Bahagia Ringan Berbagi

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3879
Jumat, 11 Sya'ban 1447

Bahagia Ringan Berbagi
Saudaraku, setelah kita berikhtiar melebur dosa di bulan Sya‘ban, membersihkan hubungan vertikal dengan Allah melalui istighfar dan menata hubungan horizontal dengan saling memaafkan, maka ada satu amalan  yang secara alami tumbuh dari hati yang bersih itu yakni ringan berbagi. Sebab hati yang telah diringankan dari beban dosa akan cenderung meluap dalam kebaikan, bukan mengerut dalam perhitungan.

Berbagi bukan sekadar memberi; ia adalah bertransaksi dengan Allah Ta‘ala. Sebuah perniagaan yang keuntungannya bukan hanya pasti, tetapi berlimpah bahkan berlipat ganda. Nabi Muhammad saw mencontohkan bahwa kedermawanan beliau mencapai puncaknya menjelang dan pada bulan Ramadhan, khususnya di bulan Sya‘ban. Dalam riwayat disebutkan, Rasulullah saw adalah pribadi paling dermawan, dan kedermawanan beliau semakin nyata ketika waktu-waktu suci mendekat.

Mengapa demikian? Karena Sya‘ban adalah bulan persiapan. Bila puasa melatih menahan diri, shalat melatih ketundukan, dan istighfar membersihkan jiwa, maka berbagi melatih keikhlasan dan kepercayaan penuh kepada Allah.  Dan Allah menegaskan logika langit ini: “Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap-tiap tangkai ada seratus biji.”(QS. Al-Baqarah 261)

Inilah perniagaan yang melampaui logika dunia. Secara matematis, memberi tampak mengurangi. Namun secara spiritual, memberi justru menghadirkan vibrasi kebaikan—getaran iman yang melampaui hitungan rasional. Ia menenangkan pemberi, menguatkan penerima, dan menghangatkan suasana sosial.Getarannya menjalar ke semesta: dari tangan ke hati, dari hati ke kehidupan.

Berbagi di bulan Sya‘ban juga merupakan latihan empati menjelang Ramadhan. Kita belajar merasakan kebutuhan orang lain sebelum lapar itu benar-benar menjadi pengalaman bersama. Kita belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari memiliki, tetapi sering kali tumbuh dari memberi dengan tulus.

Dan menariknya, saudaraku, berbagi tidak selalu tentang materi atsu harta benda. Ia bisa berupa ilmu, waktu, tenaga, perhatian, doa, senyum, atau kesediaan mendengar. Semua itu adalah bentuk infak yang Allah nilai, bila diniatkan karena-Nya. Inilah sebabnya berbagi disebut sebagai ikhtiar yang melahirkan vibrasi, karena ia menyentuh dimensi ruhani yang tak kasatmata, namun sangat nyata dampaknya.

Maka, meneladani Nabi di bulan Sya‘ban berarti menjadikan berbagi sebagai kebiasaan, bukan pengecualian. Kita menyiapkan hati agar tidak kaget saat Ramadhan menuntut lebih banyak pengorbanan. Kita latih diri untuk ringan tangan dan lapang dada, sebab di situlah letak kebahagiaan yang halus namun mendalam. Semoga Allah menerima setiap bentuk berbagi kita sebagai amal shalih, melipatgandakannya dengan keberkahan, dan menjadikannya jembatan yang mengantarkan kita menuju Ramadhan dengan jiwa yang kaya, meski tangan sederhana. Aamiin.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama