Cinta itu Fokus

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 23 Rabiul Akhir 1444

Cinta itu Fokus
Saudaraku, di samping unik, ikhlas, suci, taat, bahagia, dan sumber energi, maka cinta itu juga musti fokus. Ya fokus itu mengerahkan dan mengarahkan pada sang kekasih. Artinya mengerahkan segala daya upaya dan mengarahkan perhatian pada pencapaiannya. 

Karena fokus itulah, maka orang-orang yang jatuh cinta akan berkurban hatta mengerahkan segala kemampuan yang dimiliki, baik keluarga, harta maupun tahta untuk diarahkan pada keberhasilan cintanya. Dengan berbekal nasab keluarga, seseorang bisa mendapatkan kekasih idamannya. Begitu juga dengan harta dan kekuasaan yang diduduki akan dengan mudah memilih sang kekasih pujaan hatinya.

Segala aral, godaan, tipu muslihat dan anasir yang berpotensi melemahkan dan menghalagi cintanya kepada sang kekasih apalagi memalingkan dari dari fokusnya, akan dihindari juga ditepis dari jalannya.

Begitulah cinta sejati, yang menghajatkan fokus untuk meraih dan merasakannya. Bila dengan sang kekasih di dunia ini bisa dilakukan, apatah lagi cinta kepada Sang Kekasih yang sesungguhnya, yakni cinta pada Allah ta'ala.

Karena sudah sampai pada fokus cintanya kepada Sang Kekasih, maka kurang lengkap rasanya bila tidak merujuk pada kisah cintanya Laila dan Majnun. Dilansir dalam sebuah youtube, Habib Ali Zaenal Abidin Al-Kaff dalam ceramahnya menyampaikan hakikat cinta Qais atau Majnun kepada Layla adalah cinta Allah. Dan Layla Majnun itu sendiri merupakan karya religus abad XII dari Jamaludin Ilyas bin Yusuf bin Zaki atau nama penanya Nizami Ganjavi asal Azerbaijan.

Suatu hari, Qais (Majnun) berjalan di padang pasir. Dalam perjalanannya, ia mendapati beberapa musafir sedang shalat. Ternyata kedatangan di depannya memengaruhi para musafir dengan tergesa menyelesaikan shalatnya. Setelah selesai, mereka bertanya pada Qais, ‘ hai Majnun, mengapa engkau mengganggu shalat kami? Mengapa kau menghalangi kami ketika sedang bermesraan dengan Tuhan kami?’ dengan sangat tenang Majnun menjawab ‘apakah kalian benar-benar sedang shalat? Apakah kalian sungguh-sungguh sedang bercinta dengan Allah?’

Mendengar jawaban ini, para musafir marah dan bertanya ‘apa maksud engkau berbicara seperti itu?’ kemudian Majnun menjawab ‘ketika aku menuju ke rumah Layla, aku tidak melihat apapun juga kecuali Layla., diriku hanya fokus pada jalan menuju rumahnya, sebab yang ada dalam pikiran dan hatiku, hanyalah Layla”.

Kisah Laila Majun itu di antaranya mengajarkan bahwa modal utama dalam beribadah kepada Allah adalah cinta. Ketika kita hendak memperoleh kekhusyu-an dalam shalat maupun ibadah apapun, maka cinta adalah yang utama. Setelah cinta tumbuh dalam hati kita, maka dalam melaksanakan ibadah apapun, kita akan merasakan nikmat. Ibadah akan terasa indah, seindah mencintai kekasih. Semoga. Aamiin ya Mujib al-Sailin


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama