan memperindah tempat ibadah adalah bentuk nyata dari muhasabah kolektif. Kita tidak hanya memperbaiki diri secara pribadi, tetapi juga memperbaiki ruang bersama agar lebih layak untuk sujud, terawih, pengajian, tilawah Qur'an, juga bermunajat.
Secara praktis, merawat kebersihan dan keindahan dapat dilakukan dengan: Pertama, membersihkan tempat ibadah, mesjid, mushala, langgar, surau, rumah dan lingkungan sekitar secara menyeluruh. Menyapu, mengepel, mencuci dan merapikan karpet, membersihkan jendela, tempat wudhu, dan halaman Setiap debu yang diangkat bisa menjadi saksi cinta kita kepada rumah Allah.
Kedua, memperbaiki dan melengkapi sarana prasarana. Mengecat dinding yang sudah kusam, lampu yang redup diganti, pengeras suara diperiksa, tempat wudhu diperbaiki, rak mushaf dirapikan, sajadah atau karpet dicuci, tempat parkir yang memadahi disiapkan. Semua ini adalah bagian dari pelayanan kepada jamaah agar ibadah lebih nyaman dan khusyuk.
Ketiga, menata keindahan dengan sederhana namun rapi. Tidak berlebihan, tetapi bersih dan tertata. Keindahan dalam Islam bukan kemewahan, melainkan kerapian dan keteraturan yang menenangkan jiwa.
Keempat, menumbuhkan budaya menjaga kebersihan bersama. Tidak hanya bersih saat kerja bakti, tetapi dijaga setiap hari. Jamaah dibiasakan merapikan sajadah, tidak membuang sampah sembarangan, tidak merokok lagi dan menjaga fasilitas dengan penuh tanggung jawab.
Kelima, meniatkan semua itu sebagai ibadah.
Inilah ruhnya. Jika diniatkan karena Allah, maka menyapu pun bernilai pahala, mengepel juga ibadah, membersihkan dan mengangkat sampah pun menjadi amal shalih.
Saudaraku, di bulan Sya‘ban ini, ketika kita meneladani Nabi dalam mempersiapkan diri menyambut Ramadhan, mari kita juga mempersiapkan rumah-rumah ibadah, rumah kita, lingkungan sekitar dengan gotong royong dan kebersamaan. Sebab Ramadhan bukan hanya peristiwa pribadi, tetapi peristiwa umat.
Bahagia merawat kebersihan dan keindahan adalah bahagia menyambut tamu agung bulan Ramadhan dengan tempat yang bersih, hati yang bersih, dan niat yang bersih. Semoga setiap langkah kita menuju masjid, setiap sapuan yang kita lakukan, dan setiap upaya memperindah rumah Allah menjadi saksi cinta kita kepada-Nya. Dan semoga Ramadhan yang akan datang menemukan kita dalam keadaan siap lahir dan batin. Aamiin.
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3895