Ibrah Antre

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 21 Zulkaidah 1444

Ibrah Antre
Saudaraku, saat menunaikan ibadah haji, hati kita masing-masing harus benar-benar dijaga. Jangan sampai kotor atau terkotori. Pahala selama dalam rangkaian pelaksanaan ibadah haji kita jangan sampai rusak gara-gara hal-hal yang tidak prinsip, apalagi sepele, misalnya karena adanya antrean, hati sudah grundel, kesel, marah-marah atau bahkan bersikap kueh seolah-olah hotel punya mamaknya sendiri. Sikap mengkapling tempat duduk saat shalat atau saat naik bus, kapling tempat jemuran, kapling lift atau lainnya, sehingga jamaah yang lain tidak bisa memperoleh akses yang sama.

Tinggal bersama ribuan orang tepatnya 5.000 orang di satu hotel dengan 35 tingkat, tentu harus banyak-banyak bersabar, dan memperbanyak istighfar. Secara konkret, kita akan mengalami antrean dalam beberapa aktivitas.

Pertama, antri naik turun di lift. Lift memang sudah tersedia secara cukup, tetapi ada saat-saat yang hampir
 semua orang memerlukannya secara bersamaan. Terutama saat dekat waktu shalat atau setelah selesai shalat, biasanya banyak orang akan berkerumun di seputar pintu lift.

Kedua, antre cuci dan jemur baju. Benar memang, laundry tersedia dan mesin cuci pun ada, tetapi tak sebanding dengan kebutuhan banyaknya jamaah, maka dipastikan ada antrean. Antre nyuci juga antre menjemur baju.

Ketiga, antri menunggu dan naik bus.  5000 jamaah dengan sepuluh bus tentu harus bergantian. Tetapi ada saat-saat yang sama-sama menghajatkan kendaraan, maka antrean dipastikan terjadi, bahkan sering berjubel, sering juga berebut.

Keempat, antre mandi/berwudhuk/buang air baik di hotel maupun Masjid Nabawi dan Masjidil Haram. Karena syahnya shalat bila suci, maka mandi atau berwudhuk sudah menjadi keniscayaan. Artinya setiap orang suatu saat membutuhkan kamar mandi, atau toilet dan atau tempat untuk wudhuk. Ya kamar mandi atau toilet merupakan kebutuhan setiap orang. Di sini juga harus antre.

Keenam, antre beribadah. Saking banyaknya jamaah, maka beribadah mahdhahpun bisa antre, misalnya shalat jamaah di hotel, thawaf, sa'i, tahalul.

Ketujuh, antri tunaikan dam. Sebagaimana diketahui bahwa jamaah Indonesia mengambil haji tamattu', yaitu dengan melaksanakan umrah terlebih dahulu kemudian melaksanakan ibadah haji, maka diwajibkan membayar dam nusuk. Dengan 290.000 jamash asal Indonesia plus dari negara lain, maka bisa dibayangkan di tempat pemotongan hewan betapa padatnya antrean. Oleh karena itu musti melakukan koorfinadi dan negosiasi dengan pemilik hewan, pihak bus dll.

Semoga kita semakin bijak. Aamiin ya Mujib al-Sailin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama