Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian ke-3288
Klaten, Jawa Tengah, Sabtu, 8 Zulhijah 1445
Di antara Ketaatannya
Saudaraku, di antara ketaatan para 'ibad al-Rahman atau hamba yang pengasih seterusnya adalah menghabiskan waktu malam untuk beribadah pada Allah. Tetapi tentu hak tubuh untuk beristirahat tetap dipenuhi. Hanya saja dengan mengambil air sembahyang dan berdoa sebelum tidur, maka tidur istirahat malamnya sudah dihitung ibadah.
Dan istikamah bangun di sepertiga malam terakhir untuk qiyamul lail bersambung dengan berdzikir, dzikrullah, berdoa dan istighfar di waktu sahur hingga datangnya pelaksanaan shalat subuh. Serangkaian ibadah subuhan pun ditunaikan di awal waktunya. Bila ini dilakukan maka sudah menghabiskan seluruh malam untuk ibadah pada Allah.
Allah berfirman yang artinya dan orang-orang yang menghabiskan waktu malam untuk beribadah kepada Tuhan mereka dengan bersujud dan berdiri. Dan orang-orang yang berkata, "Ya Tuhan kami, jauhkanlah azab Jahanam dari kami, karena sesungguhnya azabnya itu membuat kebinasaan yang kekal," sungguh, Jahanam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman (Qs. Al-Furqan 64 - 66)
Katakanlah, "Maukah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?" Bagi orang-orang yang bertakwa (tersedia) di sisi Tuhan mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan pasangan-pasangan yang suci, serta rida Allah. Dan Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya (Yaitu) orang-orang yang berdoa, "Ya Tuhan kami, kami benar-benar beriman, maka ampunilah dosa-dosa kami dan lindungilah kami dari azab neraka." (Juga) orang yang sabar, orang yang jujur, orang yang taat, orang yang menginfakkan hartanya, dan orang yang memohon ampunan pada waktu sahur. (Qs. Ali Imran 15-17)
Semoga kita termasuk di antara hamba-hambaNya yang pengasih. Aamiin
Memori ibadah haji 1444
Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 8 Zulhijah 1444
Jelang Armuzna
Saudaraku, Armuzna atau Arafah, Muzdalifah dan Mina, sebagai rangkaian puncak ibadah haji sudah hampir tiba. Kini 8 Zukhijah ini jamaah sudah berangsur menuju ke Arafah. Kesibukan Makkah sudah sangat terasa. Jalan-jalan mulai padat merayap, hotel-hotel di sekitar Masjidil Haram hampir tak tersisa, semuanya penuh sesak dengan jamaah. Tapi sebentar lagi semuanya akan merangsek menuju Arafah.
Mencermati kondisi yang terjadi, maka bisa dimengerti mobil yang beroperasi ke Masjidil Haram sudah mulai dikurangi karena kepadatan jamaah. Bahkan sudah dihentikan untuk menyambut arnuzna. Perhatian jamaah sudah beralih dan di arahkan ke Arafah. Konsekuensinya kendaraan pasokan konsumsipun bisa tak bisa beroperasi lagi, maka jamaah musti pandai-pandai menjaga diri dalam memenuhi kebutuhannya secara mandiri. Bayangkan sekitar empat juta jamaah memadati Kota Makkah, bermaksud sama, yakni menanti dan akan menuju Arafah untuk beribadah, di tempat yang sama, dengan kaifiyat yang sama. Kalaupun ada kendaraan terutama bus-bus besar dipastikan sedang dan akan mengangkut jamaah dari hotel-hotel di seputar Masjidil Haram menuju Arafah.
Perhelatan internasional secara tahunan yang menyedot seluruh perhatian umat Islam di manapun berada, apalagi bagi pemerintah Arab Saudi dan masyarakatnya hampir sampai puncaknya, berpusat dan berkumpul di Arafah.
Dari sejak mula, hampir setiap aspek kehidupan terlibat dalam mensukseskan penyelenggaraan ibadah haji. Sisi akomodasi, keamanan, ketertiban sosial dan kenyamanan jamaah menjadi prioritas yang harus dijamin. Demikian juga aspek kebersihan dan kesehatan, ketersediaan logistik yang memadahi.
Armuzna yang dinanti oleh jutaan jamaah haji tinggal esok hari. Jamaah sudah harus berkemas secara lahiriyah maupun batiniyah agar saat beribadah di Armuzna meraih berkah. Dengan mengenakan pakaian ihram, mensucikan niat, memperbanyak talbiyah saat sejak beranjak ke Arafah, dan kini seluruh jamaah sudah berdiam diri wukuf di Arafah hingga pada tanggal 9 Zulhijah agar lebih mengenali diri dan mengenali Ilahi. Siapa diri saya, dari mana asalnya, untuk apa dilahirkan ke dunia ini, dan mau ke mana kita kan kembali. Bila semua ini sudah dipahami, maka pasti kan mengenali Ilahi. Man arafa nafsahu faqad 'arafa Rabbahu. Sesiapa mdngenali dirinya, maka akan mengenali Rabbnya. Aamiin ya Mujib Al-Sailin
Tags:Muhasabah Harian
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3288