Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 15 Zulkaidah 1444
Tempat Lahir
Saudaraku, sebagaimana diketahui bahwa ibadah haji hanya bisa ditunaikan di tanah suci, Makkah Al-Mukaramah, di bulan-bulan haji, dan puncaknya saat arafah bulan Zulhijjah di Padang Arafah. Karena dilakukan di tanah suci Saudi Arabia, maka jamaah yang berasal dari berbagai-bagai negeri harus memiliki kemampuan (istita'ah) menunaikannya. Istita'a di sini setidaknya meliputi kemampuan finansial, keamanan, kesehatan fisik dan waktu.
Karena rangkaian pelaksanaannya relatif lama, maka para jamaah akan tinggal beberapa waktu di tanah suci. Di sini penting rasanya kita mengenali barang sedikit tentang kondisi di Haramain. Sebagai kota tujuan ibadah umat Islam sedunia, maka di Haramain terutama di sekitar Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah banyak sekali berdiri hotel-hotel yang amat megah menjulang tinggi.
Bila di seputar Masjid Nabawi ketinggian hotel pada umumnya 13 lantai, maka di seputar Masjidil Haram bisa mencapai 30 an lebih. Jadi Ka'bah dengan menyisakan tempat thawaf dan shalat sudah dikelilingi dengan hotel-hotel yang megah. Memang ada gunung-gunung batu cadas yang masih tersisa tetapi nuansa padang pasir terutama di seputar masjid haramain telah disulap menjadi perkotaan yang amat maju.
Rasanya sudah sungguh sangat kontras dengan ilustrasi yang kita baca di buku-buku tarikh Islam, dimana gambaran negeri gurun pasir mereprentasi Makkah juga Madinah, yang di kota sekalipun.
Barangkali hanya suhu udara antara dulu dan kini yang relatif sama, dikenal sebagai zona yang panasnya bisa empat puluhan derajat celcius. Meski kemudian disiasati dengan mesin pendingin, seperti di dalam Masjidil Haram sudah terasa sangat nyaman. Bahkan marmar di seputar Ka'bah tempat putaran bertawaf terasa dingin meski diterpa terik matahari. Tempat sa'i antara bukit Shafa dan Marwah juga sudah sangat nyaman, sejuk berAC, berlantai marmar, disediakan air zam-zam yang melimpah di beberapa titik, beratap baja dan beton serta jalannya satu arah dari Shafa ke Marwah, dari Marwah ke Shafa di lajur yang berbeda.
Rumsh tempat Nabi Muhammad saw dilahirkan, tentu kondisinya tidak seperti pada tahun Gajah 14 abad yang silam, kini tampak dari kejauhan rumah yang elegan berwarna coklat muda atau krem sebelah kiri dari terminal bus jamaah Indonesia ke arah Masjidil Haram.
Ya di rumah inilah, Nabi Muhammad saw dilahirkan. Hari itu adalah Senin 12 Rabiul Awwal Tahun Gajah (tahun di saat Abrahah dengan pasukan gajahnya hendak menghancurkan Ka'bah namun tidak berhasil) lahir seorang bayi laki-laki yang oleh kakeknda kemudian diberi nama Muhammad. Sembari membopong sibayi mungil, Abdul Muthalib melakukan thawaf pertanda bersyukur pada Allah atas karuniaNya.
Ketika ditanya mengapa cucunya diberi nama yang tidak lazim dalam tradisi Arab jahiliyah, Abdul Muthalib menjawab " melalui nama Muhammad berharap agar cucunya menjadi orang terpuji baik dalam pandangan Allah dan makhluk di langit maupun terpuji dalam pandangan makhluk di bumi.
Dan ternyata benar. Masa mudanya sudah dikenal sebagai seorang yang jujur bahkan digelari al-Amin, masa dewasanya dibi'tsah sebagai seorang Rasulullah, utusan Allah yang menyampaikan Islam ke seluruh penduduk di bumi. Zaman menjadi saksi, ajarannya diikuti, namanya disebut saban saat mengiringi Allah Rabbuna.
Semoga kita juga menjadi mulia bersama menjadi pengikutnya. Aamiin ya Mujib al-Sailin
Tags:
Muhasabah Harian