Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 16 Zulkaidah 1444
Berdoa di Multazam
Saudaraku, sungguh merupakan nikmat yang tak terhingga kita dapat memenuhi panggilan Allah ke rumahNya, yakni di Baitu Allah. Sejatinya rasa itu sudah bersemi saat kita mendaftarkan diri mengambil nomor porsi haji. Dan semakin terasa kebahagiaan itu ketika Allah benar-benar megijabah niat kita berhaji ke tanah suci, menjadi para tamu Allah, dhuyuf al-Rahman.
Kebahagiaan demi kebahagiaan terus dirasakan oleh jamaah haji seiring dengan kesempatan yang diraih dalam pengamalan dan pengalaman religiusnya masing-masing, seperti bersimpuh di Masjid Nabawi menepati arba'in, berdoa di Raudhah atau di sisi makam Nabi, miqat di Bir Ali, melihat Ka'bah, shalat di makan Ibrahim dan bermunajat di depan Multazam.
Tetapi tentu, untuk meraih tempat-tempat prioritas ibadah apalagi yang mustajabah doa itu tidak mudah, perlu doa dan musti ikhtiar yang memadahi, apalagi kini di musim haji yang jamaah dari berbagai negeri sudah mulai memadati tempat suci.
Di antara tempat mustajabah doa yang menjadi incatan para jamaah ubtuk meraihnya adalah berdoa di Multazam. Multazam yang berada di antara Hajar Aswad dan pintu Ka'bah. Nabi Muhammad SAW dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Al-Baihaki dari Ibnu Abbas, mengatakan, "Antara Rukun Aswad dengan pintu Ka'bah disebut Multazam. Tidak ada orang yang minta sesuatu di Multazam, melainkan Allah mengabulkan permintaan itu". Yang disebut dengan Rukun Aswad adalah pojok Ka'bah yang terdapat Hajar Aswad.
Sudah bisa ditebak bagaimana sulitnya mencapai tempat mustajabah doa tersebut, karena selalu terjadi penumpukan jamaah di situ. Kita dan mayoritas janaah asal Asia Tenggara memiliki postur tubuh yang relatif kecil lemah lembut bila berhadapan dengan desakan tubuh-tubuh kekas besar tinggi kuat saudara kita dari benua Afrika atau Eropa, bila tidak "jihad" disertai kecerdasan maka rasanya sulit meraihnya. Oleh karena itu pesan dari jamaah yang berhadil meraihnya, ya berdoa dan pandai-pandai kita sajalah.
Berdoa di Multazam ternyata juga dilakukan oleh Nabi Adam as. Disebutkan bahwa ketika selesai melakukan thawaf, Nabi Adam langsung mengerjakan shalat dua rakaat di depan pintu Ka'bah dan terus berdiri di depan Multazam seraya berdoa, "Ya Allah, segala apa yang aku rahasiakan dan segala apa yang aku lakukan terbuka, terimalah pengaduanku. Engkau Maha Mengetahui apa yang yang ada di dalam jiwaku dan segala apa yang ada padaku. Ampunilah dosa-dosaku.
Ya Allah, Engkau Maha Mengetahui segala apa yang aku perlukan, berikanlah kepadaku apa yang aku minta. Ya Allah, aku mohon kepada-Mu iman yang memenuhi hati dan keyakinan yang mantap benar sehingga menyadarkan aku kecuali apa yang telah Kau pastikan untukku, dan menyadarkan aku sehingga aku rela atas apa yang Kau tetapkan untukku."
Setelah berdoa demikian, Allah lalu menurunkan wahyu kepada Nabi Adam yang artinya: "Ya Allah yang memelihara al-Bait al-Attiq (Ka'bah) merdekakanlah kami, bapak-bapak kami, ibu-ibu kami, saudara-saudara kami dan anak-anak kami dari belenggu api nereka, wahai Yang Mahamurah, Yang Mahamulia, Yang Mahautama, Yang Maha Pengarunia, Yang Maha Pemberi Kebaikan. Ya Allah, jadikanlah segala urusan kami mendatangkan kebajikan, jauh dari segala kehinaan dunia dan siksa akhirat. Ya Allah, aku ini hamba-Mu dan anak hamba-Mu yang sedang berdiri di bawah rumah-Mu di Multazam, aku menghadap dan bersimpuh di hadapan-Mu. Aku mengharapkan rahmat-Mu, takut akan siksa-Mu, wahai Pemberi Kebajikan.
Ya Allah aku memohon kepada-Mu, terimalah zikirku, ampuni dosa-dosaku, mudahkanlah urusanku, sucikanlah hatiku, sinarilah kuburku, ampunilah dosaku, dan aku mohon kepada-Mu berikanlah derajat tinggi di surga." (HR Imam Hambali).
Dan dengan bahasa sendiri, di sinilah di antara tempat memohon dan mengadu pada Allah. Tentu, apapun cita-cita dan permohonan kebaikan hidup bisa kita sampaikan kepada Allah sepuas-puasnya. Mumpung kita berada di rumahNya, mumpung kita bisa nemenuhi panggilanNya, kita dapat lebih dekat dan lebih dapat berharap makbul segala hajat.
Kita memohon kemudahan dan keberkahan hidup kita, orangtua kita, saudara-saudara kita. Saat kita berdoa begitu jelas terlintas di benak kita orang-orang tercinta yang kita doakan, orangtua, anak, saudara dan handai taulan yang titip doa. Demikian juga kebaikan dan kebijakan para pemimpin kita.
Aamiin ya Mujib al-Sailin
Tags:
Muhasabah Harian