Cinta Sunah: Berhias

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 26 Rabiul Awal 1444

Cinta Sunah: Berhias
Saudaraku, di samping bersih diri, dalam akhlak sosial menghendaki setiap orang terutama saat berinteraksi bersosialisasi dengan pasangannya di rumah tangganya dan atau di sektor publik mustinya juga berhias diri. Inikah latat sehingga muhasabah hari diracik di bawah judul cinta sunah (itu di antaranya dengan) berhias.

Berhias dalam Islam dipahami sebagai ikhtiar untuk memperindah diri secara wajar dan bersahaja, baik dengan pakaian maupun asesoris lainnya. Berhias diri menjadi sunah, sepanjang untuk tujuan ibadah atau kebaikan dan tentu bukan untuk riya atau menyombongkan diri. Maka makna substantifnya, berhias itu dimaksudkan sebagai ikhtiar memperindah diri dengan akhlak al-karimah yang hukumnya malah menjadi wajib.

Berhias diri menjadi sunah Nabi, bahkan ketika hendak shalat (ke masjid), Allah mengingatkan kita melalui firmanNya, yang artinya, Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan,”. Katakanlah (Muhammad), ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah disediakan untuk hamba-hamba-Nya dan rezeki yang baik-baik? Katakanlah, ‘Semua itu untuk orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, dan khusus (untuk mereka saja) pada Hari Kiamat’. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu untuk orang yang mengetahui,”. (Qs. Al-A'raf 31-32)

Ya, setelah bersih diri, lazimnya umat Islam berhias diri yang dilakukan dengan mengenakan busana yang indah dan asesoris lainnya. Busana indah, tentu, bukan harus mahal, tidak musti impor dan tidak harus glamour, tetapi busana dan asesoris yang sesuai dengan dirinya, ya coraknya, ya warnanya, ya modelnya, ya desainnya....sampai harganya. Yang paling penting pakaian itu musti bersih dan suci dari hadas. Islam juga menuntun saat akan mengenakan pakaian musti diawali dengan berdoa, mendahulukan anggota badan yang kanan dan saat melepaskannya mendahulukan yang kiri.

Di samping itu, untuk memperindah diri juga ada yang mengenakan tambahan asesoris lainnya seperti pernak pernik yang ditempelkan dan juga make up (terutama bagi perempuan) sehingga lebih simpatik. Hal ini tentu diizinkan, yang penting bersahaja dan tidak norak, tidak mencolok dan tidak berlebihan, serta diniatkan untuk ibadah. Bahkan substansi berhias yakni dengan akhlaq al-karimah mustinya lebih diprioritaskan. Jadi bukan lahiriyahnya yang elok tetapi terlebih lagi akhlaknya; bukan hanya fisiknya yang rupawan tetapi juga hati dan perilakunya yang mempesona Inilah tuntunan Islam, inilah akhlak dalam Islam.

Dengan demikian akhlak dalam Islam menuntun umatnya untuk berlaku baik pada diri sendiri, pada sesama manusia, dan pada lingkungan sekitarnya dan muaranya pada Allah ta'ala. Nah empat arah ini menjadi nilai + (tambah) bila diindahkan. Dalam beberapa muhasabah terakhir, kita sudah diingatkan tentang cinta diri sekaligus cinta sesama dan cinta sunah (Rasul) dan muaranya cinta Allah. Bagaimana logikanya? 

Ya, karena kecintaan terhadap diri merefleksi pada bersih dan peduli diri yang dengannya sekaligus membuat nyaman dan aman saat berinteaksi dengan sesamanya. Dan kepedulian terhadap diri juga merupakan sunah Nabi, dan ketika diindahkan maka pertanda cinta sunah, cinta rasul. Cinta rasul muaranya pada cinta Allah. Aamiin ya Mujib al-Sailin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama