Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3543
Jumat, 29 Syakban 1446
Shalat dan Puasa
Saudaraku, sudah sebulan penuh di bulan Syakban yang kini kita sudah di penghujungnya, halaqah muhasabah telah hadir membersamai keseharian tuan puan dengan mengusung tema shalat mencegah yang haram dan yang makruh. Di antaranya telah diingatkan kembali bahwa shalat mencegah perbuatan dan atau apapun yang keji dan yang mungkar (muhasabah ke-1), seperti mencegah bertutur kata buruk (muhasabah ke-2), berlaku seronoh (muhasabah ke-3), mencegah liwath homoseksual ataupun lesbian (muhasabah ke-4) dan mencegah perzinahan (muhasabah ke-5). Semua ini agar kita beruntung tidak merugi alias buntung.
Adapun dalam hubungannya dengan akhlak sosial, shalat juga mampu mencegah perilaku fitnah memfitnah (muhasabah ke-6), mencegah berlaku dzalim (muhasabah ke-7), bersikap sombong (muhasabah ke-8), dusta alias bohong (muhasabah ke-9) dan berkhianat (muhasabah ke-10) atas kepercayaan yang diterimanya.
Dan dalam ranah akhlak terhadap diri sendiri, shalat juga mencegah sifat iri dengki (muhasabah ke-11), suka pamer atau riya juga sum'ah (muhasabah ke-12), bersikap malas (muhasabah ke-13), frustasi alias putus asa (muhasabah ke-14), berlaku tamak bin serakah (muhasabah ke-15), boros (muhasabah ke-16), hubuddunya alias cinta dunia (muhasabah ke-17), prokrastinasi atau menunda-nunda menyelesaikan tugas (muhasabah ke-18), mengidap stunting split personality atau pribadi yang timpang berat sebelah (muhasabah ke-19), lalai (muhasabah ke-20), dan mencegah terjebsk dalam lagha (muhasabah ke-21).
Oleh karenanya, mengapa setiap pribadi muslim musti berikhtiar untuk berislam secara kaffah yang rahmatan lil 'alamin, dan melalui shalat dapat terhindar dari kelemahan diri (muhasabah ke-22), kemalangan akibat keteledoran internal (muhasabah ke-23), tindak pencurian (muhasabah ke-24), korupsi (muhasabah ke-25), perjudian (muhasabah ke-26), mengonsumsi khamar (muhasabah ke-27), dan terlibat madat (muhasabah ke-28).
Dan tentu masih banyak lagi diskripsi yang bisa menegaskan bahwa shalat mampu mencegah apapun perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sedangkan ibadah puasa yang esok hari akan kita tunaikan idealnya menjadi energi positif bagi kita untuk mampu mencegah - baca menahan atau mengendalikan diri - dari hal-hal mubah yang pada dasarnya boleh. Hal ini dapat dibaca pada muhasabah ke-29 hari ini, yakni shalat dan puasa. Jadi yang harus digarisbawahi bahwa persoalan yang dilarang baik yang makruh makruh maupun apalagi yang haram haram sudah harus selesai dengan shalat. Sedangkan yang mubah mubah kini harus dapat kita tahan (baca kendalikan).
Itulah setidaknya natijah yang tersurat dalam definisi puasa. Sebagaimana lazimnya puasa dipahami sebagai ikhtiar menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkannya dari terbit fajar hingga terbenam matahari dengan niat beribadah pada Allah.
Nah, bukankah saat berpuasa, kita dilarang makan dan minum, padahal selama ini ketika tidak berpuasa, makan minum itu merupakan perbuatan mubah yang boleh dilakukan kapan saja, di mana saja dan dengan siapa saja. Begitu juga berhubungan suami istri bagi pasutri, bukankah itu mubah dilakukan saat tidak berpuasa, tapi dilarang saat berpuasa. Dari sini, agaknya boleh disimpulkan bahwa banyak yang mubah-mubah sebagai hukum asalnya tetapi musti dapat ditahan (baca dikendalikan atau dimanage). Mengapa?
Ya, karena meskipun mubah, bila tidak dikendalikan bila dilepas tanpa kontrol, maka bisa berakibat buruk, baik kehidupan diri, keluarga maupun sesamanya. Nah selama Ramadhan ke depan, insyaallah halaqah muhasabah akan membersamai keseharian shaimin shaimat tuan puan tentang tema ini. Semoga ibadah Ramadhan 1446 yang esok kita mulai menjadi ladang amal bagi kita, panen pahala bagi semua, media meningkatkan produktivitas dan sarana yang mensyurgakan (baca membahagiakan) kehidupan diri, keluarga dan sesamanya. Untuk itu kita buka hati kita lebih lebar dan luas lagi untuk menampungi segala rasa, agar bisa saling memaafkan dan mampu merasakan manisnya iman lebih dahsyat lagi. Teriring doa dan rasa takdhim, Lontuan Sri Suyanta dan segenap keluarga menghaturkan marhaban ya Ramadhan, seraya memohon maaf lahir tumusing batin. Aamiin
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3543