Muhasabah 29 Rabiul Awal 1444
Cinta Sunah itu Berkah
Saudaraku, mengapa di bulan mulia Rabiul Awal ini halaqah muhasabah cenderung fokus mengingatkan kita pada cinta sunah, cinta Rasul? Ya, di samping sebagai bulan yang lazimnya diperingati maulid nabi, tetapi juga untuk menegaskan bahwa inti dari maulid nabi itu sendiri justru mencintai sunahnya; nguri-uri melestarikan mengindahkan sunahnya; dan meneladaninya.
Apalagi dengan mencintai sunahnya, kita memperoleh curahan keberkahan dari Allah Rabbuna. Bila merujuk pada pendapat Ibnu ‘Atha’, ia mengatakan bahwa sesiapa yang mewajibkan atau mengistikamahi dirinya dengan mengerjakan amalan sunah maka Allah akan menerangi hatinya dengan cahaya makrifat, ilmu pengetahuan yang sebenarnya. Dan tidak ada kedudukan yang lebih mulia daripada mengikuti Sang Kekasih, meneladani Nabi Muhammad saw dalam berbagai amar, perintah, perbuatan, dan akhlaknya.’.” (Madârijus Sâlikîn II/644).
Dan Ibnul Qayim menjelaskan bahwa sesiapa yang "mewajibkan" dirinya atau "memaksakan" dirinya berkomitmen dengan amalan-amalan sunah yang dicontohkan Rasulullah saw maka Allah akan menganugerahkan kepadanya cahaya makrifat, rahmat, manisnya hidup, kehormatan, dan kedudukan yang mulia yang tidak diraih orang lain. Selain itu, mengikuti sunah Nabi Muhammad saw juga akan memberikan “buah yang manis”, di antaranya mencapai tingkatan cinta mahabbah dari Allah, meraih ma’iyyah atau kebersamaan Allah, serta pengabulan doa.
Rasanya dengan keberkahan seperti itu, cukuplah menjadi hujjah bagi kita untuk memulai meneladani Nabi, mengistikami dalam mengamalkan sunahnya. Dan halaqah muhasabah ini menjadi alarm, pengingat agar kita segera berbenah. Makanya dalam muhasabah ke-1 di awal bulan ini juga telah diingatkan bahwa muara segala cinta adalah cinta pada Allah. Cinta pada Allah berarti cinta terhadap agamaNya, yakni al-Islam sebagaimana diingatkan muhasabah ke-2. Cinta Islam mustinya juga cinta al-Qur'an sebagai simber ajarannya (muhasabah ke-3), dan cinta al-Qur'an mustinya juga cinta terhadap syariat (muhasabah ke-4) dan cinta adat meski harus secara proporsional (muhasabah ke-6)
Hal itu semua bisa mewujud ketika dilandasi dengan cinta iman (muhasabah ke-5), termasuk cinta akhirat (muhasabah ke-7), dan dipraktikkan dalam kecintaan terhadap ibadah (muhasabah ke-8) dan utamanya shalat (muhasabah ke-9).
Itulah ilustrasi dan bujti cita pada Allah. Dan cinta Allah tentu juga harus merefleksi pada kecintaannya pada Rasulullah saw (muhasabah ke-10). Dan kecintaan pada Rasulullah tentu harus mewujud dalam cintanya terhadap sunah-sunahnya (muhasabah ke-11), cinta terhadap risalah yang diembannya (muhasabah ke-12).
Nah, di antara cinta terhadap sunah Nabi yang sebaiknya dikukuhkan dalam kehidupan sehari-hari adalah gemar bertahajud di sepertiga akhir setiap malam (muhasabah ke-13), membiasakan puasa ayyamul bidh, tanggal 13, 14, 15 setisp bulan qamariah (muhasabah ke-14), selalu dalam kondisi suci yakni memiliki air wudhu' (muhasabah ke-15), mendawamkan shalat dhuha (muhasabah ke-16), berdzikir usai shalat dan saat pagi dan petang (muhasabah ke-17), bersedekah (muhasabah ke-18), gemar tilawah al-Qur'an (muhasabah ke-19), bila bersua saudara saling memberi salam (muhasabah ke-20), berbagi senyum (muhasabah ke-21), berjabatangan atau bersalaman (muhasabah ke-22), dan bertutur terukur hanya yang mengandung hikmah dan tak menyakiti sesamanya (muhasabah ke-23).
Bahkan untuk kepentingan ibadah baik secara vertikal dengan Allah (ibadah mahdhah) dan horisontal dengan sesamanya (ibadah sosial), akhlak dalam Islam menuntun agar kita gemar bersuci terutama mandi (muhasabah ke-24), memastikan kebersihan diri (muhasabah ke-25), berhias secara wajar proporsional (muhasabah ke-26), memakai wewangian (muhasabah ke-27), mdlazimkan siwak atau memastikan gigi, mulut kita bersih (muhasabah ke-28) dan keberadaan kita membawa kebermanfaatan.
Dan tentu masih terdapat banyak sekali sunah Nabi yang sebaiknya dikukuhkan dalam kehudupan sehari-hari sampai buah kecintaan terhadap sunah dapat dirasakan membahagia dalam hidup ini dan apalagi di akhirat nanti (muhasabah ke-29). Semoga kita dianugrahi kemampuan untuk senantiasa mencintai Nabi dan meneladani akhlaknya. Aamiin ya Mujib al-Sailin.
Tags:
Muhasabah Harian