'Ibad al-Rahman

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian ke-3287
Kuningan Jawa Barat, Jumat, 7 Zulhijah 1445

'Ibad al-Rahmah
Saudaraku, untuk bisa larut dalam aura Ilahiyah sebagaimana telah diingatkan dalam muhasabah yang baru lalu tentu perlu ikhtiar dan doa permohonan tulus hanya kepada Allah jua. Dengan kata lain dapat direngkuh hanya dengan ketaatan. Dalam al-Qur'an kita bisa mengambil ibrah misalnya dari ketaatan para  'ibad al-Rahman, hamba yang pengasih. 

Allah berfirman yang artinya  Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan "salam," (Qs. Al-Furqan 63) 

'Ibad al-Rahman ialah mereka yang hidup dengan ketaatan hanya kepada Allah taala saja dan tidak pernah menunda-nunda untuk bertaubat. Juga tidak mengundur-undur kesempatan untuk beribadah kepada Allah dan beramal shalih sehingga bisa memberi manfaat pada sesama. Semua ini dilakukan semata-mata hanya keinginan dapat menggapai ridha Allah Ta'ala. 

Inilah mengapa, 'Ibad al-Rahman termasuk orang-orang yang amat setia keislamannya, setia pada keimanannya dan setia mencintai Allah serta berharap berjumpa dengan-Nya. Di samping itu, tentu para 'Ibad al-Rahman adalah orang-orang yang setia mencintai Rasulullah Muhammad saw serta menjadikannya  sebagai suri teladan dalam kehidupannya. Seterusnya, juga mencintai para sahabat Nabi dan kaum muslimin serta menginginkan berkumpul di surga kelak bersama-sama di bawah pimpinan Nabi yang mulia. 

Dalam kehidupan sosialnya, para 'Ibad al-Rahman juga selalu bersikap rendah hati dan jauh dari sikap menyombongkan diri atas alasan apapun, baik keturunan, kekayaan, kerupawanan maupun ketaatannya. sikap sayang dan welas asih selalu mewujud secara praktis dalam kesehariannya. Semoga kita menjadi di antara 'Ibad al-Rahman. Aamiin

Memori ibadah haji tahun 1444
Muhasabah 7 Zulhijah 1444
Dhuyuf al-Rahman
Saudaraku, menunaikan ibadah haji itu memenuhi panggilan Allah, maka ketika sampai di tanah suci para jamaah disebut dhuyuf al-Rahman, para tamu Allah. 

Karena telah memenuhi undangan atau panggilan Allah, maka para jamaah benar-benar dimuliakan oleh Allah; memperoleh layanan dan jaminan keananan dan kesejahteraan. Semuanya Allah yang mengatur. Para jamaah mendapatkan layanan spesial bahkan sejak kedatangannya. Di samping ditempatkan dan mendapatkan akomodasi yang amat nyaman menyenangkan, juga pengalaman religiusitas yang tak bisa diperhitungkan dengan harta benda seberapapun besarannya.

Pengalaman religiusitas yang kaya bagi masing-masing jamaah, akan tersimpan rapi di relung-relung hati yang paling dalam. Inilah pengalaman religius yang akan menambah ghirah dan gairah berislam lebih baik, lebih kaffah.

Hanya saja sebagai tamu Allah di rumahNya, Baitullah, kita semestinya sopan, tahu diri, menjaga akhlak, tidak greh groh, apalagi bersikap sombong. Karena bila memiliki sifat dan sikap yang kontra produktif seperti ini, maka justru dikhawatirkan akan merugikan diri sendiri. Tentu, tuan rumah tidak berkenan, sehingga kita ditegur - dengan ujian - atau diacuhkan permintaan atau bahkan kehadirannya.

Jamuan istimewa yang disediakan oleh Allah adalah ampunan dan keberkahan. Semoga kita menjadi tamu-tamu Allah (dhuyuf al-Rahnan) yang baik, yang sopan dan yang menyenangkan Allah, pemilik rumah, Baitullah. Dan menikmati ampunan dan keberkahan yang disediakanNya. Aamiin ya Mujib al-Sailin
Tags:
Muhasabah Harian

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama