Pasar Gelap

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 24 Zulkaidah 1444

Pasar Gelap
Saudaraku, pasar kaget sebagaimana rekaman muhasabah yang baru lalu pada pagi ini benar-benar membuat kaget para jamaah, tentu termasuk saya. Kali ini bukan karena dagangannya yang mengingatkan akan kampung halaman, tetapi keberadaan dan legalitasnya.

Ya, ternyata keberadaan pasar kaget lebih identik dengan pasar gelap alias tak resmi tak dijinkan. Bukan saja ketika hari masih gelap sudah membuka lapak, tetapi keberadaannya juga gelap, sembunyi-sembunyi, petak umpet sama petugas ketertiban kota (baca polisi atau wilayatul hisbah). 

Benar adanya pagi ini sekitar pukul 07.00 ketika mereka asyik melayani para pelanggan para pembelinya yang kebanyakan para jamaah haji, datanglah dua mobil patroli dan ketika nampak mendekat saja sudah sangat cepat membubarkan para pedagang dari lapak-lapak mereka. Kebanyakan mereka membalut dagangan dan mengendongnya lari entah ke mana, namun sebagian yang lain tak sempat berkemas merapikan dan mengangkut barang dagangannya, tetapi langsung lari tunggang langgang menyelinap di dalam gedung-gedung atau ke lorong-lorong terdekat, yang penting tidak tertangkap tangan oleh polisi. 

Meski demikian ada juga yang benar-benar ditangkap dan dimasukkan ke mobil polisi. Entah proses apa yang harus dihadapi? Kami belum ada yang mendapat informasi tentang kasus serupa.

Melihat sikap para pedagang yang secepat kilat lari tunggang langgang meninggalkan lapak-lapak mereka, rasanya mereka akan sangat takut terkena hukuman atau denda dan proses yang panjang di ranah hukum yang harus diikuti.

Tetapi anehnya, esoknya mereka akan kembali membuka lapak-lapak dagangannya. Agaknya berjualan meski sembunyi-sembunyi sehingga berisiko menjadi di antara alternatif banyak perantau terutama dari Indonesia atau Bangladesh untuk mengais rezeki. Karena pada umumnya, para "PKL, pedagang kaki lima" ini baik laki-laki maupun perempuan masih dalam kategori usia produktif, bahkan juga ada yang berasal dari kalangan anak-anak. Mungkin hanya untuk sekedar bertahan hidup atau karena tidak ada pilihan lain, ya daripada terjerumus pada pekerjaan yang lebih nista, misalnya ada yang terpaksa atau dipaksa melacurkan diri melayani para hidung belang. 

Semoga semuanya bijak meresponi. Aamiin ya Mujib al-Sailin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama