Kesucian Niat

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3282
Ahad, Muhasabah 2 Zulhijah 1445

Kesucian Niat
Saudaraku, syiar Allah sebagaimana telah diingatkan dalam muhasabah yang baru lalu dimaknai kesucian yang harus dijaga agar tetap dalam keridhaan Allah ta'ala. Dalam konteks berhaji di antaranya kesucian niat. 

Bagi umat Islam di Indonesia, niat berhaji umumnya, tentu sudah terbetik jauh sebelum sampai di tanah suci itu sendiri. Bisa  jadi ketika berkemampuan saat mendaftar haji untuk mendapatkan porsi puluhan tahun yang lalu sebelum datang ke tanah suci ini. Dan tentu niat berhaji kini dikuatkan kembali dengan mengikrarkan nya saat hendak menjalani prosesi haji. 

Hal yang paling penting adalah kesucian niat berhaji yang terbetik di hati musti dijaga agar tidak melenceng atau tercemari oleh hal-hal yang justru tidak prinsipnya. Menunaikan haji dengan maksud tour, berwisata, berniaga apalagi bisnis dalam ibadah, popularitas, politik, istirahat atau apapun yang tidak lillah tentu harus dihindari meski sering menggiurkan hati. 

Demikian juga bagi kita dan saudara-saudara yang tidak ke berhaji ke tanah suci  tentu kesucian niat berkurban juga musti dijaga. Berkurban meski sunat tapi amat ditekankan sehingga menjadi sunat muakad, dan seolah menjadi fardhu bagi yang berkemampuan. Di sini tetap harus diwaspadai unsur-unsur yang berpotensi mengurangi ketulusan hati untuk berkurban. 

Memori ibadah haji 1444
Muhasabah 2 Zulhijah 1444
Mungkin Hanya Sekali
Saudaraku, secara umum bagi kita umat Islam dari Indonesia atau umat Islam dari negara-negara yang tempatnya relatif jauuuh 0dari tanah suci atau Haramain, bisa beribadah apalagi dalam rangkaian ibadah haji di tanah suci merupakan moment langka, sangat berharga dan spesial, bahkan mungkin saja hanya satu sesekalinya yang tak akan terulang sepanjang hayat. Tentu, tetap ada pengecualian, terutama ketika Allah memanggil kita ke sini lagi. Insyaallah.

Oleh karenanya kesempatan beribadah di tanah suci musti disyukuri dengan memaksimalkan ibadah. Apalagi semua praktik dan amal ibadah yang kita kerjakan di tanah haram khususnya di Masjid Nabawi dilipatgandakan keutamaannya hingga 1.000 kali lebih daripada selain di tanah haram. Dan semua amal ibadah yang kita lakukan di tanah haram khususnya di Masjidil Haram keutamaannya dilipatgandakan hingga 1.500 kali lebih daripada selain di tanah haram.

Coba bayangkan seandainya kita shalat di Masjid Nabawi di Madinah, maka shalat kita dikira dan memperoleh 1.000 lebih keutamaan dan di Masjidil Haram dikira dan memperoleh 1.500 keutamaannya ketimbang di mesjid lain di manapun. Begitu juga shalat tahajud, shalat dhuha, shalat rawatib, shalat janazah, dzikir, berdoa, tilawah al-Qur'an, wakaf al-Qur'an, sedekah, membantu sesama, membaca Yasin, belajar, menulis dan semua ibadah lainnya. Oleh karena itu 40 hari di kota suci mestinya dapat memvasilitasi kesempatan sebaik-baiknya bagi kita sehingga dapat mendulang pahala sebanyak-banyaknya.

Di samping itu, tidak sedikit dari jamaah yang memanfaatkan moment ke tanah suci ini sebagai taubat nasuha atas sikap dan kebiasaan yang tidak produktif yang masih dilakukan sebelumnya. Misalnya di antara jamaah tidak lagi membuang-buang waktu terbaiknya untuk merokok, tidak ngerumpi lagi, tidak nggibah lagi, tidak acuh tak acuh dengan keluarga lagi dan seterusnya. Oleh karenanya tidak sedikit dari jamaah yang sering menangis saat shalat atau saat berdoa atau saat istighfar menangisi dosa sebelumnya yang telah dilakukannya. Dan tentu berazam tidak akan mengulangi lagi perbuatan yang menyebabkan dosa seraya mengiringi dengan amal ibadah yang bisa dilakukannya sejak di tanah suci ini. 

Maka muhasabahnya, bila di tanah suci, masih saja membuang-buang waktu terbaiknya atau masih merokok, masih nggibah, masih mau senggal senggol perasaan sesamanya, maka di mana lagi tempat kita mau bertaubat mensucikan hati? Dan sungguh sayang jauh-jauh, sudah nunggu sebelas tahun giliran sudah diberangkatkan oleh Allah, eh masih melakukan hal-hal yang dibenci oleh Allah, masih merokok, masih nggibah, masih mau senggal senggol sesamanya dan akhlak buruk lainnya. Jauh sekali kita hanya untuk hal-hal yang dibenci Allah.

Bila di depan Raudhah tidak ingat Nabi Muhammad saw dan para sahabat mulia yang mengajarkan Islam, maka bagaimana di kampung halaman bisa 0mencintainya. Bila melihat Ka'bah juga tidak terbetik akan kebesaran Allah, lalu di mana lagi hati ini mampu mensyukuri segala karuniaNya. Bila di depan Multazam tidak bisa menangis saat berdoa, lalu di mana lagi tempat yang mengantarkan diri akan kekerdilannya. Bila di Arafah tidak bisa juga mengenali diri dan Rabbnya, lalu di mana lagi. Begitulah seterusnya.

Semoga semua kita menjadi lebih bijak bersikap. Aamiin ya Mujjb al-Sailin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama