"Cinta" Tahajud

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Ayamul Bidh Rabiul Awal 1444

Cinta Tahajud
Saudaraku, shalat tahajud merupakan di antara sunah Nabi yang sangat digalakkan. Meski relatif berat dalam mengerjakannya apalagi untuk mengistikamahinya, namun sebanding dengan besarnya kemuliaan yang dijanjikan Allah bagi orang-orang yang istikamah merengkuhnya.  

Nah, bagaimana kiat agar kita mencintai shalat tahajud? Jawabannya: seperti halnya kita mencintai seseorang. Setidaknya kita berusaha mengenalinya, mengetahui kelebihannya, memulai mendekatinya (baca mengerjakannya), senantiasa suka menjumpainya (baca istikamah mengerjakannya), insyaallah merasakan manisnya cinta.

Pertama, mengenali shalat tahajud. Disebut shalat tahajud karena shalat sunah ini dikerjakan pada saat setelah bangun tidur di malam hari. Dan untuk ini dalam berbagai riwayat, diutamakan dikerjakan di sepertiga terakhir malam atau pukul 02.00 sd subuh waktu Klaten, 03.00 sd subuh waktu Blang Bintang. Meskipun dapat dikerjakan minimal dua rekaat, namun lazimnya melampaui.

Tentang jumlah rakaatnya, bila merujuk pada jawaban Ummul Mukminin  Aisyah, Nabi menunaikan shalat tahahud 11 rakaat. Dari ‘Aisyah (diriwayatkan bahwa) ketika ia ditanya mengenai shalat Rasulullah saw di bulan Ramadan, Aisyah menjawab: Nabi saw tidak pernah melakukan shalat sunah di bulan Ramadan dan bulan lainnya lebih dari sebelas rakaat. Beliau shalat empat rakaat dan jangan engkau tanya bagaimana bagus dan panjangnya. kemudian beliau shalat lagi empat rakaat, dan jangan engkau tanya bagaimana indah dan panjangnya. Kemudian beliau shalat tiga rakaat” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Di riwayat lain, Nabi juga melakukan shalat iftitah 2 rakaat. Dari Aisyah (diriwayatkan), ia berkata: Adalah Rasulullah saw apabila akan melaksanakan shalat lail, beliau memulai (membuka) shalatnya dengan (shalat) dua rakaat yang ringan-ringan” (HR. Muslim)

Bila mengikuti kedua hadits yang terjemahannya tertera di atas, maka diperoleh formasi bahwa shalat tahajud atau shalat malam 2, 4, 4, 3 (masing-masing sekali salam). Tentu, selain ini juga masih ada riwayat lain sehingga jumlah kali dan rakaatnya melampauinya sesuai dengan kesanggupan seorang hamba.

Kedua, keistimewaannya. Allah berfirman yang artinya Dan pada sebahagian malam hari shalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. (Qs. Al-Isra’ 79)

Nah mencermati normativitas di atas maqama mahmuda atau tempat terpuji diperuntukkan bagi orang-orang mukmin yang sudah istikamah mendirikan shalat fardhu lima kali sehari semalam dan istikamah menyempurnakan keindahannya dengan menghidupkan dini hari di sepertiga malam terakhir dengan serangkaian munajat dalam shalat tahajudnya. Inilah posisi yang amat terpuji.

Bagaimana Allah mengangkat hamba-hambaNya ke maqam terpuji (hamid-ahmad, mahmuda-muhammad)? biarlah dengan kemahamurahanNya, Allah memuliakan siapa saja yang dikehendakiNya dengan jalan yang telah digariskanNya. Kita sepenuhnya hanyalah meyakini titahNya dengan berusaha menjemput karuniaNya. 

Dengan demikian, penunaian shalat tahajud secara istikamah bagi seorang hamba dapat mengantarkan dirinya pada maqama mahmuda, memperoleh pemeringkatan pribadi yang unggul.

Ketiga, dalam rangka memenuhi tuntunan menunaikan tajajud saban hari kita berusaha istikamah menghidupkan sepertiga malam terakhir dengan taqarub ilallah melalui shalat tahajud dan doa-doa.

Keempat, kiat praktis menuju cinta. Agar "bisa dan leluasa" bangun dini hari sebaiknya dimulai bercita-cita dengan azzam yang kuat untuk shalat tahajud kemudian tidur malam lebih awal, misalnya pukul 21.00 waktu Klaten atau 22.00 waktu Blang Bintang. Usai wudhu', saat beranjak akan tidur di peraduan, kita dituntun membaca bismikallahumma ahya wa amuut, dengan asmaMu ya Allah, zat yang menghidupkan dan mewafatkan (hamba). Begitulah tidurnya orang Islam yang insyaallah dalam “pelukan ridha Allah Rabbuna”, dan ketika masih dibangunkan di dini hari, kita juga berdoa alhamdulillahi lladzi ahyana bakda amata wa ilaihi nusur, segala puji bagi Allah yang masih menghidupkan kita setelah sebelumnya mati untuk beberapa saat, dan kita yakin kepada Allah jualah tempat kembali.

Rasa syukur yang telah kita lafalkan sesaat bangun tidur mesti berlanjut dan menghajadkan pembuktian sejak dini hari. Suasana dini hingga pagi yang datang saban hari selalu menyediakan ragam karunia Ilahi. Di samping secara alamiah seperti udara yang masih bersih dari polusi, keheningan suasananya dan kesejukan udaranya, secara insaniyah juga menawarkan kebugaran dan pikiran jernih nan bergairah. Makanya dalam Islam, kita dituntun untuk memanfaatkan keberkahan yang disediakan Allah saat dini hari dengan mensyukurinya.

Dini hari kira-kira menempati sepertiga malam terakhir hingga datangnya waktu subuh yang disebut dalam normativitas di atas, dalam Islam menjadi mulia dan mustajabah karena merupakan saat-saat yang sangat kondusif untuk khusyuk dalam taqarub ilallah, shalat tahajud dan beribadah pada Allah ta’ala.

Dalam sebuah riwayat diceritakan, Masruq ra. mengatakan, bahwa Ia pernah menanyakan kepada Aisyah ra tentang amal ibadah Rasulullah saw. Aisyah menerangkan “Beliau menyukai amal itu dilakukan terus menerus, (ajeg, istiqamah, konsisten)” Kapan Beliau salat malam? Tanya Masruq. “Kalau ayam berkokok, beliau bangun lalu shalat” jawab Aisyah (Hr. Muslim)

Dalam riwayat lain juga disebutkan bahwa waktu mustajab doa dan shalat malam adalah pada sepertiga malam terakhir. Waktu ini sesuai hadits yang diriwayatkan Muslim dari Abu Hurairah ra. Rasulullah saw bersabda yang artinya Allah swt setiap malam turun ke langit dunia yaitu kira-kira sepertiga malam terakhir. Dia berfirman, “Siapa saja yang memohon kepada-Ku, Aku perkenankan. Siapa yang meminta kepada-Ku, Aku beri. Dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku, Aku ampuni” (Hr. Muslim)

Riwayat lain juga menyebutkan bahwa shalat malam dilaksanakan oleh Nabi pada sepertiga malam terakhir. Amr bin Utbah ra berkata bahwa Rasulullah saw bersabda “Saat dimana Allah paling dekat dengan hamba-Nya adalah pada tengah malam terakhir, jika kamu sanggup untuk bangun guna mengingat Allah, hendaklah engkau lakukan” (Hr. Tirmidzi).

Begitulah kita berikhtiar cinta shalat tahajud denga nengistikamahi pemenuhannya. Apalagi ditunaikan di sepertiga malam terakhir setiap harinya menjanjikan keberkahan yang bertambah-tambah. Karena ternyata banyak aktivitas yang bisa dilakukan, sejak dini hari hingga subuh bahkan pagi hari mulai dari berdoa melalui shalat-shalat sunat dan yang disyariatkan (shalat tahajud, shalat fajar, shalat subuh, shalat dhuha), berolahraga pagi, melakukan sanitasi rumah dan lingkungan sekitarnya sampai berangkat ke tempat mencari nafkah. 

Semua aktivitas yang memuliakan ini berlangsung sejuk menyejukkan sebagaimana embun pagi yang menyemangati. Nah, akankah kita meliwatkan begitu saja? akankah kita terjebak pada rutinitas yang kosong dari kehidupan yang bermakna? Bangun tidur, lalu bekerja di siang hari, pulang pada petang hari dan beristirahat di malamnya hingga pagi hari. Kemarin, hari ini, besuk dan seterusnya, rutinitas seperti ini terus berulang dan berulang, sehingga memenuhi seluruh kehidupan sampai tak disadarinya bahkan pada suatu saat nanti janji kembali pada Allah sudah dekat.

Rutinitas kehidupan sering kali membuat banyak orang terlena, apalagi dengan ragam kesibukan dan masalah yang muncul silih berganti dan tanpa henti. Eksistensi diri sering tenggelam dalam gelombang kehidupan sesuai arah angin berhembus.

Yakinlah, hanya orang-orang yang berhati-hati dan waspada saja (baca orang takwa) yang tidak terlena sehingga kehidupan menjadi bermakna. Hatinya selalu terjaga, meski dalam tidur sekalipun. Allah selalu hadir dalam seluruh aktivitas hidupnya.

Di saat bangun di dini hari mengawalinya dengan memanjadkan doa syukur juga dalam shalat-shalatnya, bekerja di siang harinya bernilai ibadah, menghadapi dan menyelesaikan masalah hanya untuk menggapai keridhaanNya, istirahatnya untuk memulihkan tenaga dan memperbaharui semangat ibadahnya. Begitu seterusnya seluruh aktivitasnya punya makna. Inilah kehidupan pribadi yang unggul. Semoga kita termasuk di dalamnya. Aamiin Allahu a’lam

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama