Cinta Sunah: Wewangian

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 27 Rabiul Awal 1444

Cinta Sunah: Wewangian
Saudaraku, saking pedulinya terhadap kenyamanan saat beribadah terutama shalat dan kenyamanan saat bersama antar sesama, Islam menuntun agar kita umatnya menjaga kesehatan, kebugaran, kebersihan dan keindahan diri. Bahkan perhatiannya bukan terfokus pada aspek phikhis saja tetapi juga fisik lahiriyah.

Secara lahiriah, setelah bersuci, bersih diri, dan berhias, akhlak sosial Islam juga menuntun kita agar gemar menggunakan parfum sehingga semerbak wangi. Terlebih lagi pada hari jumat, atau saat mau pergi shalat jumat. Nabi bersabda yang artinya: Hari ini (Jumat) adalah hari raya yang dijadikan Allah swt untuk umat Islam. Siapa yang ingin melaksanakan shalat Jumat, hendaklah mandi, memakai wangi-wangian kalau ada, dan menggosok gigi (siwak). (HR Ibnu Majah).

Ya, kita dianjurkan menggunakan wewangian saat berhari raya, saat berjumatan, atau saat akan menunaikan shalat. Artinya dalam kesehariannya, orang-orang Islam dituntun tampil menawan, suci dalam keadaan memiliki air wudhu, bersih dan memakai parfum sehingga terhindar dari bau badan yang tak sedap, bau mulut, bau luka-luka, bau rambut dan pakaian yang apek.

Bila saat ke masjid atau saat hendah shalat sudah semerbak wangi, maka saat berinteraksi antar sesamanyapun wewangian masih melekat pada dirinya. Diriwayatkan dari Aisyah RA, berkata: "Aku memakaikan Rasulullah SAW dengan minyak wangi terbaik yang Beliau dapati, sehingga aku dapatkan bekas wangi di rambut dan jenggotnya," (HR. Bukhari). Dan diriwayatkan dari Tsabit, Anas berkata tidak pernah aku mencium aroma parfum ambar, misik, dan parfum yang lebih harum daripada keringat Nabi. Dan aku tidak pernah menyentuh sutra yang lebih lembut daripada menyentuh Rasulullah. (HR. Muslim).

Parfum atau wewangian yang lazim digunakan kemudian  melekat pada seluruh badan sehingga menjadi salah satu di antara identitas lahiriyah seseorang. Dalam riwayat di atas diceritakan betapa wanginya tubuh Nabi, bukan karena wewangian yang sering digunakannya saja, tetapi juga wangi karena akhlaq al-karimah diri Nabi.

Demikian juga halnya aroma wewangian yang digunakan oleh orangtua kita, istri/suami kita dan atau anak dan cucu kita. Bukankah kita sering masuk ke kanar dan menciumi pakaian ayah atau ibu atau anak kita sekedar melepas rindu untuk menghadirkan mereka yang kita cintai itu dalam ingatan dan pengalaman kita. Apalagi saat orang-orang yang kita cintai itu secara fisik sudah jauh dari jangkauan kita, baik karena di perantauan sedang pendidikan atau memenuhi amanah maupun karena sudah berpulang ke haribaan Allah ta'ala.

Begitulah aroma wewangian menjadi identitas seseorang, yang bisa mendatangkan rasa bahagia bujan saja diri sendiri tetapi juga sesamanya. Semoga aroma semerbak wangi bukan karena parfum yang kita gunakan saja, tetapi juga karena akhlaq al-karimah yang senantiasa terjaga. Aamiin ya Mujib al-Sailin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama