Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 14 Zulkaidah 1444
Melihat Ka'bah
Saudaraku, karena niat ke tanah suci adalah untuk ibadah, maka sesampai di Hotel Kiswah pukul 01.00 dini hari, maka hati dan pikiran juga diliputi keinginan untuk bersegera ke Masjidil Haram. Apalagi shalat di sana pahala dan kebaikannya 100 000 kali dari shalat di masjid selainnya.
Tetapi karena belum mengenali kondisi, tempat dan jalan pulang pergi ke Masijidil Haram, googlemap juga tidak memadahi, maka kami harus bersabar sampai pagi hari. Shalat malam dan subuhan memada di mushala hotel yang relatif luas dan banyak menampungi jamaah.
Karena masih dalam kondisi ihram, maka usai sarapan dan mandi tanpa sabun tanpa wewangian apapun dan berbusana ihram kain yang tidak berjahit, kami bergegas ke lobby hotel tempat berkumpul yang diarahkan oleh panitia. Setelah agak lama menunggu kelengkapan jamaah dan prosesi administrasi seperti pasang gelang berbarcode, kami ternyata diangkut dengan bus-bus yang memang sudah menunggu. Dengan melihat menara-menara Masijidil Haram, saya pikir bisa ke sana ditempuh dengan berjalan kaki seperti saat pergi pulang ke Masjid Nabawi di Madinah. Apalagi lihat di google map hanya sekitar dua km saja. Dua km harus menyusuri jalan yang belum dikenali, beliuk-liuk karena hotel-hotel menjulang dan penuh tentu berisiko.
Ternyata menggunakan bus sekalipun juga rada panjang rutenya, mungkin jalannya searah saja, sehingga harus memutar dan menuju terminal dekat Masijidil Haram.
Dari terminal pemberhentian bus khusus yang melayani jamaah Indonesia ke Ka'bah Masijidil Haram, ternyata masih sekitar 1 km dan melalui proses masuk yang relatif ketat, menggunakan aplikasi seperti ketika di Masjid Nabawi ketika mau masuk ke Raudhah dan makam nabi.
Ya, secara bersama-sama seluruh jamaah kloter 1 asal Aceh sekitar 400 orang merangsek mendekat Ka'bah yang belum tertangkap oleh indera mata karena berada di sebalik jam gadang dan bangun-bangunan lain dengan sesekali berhenti mengikuti prosesi administrasi dan menanti jamaah yang tertinggal dengan terus melafalkan doa agar ibadah umrah (ihram, tawaf, sa'i dan tahalul) nya dimudahkan dan diberkahi oleh Allah.
Sekitar pukul 10.00 pagi kami benar-benar masuk Masijidil Haram dan melihat Ka'bah pertama sekali secara langsung seraya memanjadkan doa. Saking bahagia, trenyuh, khusyuk dan menghayati, maka banyak di antara jamaah yang menangis bahkan sesunggukan. Tak kusadari pipi juga sudah basah dengan air mata bahagia. Subhanallah walhamdulillah ya Allah, syukurku kepadaMu ya Allah ya Rabb atas karuniaMu ini.
Secara lahiriyah, Kaʿbah, berarti 'kubus' sesuai bentuknya. Lengkapnya al-Kaʿbah al-Musyarrafah ٱلْكَعْبَة ٱلْمُشَرَّفَة, yang berarti 'Ka'bah yang Mulia'. Secara terminologi, Ka'bah adalah sebuah bangunan di tengah-tengah masjid paling suci dalam agama Islam, Masjidil Haram, di Makkah. Di sinilah tempat yang paling disucikan dalam agama Islam dan oleh umat Islam. Ka'bah juga disebut sebagai Baitullah atau Bait Allah ( بَيْت ٱللَّٰه, atau 'Rumah Allah'), serta merupakan kiblat (قِبْلَة, atauarah hadap) untuk orang Islam di seluruh dunia saat mendirikan shalat.
Bangunan Ka'bah sendiri pbeberapa kali disebutkan dalam Al-Qur'an dan Hadits, seperti Bait (Rumah), Bait al-Haram (Rumah Suci), Baitullah (Rumah Allah), Bait al-Ateeq (Rumah Tua), dan Awal al-Bait (Rumah pertama), Bait al-Ma'mur, [Qur'an At-Tur:4] Rumah Allah di Surga dan Ka'bah di bawahnya, disebut dalam Hadits para Malaikat melakukan Tawaf dan Shalat.
Setelah berdoa melihat Ka'bah dibimbing oleh pembimbing haji kami serombongan mulai masuk ke barisan sekeliling Ka'bah untuk thawaf. Karena tujuh putaran, maka tetap saja ada yang terpisah karena saat thawaf ada yang jalannya sangat lamban dan juga berbaur bercampur berdesakan dengan jamaah lain dari berbagai bangsa, termasuk saya dan istri. Dan alhamdulillah thawaf telah selesai ditunaikan.
Setelah selesai mencukupkan bilangannya, kami mencoba merangsek mendekat Ka'bah hingga benar-benar berhasil menyentuh dinding Kakbah sembari berdoa sepuasnya. Setelah selesai berdoa kami keluar dari kerumunan barisan menjauh dari Ka'bah untuk shalat dua rekaat setentang maqam ibrahim.
Dengan mensyukuri IT alat komunikasi, yang terpisah - meski tidak mudah - ada yang akhirnya bisa berkumpul dengan rombongan asal Aceh. Lalu jamaah melakukan rukun umrah berikutnya setelah ihram dan thawaf adalah sa'i. Sa'i lari-lari kecil terutama pada bagian pertengan jalan Marwa - Shafa, atapnya ditandai lampu hijau. Kini antara lari-lari kecil perlambang hidup itu musti ikhtiar antara Marwa - Shafa memang tidak seperti dulu tandus berbukit, tapi sudah sangat nyaman, sejuk berAC, berlantai marmar, disediakan air zam-zam yang melimpah di beberapa titik, beratap baja dan beton serta jalanya satu arah dari Shafa ke Marwah (kali ke-1), dari Marwah ke Shafa (kali ke-2), Shafa ke Marwah (kali ke-3), dari Marwah ke Shafa (kali ke-4), daru Shafa ke Marwah (kali ke-5) dari dari Marwah ke Shafa (kali ke-6), dari Shafa ke Marwah (kali ke-7).
Alhamdulillah, sampai di sini sa'i sudah selesai dan ditutup dengan tahalul, mencukur atau memotong rambut.
Karena kebetulan waktu sudah dekat dengan pelaksanaan Jumat maka kami meneruskan dengan iktikaf di pinggir jalan Shafa - Marwah. Usai shalat Jumat di Masjidil Haram yang pertama sekali, kami terus bergegas ke terminal bus yang memang sudah menanti untuk kembali ke hotel dimana kami tinggal.
Karena rangkaian dari haji tamatu', maka umrah kali ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan haji nantinya, makanya kemudian dikenal dengan haji tamattu'. Haji tamattu' adalah mendahulukan umrah dari haji. Dalam praktiknya jamaah memakai ihram dari mikat dengan niat umrah pada musim haji, setelah tahalul, memakai ihram lagi dengan niat haji pada hari Tarawiah (8 Zulhijah). Bagi yang melaksanakan haji tamattu' diwajibkan membayar dam, (seharga) seekor kambing.
Alhamdulilah
Tags:
Muhasabah Harian