Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 28 Zulkaidah 1444
Ambulan
Menyeruak dalam Kesibukan
Saudaraku, Armuzna atau singkatan Arafah, Muzdalifah dan Mina, sebagai rangkaian puncak ibadah haji memang masih beberapa hari lagi. Namun kesibukan di Makkah sudah sangat terasa. Jalan-jalan mulai padat merayap, hotel-hotel di sekitar Masjidil Haram tak tersisa, semuanya penuh sesak, apalagi Masjidil Haram.
Melalui tayangan langsung via saluran televisi Kingdom of Saudi Arabia, Masjidil Haram padat merayap, jamaah sedang thawaf dan sa''i. Jamaah lain ada yang sedang iktikaf, shalat, membaca Qur'an, dzikir berdoa di semua area yang tersedia hampir tak ada space yang kosong dari jamaah. Subhanallah
Di sela-sela kesibukan Makkah yang hampir klimak juga diwarnai hilir mudiknya ambulan yang menyalakan lampu khasnya meski tidak membunyikan sirenenya sudah lebih dari cukup pertanda sedang membawa pasien atau jenazah yang baru saja wafat di tanah suci, di Baitullah. Tidak tanggung-tanggung, bukan satu atau dua tetapi puluhan sering beriringan ke arah yang sama mengantar jenazah untuk proses fardhu kifayahnya, pengkhidmatan terakhir kalinya. Bahkan saking banyaknya yang wafat, saya melihat beberapa jenazah diangkut dua-dua dengan masing-masing "kereta kencana terbuka" yang beberapa orang, termasuk keluarga dan atau petugas haji asal negara jamaah mengikuti di sekelilingnya.
Jumat kemarin, saat usai shalat subuh saya dan istri sengaja iktikaf menunggu saat shalat isyraq dan dhuha, terlihat sangat jelas di antara kereta kencana terbuka pembawa jenazah jamaah haji asal Indonesia, karena diikuti oleh keluarga dan petugas haji Indonesia yang mengenakan seragam putih dengan rompi hitam berbendera merah putih di lengan sehingga mudah dikenali. Mereka sambil lari-lari kecil mengikuti kereta terbuka yang membawa jenazah orang-orang yang dicintainya selama ini.
Ya, karena wafat itu hak semua orang, meski haji tahun ini ramah lansia bukan berarti hanya hanya orang yang sudah tua yang meninggal, maka yang ada di kereta jenazah itu bisa jadi orangtuanya, atau suaminya, istrinya atau anaknya atau siapapun yang selama ini mewarnai kehidupan keluarga tercinta.
Dari rumah di kampung halaman di negeri Indonesia nun jauh di sana bersama berniat dan berangkat ke tanah suci untuk menyempurnakan keislamannya, namun sesampai di tanah suci atau saat di rumahNya, Baitullah, Allah berkehendak lain; banyak di antaranya yang berpulang saat tengah shalat, atau saat iktikaf, atau saat istirahat di sela-sela thawaf atau sa'i dalam unrah atau hajinya. Inilah yang barangkali menghibur atau setidaknya membuat hati lega keluarganya yang ditinggalkan. Apalagi kemudian dishalatkan oleh jutaan orang di haramain di Masjidil Haram di Makkah al-Mukaramah juga di Masjid Nabawi Medinah al-Munawarah. Karena setiap saat ada saja yang berpulang ke haribaanNya, maka saban bakda shalat fardhu pasti ditunaikan shalat janazah untuk surga tempat kembalinya.
Kini keluarga yang menyertai ke tanah suci musti ikhlas melepaskan kepulangan salah seorang keluarga tercintanya, dan terus berikhtiar menyelesaikan rangkaian ibadah haji yang masih tersisa. Anggota keluarga yang sudah berpulang ke haribaanNya menjadi di antara warna sejarah keluarganya, wafat di tanah suci, di rumah Allah sendiri. Tentu, kabar duka ini secara berantai secepat kilat sudah dan akan sampai di kampung halaman. Innalillahi wa inna ilaihi raji'un, bahwa si "fulan(nah)" sudah berpulang ke hariaan Ilahi di tanah suci, sehingga surga menjadi tempat kembali. Aamiin ya Mujib al-Sailin
Tags:
Muhasabah Harian