Ikhtiar untuk Layak

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 27 Zulkaidah 1444

Ikhtiar untuk Layak
Saudaraku, dalam iman Islam, selama pelaksanaan ibadah haji di tanah suci, apalagi di tempat-tempat mustajabah, shalat atau berdoa merupakan amalan prioritas jamaah. Setidaknya terdapat delapan tempat mustajabah doa di tanah suci, yaitu.

Pertama, multazam. Tentu tidak mudah mencapai ke tempat yang mustajabah doa ini. Karena tempatnya di antara hajar aswad atau rukun Aswadi dan pintu ka'bah yang saban saat padat berjubel jamaah berebut meraihnya. Hanya saat shalat fardhu ditunaikan jamaah tak memeluk menciuminya, tetapi sehabis salam, jamaah langsung berhambur untuk memeluk dan menciuminya kembali, seraya berdoa bahkan ada yang sampai menangis tersedu.

Kedua, hijir Ismail. Tempatnya berada di antara tiang atau rukun Iraqy dan Syami di bawah pancuran (berwarna) emas, berpagar setengah lingkaran sebahu. Kita bisa berdoa di pinggir pagar syukur-syukur setentang di bawah pancuran emas tersebut. 

Ketiga, rukun Yamani. Karena Ka'bah berbentuk kubus, maka ada 4 tiang atau rukun. Setelah rukun Aswadi, Iraqy dan Syami adalah rukun Yamani. Biasanya saat thawaf pas setentang di rukun yamani ini kita melambaikan tangan lalu kiss by dan berdoa sapu jagat sampai setentang rukun Aswady, berarti satu putaran sudah selesai, lalu masuk ke putaran berikutnya.

Keempat, di dalam Ka'bah atau di dalam hijir Ismail. Rasullah saw pernah membawa Aisyah ra ke Hijir Ismail saat Aisyah meminta izin shalat di dalam Ka'bah. Saat itu, Rasullah saw bersabda, “shalatlah di sini kalau ingin shalat di dalam Ka'bah, karena ini termasuk bagian dari Ka'bah”. 

Kelima, tempat yang kita lintasi saat sa'i antara Shafa dan Marwah. Di sepanjang perjalanan sa'i kita bisa memanjatkan doa apa saja pada Allah, tentu juga termasuk saat sampai di bukit Shafa atau Marwah.

Keenam, di belakang Makam Ibrahim. Sesudah melaksanakan thawaf tujuh putaran dan berdoa sejenak di Multazam, umat Islam disunatkan shalat di belakang makam Ibrahim. Makam Ibrahim sendiri lokasinya masih di dekat Ka’bah, tidak jauh dari Multazam. Di tempat mustajabah ini kita bisa berdoa apa saja 

Ketujuh, Muzdalifah dan Mina. Muzdalifah, kawasan antara Mina dan Arafah. Lokasinya sekitar 10 km dari Makkah. Muzdalifah panjangnya kurang dari 4 km, berada pada satu wilayah sempit antara dua gunung yang berdekatan setelah Arafah. Adapun Mina, kawasan berbukit panjangnya 3-5 km, letaknya antara Mekah dan Muzdalifah. Jaraknya dari Mekah sekitar 7 km. Di Mina terdapat jamarat. Selama berada di Muzdalifah dan Mina kita bisa berdoa apapun yang kita mau.

Kedelapan, Raudhah di Masjid Nabawi Madinah. Dari Abdullah bin Zaid Al-Mazini, ia berkata, Rasulullah saw bersabda: Tempat di antara rumahku (makam) dan mimbarku ini adalah Raudhah (kebun) di antara beberapa kebun surga. (HR. Bukhari)

Setelah berhasil meraih tempat-tempat mustajabah tersebut tentu kita akan berdoa sepuasnya, bahkan juga sebanyak-banyaknya, baik doa untuk diri sendiri maupun orang lain yang sudah wafat atau yang masih hidup seperti untuk istri/suami orangtua, anak-anak, (calon menantu), saudara dan sesamanya, kampung halaman, institusi tempat kita bekerja. Nah, di sini kita sebaiknya introspeksi sudah seberapa doa yang kita mohonkan pada Allah untuk diri sendiri berbanding dengan doa untuk orang lain. Doa untuk diri sendiri itu dalam hal apa saja dan untuk orang lain itu dalam hal kebaikan apa saja.

Kalau doa kebaikan untuk orang lain atau untuk institusi kita bekerja atau untuk negeri orang Islam ya sudahlah kita pasrahkan saja pada Allah untuk mengabulkannya, tetapi doa untuk diri kita sendiri itu apakah sudah dibarengi dengan ikhtiar untuk menjadi layak sesuai permintaan yang kita sampaikan.

Misalnya kita lazim berdoa "sapu jagat" Rabbana, atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, waqina adzabannar. Artinya: Tuhan kami, berikan kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat. Lindungilah kami dari siksa neraka.

Nah, bila sudah berdoa, apakah kita lalu diam dan pasrah begitu saja? Tentu, tidak bukan. Akan tetapi kita musti berikhtiar untuk meniti jalannya apapun itu agar keinginan kita diijabah oleh Allah, sampai benar-benar kita merasakannya. Maka muhasabahnya apakah diri kita sudah memantaskan diri untuk menjadi layak bahagia di dunia?, apakah kita sudah meniti jalan untuk bahagia di dunia? apakah diri kita sudah memantaskan diri untuk layak bahagia di akhirat? apakah kita sudah mengikuti jalan untuk bahagia di akhirat, apakah diri kita sudah berikhtiar memantaskan diri untuk terbebas dari api neraka? apakah kita sudah berikhtiar menjauhi apapun yang berpotensi menjerumuskan diri ke jurang kenestapaan.

Begitu seterusnya, kita berdoa dan berikhtiar untuk layak Allah mengijabahinya. Semoga semua doa kita diijabah oleh Allah ta'ala. Aamiin ya Mujib al-Sailin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama