Muhasabah 28 Rabiul Awal 1444
Cinta Sunah: Siwak
Saudaraku, berkah rasanya hidup ini bila kita dianugrahi hati suci, akal cemerlang, dan fisik sehat, bugar, bersih, rapi juga rupawan. Begitupun kita masih juga dianugrahi pasangan yang taat beribadah, anak-anak yang shalih shalihah, amanah pekerjaan relevan yang kesemuanya menghantarkan kita pada rasa syukur ke haribaan Ilahi Rabby. Mengapa keberkahan senantiasa tercurah kepada kita hamba-hambaNya?
Ya, di antaranya karena kecintaan Allah sangat besar kepada kita meski kecintaan kita kepadaNya masih di ujung kuku, dan kecintaan kita kepada rasulNya, Nabi Muhammad saw meski masih tak seberapa. Tapi yang tak seberapa ini kita uri-uri, kita istiqamahi, kita tambahi sedikit demi sedikit sekemampuan diri. Hal ini terefleksi dalam ketaatan kita kepada syariatNya, dan ikhtiar kita mencintai sunah baginda Nabi.
Nah, hari-hari dalam bulan ini tema muhasabah telah mengingati diri untuk terus berproses memupuk menambahi rasa cinta kita pada Allah, cinta kita pada Nabi meski ada yang bermula dari cinta kita pada diri sendiri seperti muhasabah akhir-akhir ini tentang bersih diri, berhias diri dan mengenakan wewangian. Nah, bagian dari bersih diri yang tidak boleh diacuhkan sama sekali adalah menggosok atau menyikat gigi. Dalam term sunah Nabi, menggosok atau menyikat gigi dikenal dengan siwak.
Sejak bangun tidur di dini hari, stlah minum air hangat, kita dianjurkan untuk berkemas sesuci diri termasuk juga siwak atau menggosok gigi sebelum qiyamul lail. Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu menceritakan, bahwa Rasulullah saw ketika bangun tidur di malam hari, beliau gosok gigi. (Muttafaq ‘alaih). Dan dalam riwayst lain Nabi bersabda “Andai tidak memberatkan umatku, aku akan perintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali hendak shalat.” (HR. Bukhari 887, Ahmad 7339)
Di samping hendak shalat, siwak atau gosok gigi juga penting dilakukan ketika hendak masuk rumah (setelah bebergian), karena akan ketemu istri dan keluarga. Aisyah ra bercerita, Apabila Nabi hendak masuk rumahnya, pertama kali yang beliau lakukan adalah menggosok gigi. (HR. Ahmad 25553 dan Muslim 614).
Saat-saat hendak membaca al-Qur'an, atau saat hendak berbicara kepada sesamanya, apalagi di saat mulut sudah terasa tidak nyaman karena aroma yang tak sedap, maka siwak atau menggosok gigi musti diagendakan.
Intinya saat-saat yang menghajatkan siwak dapat kita penuhi niscaya kenyamanan beribadah dan kenyamanan saat bersama berinteraksi dengan sesama tak akan terganggu oleh aroma yang tak sedap dari mulut kita. Bila secara fisik lahiriyah dari mulut kita sudah terjaga dari aroma tak sedap, maka tentu, secara substantif terlebih lagi. Dengan demikian apapun yang keluar dari mulut atau lisan kita hanya sesuatu yang baik dan kalimat hikmah yang bermanfaat baik bagi diri maupun sesamanya. Semoga. Aamiin ya Mujib al-Sailin
Tags:
Muhasabah Harian