Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 23 Zulkaidah 1444
Pasar Kaget
Saudaraku, muhasabah kali ini masih tentang merekam pengalaman dan serba-serbi haji di tanah suci. Ketika jamaah dari berbagai negeri sudah berhimpun di sekitar Masjidil Haram, maka konsentasi pada penunaian puncak ibadah haji kian dekat.
Jamaah haji asal Indonesia gelombang 1 yang umumnya mengambil arba'in di Masjid Nabawi Madinah kini hampir semuanya telah merangsek dan berhimpun di sekitar Masjidil Haram. Seperempat juta jamaah dari Indonesia turut memadati dan menetap di hotel-hotel pencakar langit di seputaran Masjidil Haram. Karena semuanya bermaksud ibadah, maka hampir tanpa jeda, saban saat Masjidil Haram juga dipadati oleh jamaah yang beribadah, baik melakukan umrah wajib, umrah sunah, umrah badal dengan serangkaian ambil miqat thawaf, sa'i, dan tahalul. Di samping itu juga banyak yang shalat beragam kepentingan, iktikaf, berdoa, dzikir dan tilawah Qur'an. Jamaah silih berganti datang dan pergi sehingga lorong-lorong masjid, pintu-pintu keluar masuk meski amat banyak tetap saja padat merayap. Di pelataran dan halaman yang amat luas Masjidil Haram bagai lautan manusia, padat dan merayap.
Usai shalat subuh lengkap dengan munajat masing-masing, jamaah keluar - tetapi juga banyak yang baru sampai - menyusuri jalan menuju terminal bus atau langsung menuju ke hotel tenpat menginap masibg-masing. Tak tercuali kami dan umumnya jamaah asal Indonesia meski 2 km tapi biasanya tersendat di perjalanan karena singgah sana sini untuk bertransaksi di banyak stand dadakan, yang saya sebut sebagai pasar kaget. Kaget karena pasar - adalah tempat berdagang (berjualan) dan tempat penjual dan pembeli bertransaksi, dimana pada lokasi tersebut pedagang menyediakan dan memajang (display) barang dagangan mereka yang nantinya akan dibeli oleh para pengunjung - tiba-tiba ada dan sebentar kemudian tidak ada lagi.
Berbagai barang dijajakan di pinggir-pinggir jalan, bahu jalan, lahan parkir atau di tempat yang memungkinkan. Pasar kaget kali ini menyediakan beragam barang mulai dari baju, gamis, baju anak-anak, jilbab, surban, sajadah, peci arab, arloji, biji tasbih, pernak pernik perhiasan, parfum aneka minyak wangi, mainan anak-anak sampai batu akik.
Hebatnya lagi, pasar kaget juga bertaburan di pelataran atau pinggir-pinggir jalan di depan hotel tempat jamaah menginap. Mereka para penjual yang kebanyakan asal Indonesia, atau Bangladesh tahu di mana pangsa pasar atau komsumen berhimpun sehingga berharap dapat meraup untung besar bila laris manis.
Di pasar kaget ini hampir persis "pasar tradisonal" seperti yang ada di tanah air. Di samping barang-barang khas Arab, keberadaan pasar kaget di seputar hotel ini juga cukup mengobati rasa kangen terhadap kampung halaman. Pasalnya di pasar kaget ini kita mau nyari bakso ada, bakmi ada, karing ada, ikan pepes ada, ikan tongkol ada, ikan teri ada sate ada, pecel ada, bubur sumsum ada, bubur kacang hijau ada, gorengan bakwan tahu tempepun ada. Semuanya siap saji, siap disantap di pagi hari.
Soal harga, ya kaget sikitlah, hampir semua paket atau item makanan harganya 5 RS (lima Riyal Saudi) ya kira-kira setara dengan 25.000 uang Jokowi. begitu mereka menyebut. Satu paket gorengan berisi 3 potong bakwan, atau 3 potong kue donal atsu lainnya. Suasananya terasa di tanah air, apalagi satuk hotel penuh jamaah Indonesia.
Sudah dulu ya, nanti lihat-lihat lagi. Kini mari sambung tilawah lagi sembari nunggu adzan subuh.
Tags:
Muhasabah Harian