Kedermawanan

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 26 Zulkaidah 1444

Kedermawanan
Saudaraku, bila kita baca sejarah, maka akan semakin mengerti bahwa orang-orang Arab, bahkan sejak masa jahiliyah masyhur akan sifat kedermawanannya. Mereka senang berbagi dengan sesamanya. Kebiasaan menjamu tamunya dengan makanan apapun yang dimilikinya, hatta itu satu-satunya sudah amat makruf. Betapa kedermawanan ini mendarah daging di masyarakat Arab, yang kemudian menjadi di antara nilai religiusitas Islam yang amat digalakkan. Maka hingga kini, sifat kedermawanan selalu aktual dalam kehidupan keseharian orang-orang Arab, apalagi di haramain.

Kini, saban hari saban saat ada saja makanan atau minuman yang dibagi-bagi secara gratis oleh para dermawan. Apalagi pada hari-hari yang lazim umat Islam menunaikan puasa, misalnya hari senin, kamis atau ayyamul bidh (pertengah 13, 14 dan 15 bulan qamariyah). 

Bagi-bagi satu paket berisi minuman, yokurt, kurma, kue khas Arab dan variatif dilakukan di mana-mana, misalnya di pinggir-pinggir jalan yang lazim dilintasi oleh jamaah yang pulang pergi ke Masjid Nabawi atau Masjidil Haram, atau di depan toko/rumah/hotelnya, atau dengan berkeliling di shaf-shaf barisan orang menunggu shalat. Siapapun yang melintas dan atau dilintasi oleh para dermawan akan memperoleh bagian yang sama. Oleh karenanya tidak ada rebutan, yang ada antri menunggu giliran dan sangat tertib sangat indah. Seandainya tidak sampai ke shaf kita karena paket sudah habis berarti pada saat itu kita belum rezeki, mungkin lain kali. Dan hebatnya, kitapun kadang dikasih bagian oleh jamaah yang seharusnya bagian itu untuknya.

Dalam praktiknya pembagian makanan dan minunan atau paket ifthar untuk buka puasa diberikan oleh para dermawan yang amat ramah. Ada yabg mengerahkan beberapa pegawainya untuk mengatur dan membagikan paket kepada siapa saja, tanpa ada pembedaan apapun. Bila beruntung kita bisa menikmati apapun makanan dan minuman yang dibagikan, ya lebih dari cukup untuk bekal selama di masjid atau untuk dibawa pulang ke hotel.

Sifat kedermawanan orang-orang Arab bukan kepada sesamanya saja, tetapi juga pada hewan piaraan, kucing atau burung. Di pelataran luas, baik di Masjid Nabawi Madinah maupun Masjidil Haram Makkah ribuan burung merpati mengerubuti siapapun yang menabur biji-bijian makanannya. 

Kita atau siapa saja boleh bersedekah pada burung-burung merpati tersebut dengan cara membeli biji-bijian makanannya yang dijajakan oleh seseorang di seputar keberadaan burung-burung tersebut.

Dan hebatnya, di waktu-waktu menjelang shalat fardhu ditunaikan, halaman yang luas itu sudah bersih secepat kilat dibersihkan oleh petugas yang siap siaga lalu dibentangkan permadani untuk shalat para jamaah.

Ilustrasi sifat kedermawanan tersebut baru pragmen kecil dari kedermawanan yang sesungguhnya di kehidupan praksis. Semoga hati kita terbuka untuk sebuah nilai religiusitas yang semestinya terjaga. Aamiin ya Mujib al-Sailin



Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama